Mereka Yang Menginginkan Tubuhku

Mereka Yang Menginginkan Tubuhku
Bulu Perindu


__ADS_3

Wanita itu kembali meletakkan tas makeup milik kak Rania di atas meja. Aku dan mas Anwar kembali melanjutkan makan cemilan yang tersedia di meja.


Satu per satu pelayan mulai meletakan makanan utama di atas meja. Di tatanya dengan rapi di tengah meja.


"Sebelum makan, alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu." Mas Anwar membuka suara.


"Sebentar. Makanannya aku foto dulu." Salah seorang teman mas Anwar sibuk mengabadikan makanan yang dihidangkan dengan cantik.


"Kalau kita berdoa dulu sebelum berfoto, itu artinya kita berdoa untuk berfoto bukan untuk makan." Tambahnya.


Mendengar perkataan temannya mas Anwar, kami pun tertawa. Merasa lucu, namun sepertinya memang masuk akal.


"Selesai. Ayo berdoa." Ia kembali duduk setelah meletakkan handphone nya di meja.


Pada saat makan, yang terdengar hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring saat orang-orang mengambil lauk. Ada yang sibuk menyuapi makan anaknya, ada juga yang hanya sibuk makan. Namun ketika mereka selesai makan, obrolan mulai kembali terdengar.


"Aduh makeupku berantakan. Ah ya... aku mau lihat isi tas makeup milik Rania." Kata seorang wanita yang kemudian perlahan membuka reseleting tas makeup milik kak Rania.


"Bukannya itu tidak sopan mas?" Bisikku pada mas Anwar.

__ADS_1


"Biarkan saja. Itu jadi urusannya."


"Hei apa ini?" Satu per satu benda yang ada di dalam tas Rania dikeluarkan olehnya.


Ada satu benda yang menarik perhatian dari beberapa benda yang dikeluarkan olehnya. Benda itu berbentuk kantong kecil berwarna merah dengan tulisan-tulisan yang entah apa dan tali berwarna kuning.


Dia mencoba membuka kantong tersebut. Di dalamnya terdapat botol kecil berisi cairan berwarna kuning dan beberapa helai bulu berwarna hitam. Benda kedua yang dikeluarkan adalah keris kecil berbentuk wayang. Yang lebih menarik perhatian adalah sebuah foto kecil. Foto seorang laki-laki. Itu foto mas Anwar.


"Ya ampun, bukankah benda-benda ini di gunakan untuk pelet. Lihatlah ini bulu perindu, aku pernah melihatnya di film-film." Wanita itu mengacungkan botol kecil tadi.


Semua orang terkejut melihat apa yang ada dihadapan mereka. Termasuk aku, juga mas Anwar. Berarti desas-desus tentang kak Rania memakai pelet selama ini adalah benar. Salah seorang teman mas Anwar mengambil foto dari benda-benda tersebut.


Mas Anwar menunjukkan isi pesan di grup chat angkatannya.


'Hei Rania, ternyata benar selama ini kamu menggunakan pelet. Bahkan targetmu orang yang sudah menikah.' Tulis wanita yang mengambil foto tadi. Beserta foto dia sertakan.


Teman-teman mas Anwar yang lain pun ikut menambahkan di pesan selanjutnya.


Suasana berubah jadi tidak kondusif lagi, aku dan mas Anwar pamit pulang lebih dulu.

__ADS_1


"Bagaimana ini mas? Apa ini semua benar? Harusnya mas tadi mencegah kakak itu membuka tas makeup milik kak Rania."


"Memang seharusnya mas tadi melakukan itu. Tapi mau bagaimana, nasi sudah menjadi bubur. Tapi dengan kejadian ini, bisa saja jadi pelajaran untuk Rania. Hal ini sangat dilarang dalam agama kita."


"Tapi mas merasa ada yang aneh."


"Apa yang aneh mas?" Aku bertanya dengan mengerutkan kedua alisku.


"Selama ini mas sama sekali nggak ada sedikitpun tergoda dengan Rania."


"Benarkah? Lantas kenapa beberapa hari yang lalu, mas bertemu dengannya tapi nggak bercerita sama sekali."


"Kamu tahu?"


"Kak Rania yang mengatakannya."


"Mas berpikir kalau cerita sama kamu, akan jadi beban pikiran untuk kamu. Mas tahu kalau kamu sering merasa cemburu padanya."


"

__ADS_1


__ADS_2