Mereka Yang Menginginkan Tubuhku

Mereka Yang Menginginkan Tubuhku
Hadiah dari Mas Anwar


__ADS_3

Sikap mas Anwar berhasil membuatku tertawa lirih.


"Ngidam atau pun nggak, itu memang maunya mas."


"Muwach." Aku berhasil memberikan satu ci*uman di pipi mas Anwar.


Tangan mas Anwar merogoh saku celananya, seperti mengambil sesuatu.


Benar saja, mas Anwar mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna navy dan memberikannya padaku.


"Ini apa mas?"


"Buka saja."


Di dalam kotak itu terdapat sepasang anting berbentuk kunci. Mataku berkaca-kaca melihat anting itu begitu indah. Mas Anwar memasangkan anting itu di telingaku, dengan melepas anting lamaku terlebih dahulu.


"Cantik." Ucap mas Anwar.


"Timingnya pas sekali. Mas membeli anting ini karena terus saja merasa ingin membelikan hadiah untukmu." Tambahnya.


"Terima kasih banyak, mas." Kali ini giliranku yang memeluk mas Anwar.


"Kamu suka?"


Aku mengangguk di pelukan mas Anwar.

__ADS_1


***


Kelas yang saat ini sedang berlangsung, terasa sangat lama sekali. Meskipun waktu masih menunjukan pukul 09.00 WIB, mataku sangat berat. Aku duduk di barisan paling belakang dekat dengan jendela. Kepalaku berulang kali tertunduk karena kantuk yang tidak mau pergi.


Dalam pikiranku, membuja handphone sebentar saja mungkin akan menghilangkan sedikit rasa kantukku. Lagi pula, aku dudu di barisan paling belakang. Mungkin saja tidak terlihat oleh dosen.


Aku membuka sebuah aplikasi kamera yang ada di handphoneku. Satu, dua dan beberapa kali aku ber-selfie. Tanpa sengaja aku menjatuhkan handphoneku. Saat berusaha meraihnya, namun karena terlalu jauh, aku jadi tersungkur ke lantai. Sontak saja semua mata tertuju padaku.


"Aishwa. Sedang apa kamu?" Teriak bu Dina, dosen yang sedang mengajar di kelasku.


"Maaf bu."


"Kalau kamu mengantuk, keluar dari kelas saya!" Bu Dina berkata dengan nada marah.


"Tapi bu..."


'Dasar bo*doh. Bisa-bisanya aku dikeluarkan dari kelas, padahal kelas ini penting.' Berulang kali aku memukul kepalaku.


Beberapa menit kemudian, setelah aku mengupload fotoku di status whatsapp, handphoneku berdering. Tertera nama kak Andi di layar.


"Assalamualaikum, kak. Ada apa?"


"Waalaikumsalam. Wah, padahal kakak nggak sengaja menekan tombol memanggil. Kamu lagi gak ada kelas, bisa angkat telepon?"


"Aku di keluarkan dari kelas, karena mengantuk."

__ADS_1


"Ya ampun."


"Sudah ya, aku mau ke perpustakaan."


"Tunggu Aish, jangan di tutup dulu teleponnya."


"Kenapa lagi kak?"


Kak Andi menceritakan padaku kalau mas Anwar meminta ijin dari ibu, untuk bertunangan denganku. Tidak kalah terkejutnya aku dari kak Andi. Aku bertanya apa alasannya, kak Andi pun tidak mengetahuinya. Satu hal yang pasti, mas Anwar merasa sangat yakin dengan keputusannya. Padahal sebelumnya, mas Anwar dan keluarganya setuju dengan syarat ibuku. Ibu yang menginginkan aku lulus kuliah terlebih dahulu, baru menikah dengan mas Anwar. Begitupun aku yang masih merasa bimbang dengan perasaanku.


Tidak lama setelah kak Andi menelepon, kini mas Anwar yang meneleponku.


"Assalamualaikum, Aish. Ini mas Anwar."


"Waalaikumsalam mas. Iya, ada apa?"


"Selesai kelas jam berapa? Apa ada waktu senggang? Mau menonton film di mall Metro?"


"Boleh mas, aku selesai kelas jam dua siang."


"Kalau begitu mas jemput ke kampus ya."


"Nggak usah mas, kita ketemu di mall Metro saja."


"Gak apa-apa Aish, aku jemput di kampus. Sampai ketemu ya." Mas Anwar menutup teleponnya.

__ADS_1


Apa aku boleh menanyakan alasannya yang ingin bertunangan denganku? Apa itu cukup sopan di pertemuan pertama setelah bertahun-tahun tidak bertemu?


__ADS_2