
Sebelumnya aku mendapatkan pesan dari nomor yang tidak aku kenal. Isinya berisi salam dan menanyakan kabarku. Karena aku tidak tahu ini pesan dari siapa, aku mengabaikannya. Lama kelamaan aku tahu pengirim pesan tersebut, dia adalah mas Anwar.
Selama seminggu aku dan mas Anwar sering bertukar pesan melalui whatsapp tanpa pernah menelepon, apapun yang kami bahas aku merasa nyaman dengan mas Anwar.
Saat aku keluar dari kampus mas Anwar sudah menungguku di depan kampus, dia berdiri di depan mobilnya dengan memainkan ponselnya.
"Aku mau pulang ke kost dulu mas. Aku mau ganti baju terlebih dahulu."
"Baiklah, tunjukkan saja jalannya."
Sesampainya di bioskop mall Metro, mas Anwar membelikanku minuman dan popcorn. Dia juga bertanya film apa yang mau aku tonton, tidak ku sangka ternyata film yang aku inginkan sama dengan yang di harapkan mas Anwar. Film The Conjuring 2.
Sepulang dari menonton mas Anwar mengajakku makan di sebuah tempat makanan fastfood. Apa ini kencan? Jantungku berdegup tidak karuan.
"Apa kamu gak penasaran alasan mas meminta ijin agar bisa bertunangan denganmu?"
"Tentu saja aku penasaran mas, tapi aku malu untuk bertanya."
"Untuk apa malu, lagipula aku ini calon suamimu."
Perkataan mas Anwar menambah alasan bagi jantungku untuk berdegup lebih cepat.
__ADS_1
Mas Anwar memberikan handphonenya. Mas Anwar menunjukan sebuah foto. Aku terkejut karena yang mas Anwar tunjukkan adalah foto yang aku upload tadi pagi.
"Ini fotoku mas. Kenapa dengan fotoku?"
"Perhatikanlah baik-baik."
"Aku masih belum paham maksud mas Anwar."
Mas Anwar meraih handphonenya, kemudian memperbesar fotoku yang ada di layar handphonenya.
"Lihatlah."
"Seperti gambar kunci."
"Saat bertukar pesan kemarin-kemarin kamu pernah bertanya, perihal apa isi hatiku. Aku mengatakan bahwa hatiku terkunci, dan aku tidak tahu kuncinya entah hilang kemana."
"Aku telah menemukan kunci hatiku, di matamu Aish. Itulah yang membuat aku yakin kalau kamu memanglah jodoh yang dikirimkan untukku." Lanjutnya.
Yang aku lakukan hanya diam tanpa kata, entah karena tidak tahu harus berkata apa. Atau karena aku yang tersipu malu atas kalimat demi kalimat yang di utarakan oleh mas Anwar. Apa ini mimpi?
***
__ADS_1
"Kamu masih ingat tentang kunci hati mas?"
"Tentu saja mas. Waktu itu mas tiba-tiba berubah menjadi seorang penyair." Aku meledek mas Anwar.
"Bukan seorang penyair. Tapi memang itulah kenyataannya. Kamu nggak tahu, tangan mas gemetar saat mencoba mengeluarkan isi hati mas."
"Bicara soal kunci, sepertinya ada paket yang harus di buka." Aku menunjuk ke arah paket yang aku letakkan di atas meja.
"Kali ini apa lagi?" Mas Anwar meraih paket itu, lalu mencoba membukanya.
Paket itu berisi sebuah foto. Saat aku mendekati mas Anwar karena penasaran, mas Anwar langsung menyembunyikan foto itu.
"Mas, aku mau lihat."
"Tidak usah. Mas akan membuangnya."
"Kenapa mas? Aku sudah tahu mas, kalau mas menyembunyikan sesuatu. Tentang paket yang datang setiap hari dan orang yang mengirim paket itu, mas menyembunyikan semuanya dariku."
"Maafkan mas, Aish. Mas tidak ingin kamu gelisah dan khawatir. Apalagi sekarang kamu sedang hamil, mas nggak mau kamu banyak pikiran."
"Lantas aku hanya akan berdiam diri membiarkan mas yang memikirkannya sendirian?"
__ADS_1
"Apa aku selemah itu di mata mas?"
Wajahku terasa sangat panas mungkin juga memerah, menahan amarah dan kekecewaanku pada mas Anwar. Aku meraih foto yang di remas oleh mas Anwar. Setelah melihat foto itu, mataku membulat sempurna.