Mereka Yang Menginginkan Tubuhku

Mereka Yang Menginginkan Tubuhku
Mas Anwar Kecelakaan


__ADS_3

Pagi ini aku habiskan dengan beres-beres rumah. Lalu membuat masakan untuk mas Anwar makan ketika pulang nanti. Meskipun secuek apapun aku padanya atau semarah apapun aku pada mas Anwar, aku tetap melakukan kewajibanku sebagai seorang istri. Padahal keadaan ini aku sendiri yang membuatnya, sedangkan mas Anwar tidak salah apapun. Aku yang bertanya padanya.


Selepas dzuhur keadan diluar mulai teduh, awan mendung mulai menitikan rintik hujan.


"Semoga hujannya tidak sampai sore." Aku mengintip melalui jendela, hujan mulai semakin deras.


Namun sampai maghrib pun hujan belum juga reda.


Tin. Terdengar suara klakson mobil dari luar.


'Apa itu mas Anwar, kenapa sudah pulang?' Aku berjalan ke depan untuk membukakan pintu.


"Mas, sudah pulang?"


"Iya. Hari ini pekerjaan mas gak banyak. Jadi bisa pulang cepat. Kamu belum berangkat?"


"Belum mas, masih hujan." Aku mencium punggung tangannya.


"Mas antar ya."


"Gak perlu mas. Mas baru pulang. Pasti capek."


"Mas gak capek, ayo siap-siap. Mas sholat dulu." Mas Anwar langsung masuk ke kamar.


Perjalanan yang biasanya aku tempuh hanya 15 menit, menjadi 30 menit karena hujan lebat yang mebuat jalanan penuh dengan air.


"Hati-hati mas. Hubungi aku alau sudah sampai rumah."

__ADS_1


Mas Anwar mengangguk. Hujan masih saja enggan untuk berhenti.


Hampir jam sembilan malam, mas Anwar belum menghubungiku bakhan tidak ada pesan satupun dari nya.


Aku mencoba menghubunginya, handphonenya aktif tapi tidak di angkat. Beberapa panggilan aku lakukan.


"Hallo. Assalamualaikum."


Aku menghela napas lega. Karena mendengar suara mas Anwar hatiku merasa tenang.


"Mas sudah sampai rumah? Kenapa mas gak bisa di hubungi? Aku sudah bilang, kalau sampai rumah tolong hubungi aku."


"Maaf ya sayang. Handphone mas tadi lowbat, belum sempat kasih kabar mas ketiduran." Mas Anwar terdengar meringis.


"Mas gak apa-apa?" Aku mulai panik.


Sift malamku selesai, aku berpamitan pulang begitu ada petugas sift pagi datang. Aku melakukan operan jaga terburu-buru, karena dari semalam perasaanku tidak tenang memikirkan mas Anwar.


Melihat mobil mas Anwar masih terparkir di garasi membuatku bertanya-tanya. Seharusnya mas Anwar sudah berangkat kerja. Lampu rumah masih menyala.


"Mas... mas Anwar?"


Tidak ada jawaban. Setelah mematikan lampu-lampu, aku bergegas masuk ke kamar. Aku mendapati mas Anwar masih meringkuk di atas kasur dengan di tutupi selimut.


"Mas hari ini nggak kerja?" Aku bertanya, namun mas Anwar hanya menjawabku dengan lenguhan.


"Mas kenapa?" Aku melempar tas sembarang.

__ADS_1


Wajahnya pucat, tubuhnya demam. Mas Anwar masih memakai baju yang dia pakai semalam.


'Basah.' Ucapku dalam hati.


"Baju mas kenapa basah?"


Aku membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Aku terkejut karena siku mas Anwar terdapat perban. Celana yang dia pakai banyak noda tanah dan juga darah.


"Mas gak apa-apa."


"Gak apa-apa bagaimana, keadaan mas seperti ini. Bisa-bisanya menghubungi aku tanpa mengatakan apapun."


Marah. Kecewa. Sedih. Khawatir. Entah perasaan apa lagi yang berkecamuk dalam diriku.


"Kemarin mas kecelakaan, mas keserempet motor."


"Keserempet motor?" Aku semakin terkejut mendengar ucapan mas Anwar.


"Sudahlah, sekarang aku bantu mas bersih-bersih lalu ganti baju."


Beberapa bungkus obat tergeletak di atas nakas dekat tempat tidur. Setelah memberikan mas Anwar makan, aku menyuruhnya untuk meminum obat.


"Aku kompres dulu, agar panas mas cepat turun." Dengan terisak aku mengompres mas Anwar dengan terus memalingkan muka dari mas Anwar.


^^^________________________________________________^^^


*Mohon maaf telat update. Karena kondisi author sedang tidak fit. Terimakasih sudah mau menunggu😊*

__ADS_1


__ADS_2