Mereka Yang Menginginkan Tubuhku

Mereka Yang Menginginkan Tubuhku
Mimpi Setelah Istikhoroh


__ADS_3

Mendengar aku teisak mas Anwar bangun dari tidurnya.


"Aish sayang." Panggil mas Anwar.


Aku tetap tidak mengindahkan panggilannya.


"Sayang." Mas Anwar menarikku dengan meraih wajahku yang terus saja tertunduk.


"Lihat mas."


Aku tidak tahu bagaimana rupa wajahku sekarang karena terus saja mengeluarkan air mata. Mas Anwar menghapus air mataku dengan jarinya.


"Mas gak apa-apa sayang. Terima kasih karena sudah khawatir. Ini alasan kenapa mas sampai tak mengatakan apapun semalam."


"Tapi tetap saja mas..." Aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku.


Mas Anwar memelukku, mencoba menenangkanku.


"Dari dulu mas selalu seperti ini, setiap ada apa-apa pada mas. Mas tidak pernah memberitahuku."


***


Sebelum aku menikah dengan mas Anwar, kak Andi menyarankan aku sholat istikhoroh untuk meyakinkan hatiku dalam mengambil keputusan.

__ADS_1


Selama dua minggu, setiap dua atau tiga hari sekali aku melaksanakan sholat istikhoroh.


Setelah sholat istikhoroh yang ke dua, aku bermimpi bertemu dengan mas Anwar. Dalam mimpiku dia mendorong motornya dengan sedikit pincang.


"Mas Anwar kenapa?"


"Tadi mas kecelakaan, tapi sungguh mas gak apa-apa. Hanya ini..." Mas Anwar menunjukan satu gigi depannya patah.


Terkejut melihat keadaan mas Anwar, membuat aku terbangun dari mimpiku. Adzan shubuh berkimandang. Aku yang masih mengenakan mukena, bisa-bisanya tertidur di atas sejadah. Karena tertidur, aku kembali mengambil air wudhu.


Sebelum melaksanakan sholat shubuh, handphoneku berdering.


"Hallo. Assalamualaikum, kak. Ada apa?"


"Tahu apa kak?"


"Anwar kecelakaan."


Deg. Kakiku lemas tidak bertenaga, tubuhku terkulai di atas kasur.


"Hallo. Aish. Aishwa."


"Ah iya kak. Lalu sekarang bagaimana kondisi mas Anwar?"

__ADS_1


"Kakak juga belum tahu pasti. Tapi bu Agni tadi sempat mengatakan kalau salah satu gigi depannya patah."


Deg. Deg. Deg. Jantungku berpacu seperti sedang balapan.


"Bisa-bisanya dia baru sekarang menghubungi keluarganya, padahal kecelakaannya kemarin sore."


Tidak terasa air mataku meleleh, mendengar apa yang terjadi persis seperti mimpiku.


"Aish kamu kenapa menangis. Kamu gak apa-apa?" Kak Andi terdengar khawatir.


Andai saja aku tidak dalam masa ujian serta jarak tempuh dari tempat kost ke tempat kerja mas Anwar dekat, mungkin aku sudah berlari untuk memastikan kondisinya.


***


"Ini semua karena aku mas. Kalau saja semalam mas tidak mengantarku pergi bekerja, mas akan baik-baik saja. Sama seperti dahulu, andai saja aku tidak pernah meminta pentunjuk melalui istikhoroh, aku tidak akan pernah bermimpi mas kecelakaan."


"Shhhhhh. Ini bukan salah kamu. Ini takdir Allah. Ambil hikmah dari setiap kejadian. Lagi pula mas hari ini maunya berduaan terus sama kamu." Mas Anwar memelukku dengan erat.


"Hmmm..." Aku kembali menangis.


Setelah merasa aku tenang, mas Anwar menceritakan kronologi kecelakaan yang menimpanya.


Saat itu karena hujan di sertai angin, ada batang pohon yang jatuh tepat di depan mobil mas Anwar. Tidak memungkinkan untuk di lalui mobil, tanpa menyingkirkan batang pohon itu. Sedangkan tidak ada seorangpun yang membantu mas Anwar. Akhirnya mas Anwar turun untuk menyingkirkan batang pohon tersebut. Namun, begitu keluar dari mobil dari arah belakang ada seseorang yang mengendarai motor dengan cepat menyalip mobil mas Anwar yang sedang berhenti. Mas Anwar terserempet motor itu dan terjatuh lumayan jauh dari mobil.

__ADS_1


Meskipun telah menabrak seseorang, pengendara motor itu tidak berhenti untuk menolong mas Anwar.


__ADS_2