Mereka Yang Menginginkan Tubuhku

Mereka Yang Menginginkan Tubuhku
Siapa yang Bernyanyi?


__ADS_3

Dua hari berlalu, aku dan mas Anwar pamit pulang. Karna besok kita harus kembali bekerja. Mas Anwar memberikan uang pada ibu, sebagai 'jatah bulanan'.


"Gak usah repot-repot nak." Tapi tangan ibu siap menerima uang yang diberikan mas Anwar.


"Nggak repot bu. Oh ya.. bapak mana?"


"Bapak di bengkel."


"Kalau begitu Anwar sama Aish pulang dulu, nanti kita mampir sebentar ke bengkel." Ucap mas Anwar sambil mencium tangan ibu.


"Ayo mas, keburu sore. Gak perlu mampir ke bengkel."


"Sebentar." Goda mas Anwar tersenyum tipis.


"Maaass..."


***


Setelah dua jam perjalanan, akhirnya sampai juga di rumah. Sementara mas Anwar memarkirkan mobil, aku bergegas masuk ke rumah dan langsung mandi.

__ADS_1


Selang beberapa menit, terdengar suara mas Anwar bernyanyi. Ya.. ms Anwar sering bernyanyi walaupun suaranya nggak enak untuk didengar. Tapi kali ini mas Anwar bernyanyi dengan suara lirih dan sendu.


"Tumben mas nyanyinya kuraaa...ngg..." Kataku terpotong, karna ternyata mas Anwar gak ada di kamar.


"Mie instantnya kamu umpetin lagi ya?" Teriak mas Anwar dari luar kamar.


Setelah berpakaian, aku langsung keluar mencari mas Anwar. Ternyata mas Anwar ada di dapur, sibuk membuka rak mencari mie instant.


"Mas tadi ke kamar gak?" Tanyaku


"Mas lapar, jadi dari tadi mas nyari mie tapi gak ketemu. Belum masuk ke kamar."


"Kenapa?"


"Gak apa-apa mas. Mie instantnya ada di rak yang itu."


Sampai saat ini, meski sering mengalami hal seperti ini, aku masih belum terbiasa membedakan antara yang nyata atau nggak nyata. Terkadang aku merasa takut, merasa risih dan seringnya mas Anwar yang selalu ada untuk menghiburku.


Aku selalu bersyukur, ada mas Anwar di sampingku, dia yang menerima kekuranganku dan menerima aku apa adanya. Meskipun bisa dikatakan sebelum pernikahan kami banyak sekali cobaan dan rintangannya.

__ADS_1


Mas Anwar adalah teman kak Andi, aku juga sering bermain dengannya. Tapi semenjak orang tua mas Anwar pindah tugas, aku gak pernah lagi bertemu dengan mas Anwar.


Namun saat masuk SMA, aku bertemu lagi dengan mas Anwar. Meskipun kami gak saling mengenal satu sama lain. Aku sering sekali melirik-lirik mas Anwar, karena aku merasa mengenalnya. Tapi mas Anwar cuek, sama sekali gak ada senyumnya. Jadi aku berpikir orang itu bukan mas Anwar. Ini hanya berlangsung selama setahun, karena saat aku naik ke kelas dua, mas Anwar lulus dan melanjutkan kuliah diluar kota.


***


Lima tahun yang lalu.


"Assalamualaikum kak, ada apa? Kakak gak lihat jam ya atau jam di rumah hilang? Ini udah jam sebelas malam kak, Aish ngantuk besok ada kuis." Tanyaku mengangkat telepon.


"Waalaikumsalam, kebiasaan ya kalau angkat telepon suka nyerocos. Kalau kamu dengar apa yang anak kakak bilang, kakak yakin kamu gak bakal ngantuk lagi."


Kemudian kak Andi menceritakan bahwa sore tadi ada tamu yang datang untuk meminangku. Sebelumnya aku terkejut, gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba ada orang datang melamar. Namun kak Andi akhirnya menceritakan kalau yang datang adalah pak Lasmana dan keluarganya, ya mereka adalah keluarganya mas Anwar. Memang, sebelum ayah meninggal, ayah pernah bertanya padaku, kapan aku siap untuk menikah. Ayah merasa takut, kalau sampai saatnya, ayah nggak bisa ada untuk menjadi wali nikah. Ayah juga bertanya perihal menikah dengan mas Anwar. Awalnya aku berpikir ini hanya candaan ayah yang menggoda putrinya, tapi ga berselang lama ayah pergi untuk selamanya.


"Kak Andi kenapa baru bilang sekarang?" Tanyaku dengan nada penasaran.


"Kakak pikir ibu tadi sudah telepon kamu, waktu kakak tanya, ibu bilang belum. Awalnya ibu menolak pinangan pak Lasmana, karna kamu masih kuliah. Tapi pak Lasmana bilang gak keberatan, karna Anwar juga masih kerja di luar kota."


"Mas Anwarnya gak datang kak?"

__ADS_1


"Kakak tahu dulu kamu pernah suka sama Anwar, jadi kebetulan kan? Mungkin Anwar memang jodohmu. Terus juga, feeling orang tua gak pernah salah."


__ADS_2