
Aku tidak berani untuk pulang ke rumah, setelah kejadian itu aku pulang ke kostan. Aku menceritakannya pada Ayu dan Utari, teman kostku.
Mereka terkejut dan terlihat marah, mendengar ceritaku tentang kejadian itu.
"Tapi kamu benar tidak apa-apa?" Tanya Ayu.
Aku mengangguk pelan.
"Nggak bisa Aish. Ini nggak bisa di biarkan begitu saja. Aku antar ke kantor polisi untuk melakukan pengaduan." Utari menggenggam tanganku erat penuh tekad.
Hukum di Indonesia semengerikan ini, laporan yang aku ajukan ternyata tidak serta merta memberikan efek jera pada laki-laki itu.
"Laporan ini kami tutup, karena kurangnya bukti dan menurut penuturan saudara terlapor dan keluarganya ini terjadi karena kesalahpahaman saja. Baiknya di selesaikan secara kekeluargaan." Terang seorang petugas polisi.
Pantas saja, banyak korban yang enggan untuk melapor. Bukannya di gubris, laporan ini malah menjadi bumerang bagi si pelapor karena di gosipkan oleh orang-orang. Semuanya terjadi juga padaku saat itu. Sedangkan dia hidup dengan bebas tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Bahkan sebelum menikah dengan mas Anwar, salah satu kerabatnya pernah menolakku mentah-mentah.
__ADS_1
"Dia itu sudah tidak suci lagi. Apa kalian tidak tahu, wanita ini sering menginap di rumah mantan pacarnya dulu."
Kata demi kata yang di keluarkan dari mulutnya seakan menjadi pisau tajam, yang menyayat setiap senti tubuhku. Aku kembali teringat kenangan buruk yang pernah menimpaku.
Sesak. Dadaku rasanya terikat kuat sebuah rantai besi. Mulutku seakan terkunci rapat, tanpa bisa menjawab perkataannya.
"Itu fitnah, bi. Aku tidak pernah menginap di rumahnya." Aku berkata dengan lirih setelah mengumpulkan keberanianku.
***
"Mas yakin akan melaporkan ini semua pada polisi?"
"Apa mas tahu kenapa dulu dia sampai berani menginginkan untuk menyentuhku?"
Mas Anwar menatapku dengan penasaran.
"Aku pernah mendengar ini dari tetangga rumahnya. Entah itu memang benar atau hanya isu, tapi aku merasa yakin karena rumahnya itu penuh dengan benda-benda pusaka dan keramat. Menurut mereka, banyak korban seperti aku juga. Awalnya di perlakukan dengan baik sebagai pacar, setelah mendapatkan apa yang diinginkannya setiap wanita itu di tinggalkan begitu saja tanpa alasan jelas. Hal ini dia lakukan untuk memperkuat ilmu yang sedang di pelajarinya, dengan merenggut kehormatan seorang wanita yang masih gadis. Terkhusus wanita seperti aku, yang bisa melihat hal-hal di luar nalar."
__ADS_1
"Astaghfirullah. Di zaman ini masih ada manusia seperti itu. Semoga Allah memberikan hidayah padanya."
"Doa itu tidak akan berhasil mas, buktinya dia masih berani melakukan ini."
"Percaya pada Allah." Mas Anwar kembali memelukku.
Pagi menjelang. Setelah beberapa hari menginap di rumah sakit, aku merasa senang bisa kembali tidur di rumah dan menikmati hari liburku.
Aku melihat jam menunjukan pukul 04.00 WIB. Mataku menelusuri setiap sudut kamar, aku tidak mendapati mas Anwar. Di dalam kamar mandi pun tidak ada.
Terdengar suara ribut-ribut di dapur setelah aku membuka pintu kamar. Ternyata mas Anwar sedang memasak.
"Mas lagi ngapain?"
"Ah ini. Mas lagi masak telor ceplok. Saat bangun tadi, mas merasa lapar. Sempat terpikir, telor ceplok setengah matang kayaknya enak. Kamu mau?"
"He...he..." Aku mencoba menutup mulutku untuk menahan tawa.
__ADS_1
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang lucu?" Mas Anwar sibuk meraba wajahnya.
"Nggak mas. Lucu, lihat mas ngidam, karena dari dulu mas itu nggak pernah suka makan telor yang setengah matang.