Meski Tak Sempurna

Meski Tak Sempurna
Masih dihatinya


__ADS_3

“Aku akan mengganti foto-foto ini "ucapnya seraya mengusap foto-foto pernikahannya dengan mbak Vina dengan wajah sendu.


...----------------...


Melihat sikapnya yang terlihat begitu sayang pada foto-foto mendiang istrinya itu, aku langsung menghampirinya dan merebut apa yang dipegangnya.


"Jangan sentuh barang-barang ku ya..."


Dia menoleh ke arahku.


"Tadi mas Reza bilang kan sekarang ini rumahku, jadi kamu nggak berhak mengubah apapun, biarkan semua seperti semula..." ucapku seraya melihat foto mas Reza dan mbak Vina itu.


"Emangnya kamu nggak cemburu?" meski terdengar hanya menggodaku, namun kulihat wajahnya terlihat bahagia.


"Tentu saja, lihatlah kalian begitu serasi, karena kamu belum mau melupakannya, jadi biarkan saja seperti ini..."aku kembali meletakkan foto-foto itu ke tempatnya semula.


Untuk sementara aku memang lebih nyaman seperti ini, dia yang mau menerimaku apa adanya, kurasa aku juga tak mau memaksanya untuk secepatnya menerima ku disudut hatinya.


"Jadi katakan yang sebenarnya, kenapa kau memilihku untuk menjadi istrimu, mas?" untuk kesekian kalinya aku menanyakan hal yang sama.


Diapun terkekeh.


"Kamu sudah lima kali menanyakannya?"


"Aku akan terus menanyakannya sampai mendapatkan jawaban yang logis.."protes ku sambil berkacak pinggang dihadapannya.


Sebelumnya aku berulang kali menanyakannya, namun jawabannya hanya asal, tentu saja membuatku semakin penasaran.


Mas Reza meraih tanganku dan menuntunku duduk di kursi dekat jendela.


"Baiklah Amel, akan kucoba menjawabnya semoga kali ini kamu puas dan berhenti menteror ku lagi dengan pertanyaan yang sama..."


Aku mendengarkan dengan serius.


"Seperti yang kamu tau, aku masih belum bisa melupakan mendiang Vina. Separuh jiwaku telah pergi bersamanya, dan itulah yang membuat hidupku terasa hambar, hatiku jadi mati rasa…”


Diapun menghela nafas sejenak, aku merasakan begitu dalam cintanya pada mbak Vina.

__ADS_1


"Aku memilihmu karena tau bahwa aku bukan tipemu..."dia melirikku sambil tersenyum.


"Apa!???" aku benar-benar terkejut mendengarnya.


"Aku juga tak yakin bisa berhasil memilikimu. Namun sekarang kamu ada disini, jadi aku percaya semua adalah takdir Allah. Saat ini aku tak bisa menjanjikan rasa cinta padamu dan karena aku juga bukan pria impian mu, jadi kamu juga tak perlu memaksakan diri untuk menyukaiku.."


Well cukup adil...pikirku.


“Namun Amelia Pramesti, aku bisa menjanjikan bahwa hanya kamulah yang akan menemani sisa hidupku dan aku akan selalu berusaha membuatmu nyaman bersamaku... Bagaimana? Sudah puas dengan jawabanku?"


"Mmm...memangnya kamu bakal betah ditemani cewek sepertiku ini?"


"Jadilah dirimu sendiri, aku lebih nyaman seperti ini..."


"Satu lagi! Kurasa banyak cewek yang sepertiku, kenapa harus aku?"


"Katakan dimana aku bisa menemukan cewek yang tidak jatuh hati padaku..."sahutnya sambil menarik sudut bibirnya.


"Aissh sombongnya..." aku mencibirnya.


"Setiap aku dikenalkan anak dari teman-teman mama, mereka selalu menampakkan rasa suka dan berharap banyak padaku. Itu yang membuatku tak nyaman, karena aku takut tak bisa membalas perasaan mereka..." ucapnya lagi.


"Hanya kamu yang jelas-jelas menolak ku, untung aku bisa meyakinkan ibumu..”mas Reza terkekeh.


"Kamu ini benar-benar percaya diri mas... bagaimana bila aku bertemu dengan tipeku dan jatuh cinta padanya, apa kamu akan melepaskan ku? " ku coba untuk menantangnya.


Bagaimanapun aku hanya wanita biasa, mungkin juga itu terjadi kan...


"Tak akan membiarkan itu terjadi, karena aku yang akan membuatmu jatuh cinta padaku lebih dulu…”


Aku merasa tersanjung dengan janjinya itu. Mungkinkah dia akan memegang ucapannya itu hingga bertahun-tahun yang akan datang?


Mungkin jiwa pengusaha yang mengalir di darahnya jadi kenal kata menyerah. Sepertinya nggak nyambung deh, he..he..


Kata Tasya suamiku ini seorang pengusaha resto dan punya cafe dibeberapa kota, dan itulah yang membuatku seperti mendapatkan doorprize...punya suami pintar masak...


“Oke kita lihat apa mas Reza bisa membuat ku berpaling dari pria idamanku..."

__ADS_1


Meskipun sebenarnya, hati ini mulai menyukai apa yang telah dijanjikannya padaku, namun aku masih berharap ada rasa cinta yang akan kudapatkan dari suamiku itu, bukan hanya sekedar rasa memiliki saja.


Dia pun beranjak dari duduknya dan melangkah hendak keluar kamar. Namun sebelum keluar dia berbalik, menatapku sejenak lalu menyunggingkan senyum mencurigakan.


"Meski aku bukan pria macho berkulit eksotik dan penuh bulu seperti tipemu, tapi aku siap bila kamu minta bukti untuk memberimu kepuasan di ranjang seperti imajinasimu…”


Aku melotot kepadanya, merinding mendengar ucapan mesum itu, lalu kuambil bantal dan ku lemparkan padanya. Diapun berlalu dengan suara tawanya yang lepas karena berhasil membuatku panas dingin.


Ku tangkup kedua pipi dengan telapak tanganku yang panas karena membayangkan ucapannya itu. Ya beginilah nasib perawan udik...


Setelah minta ijin pada papa dan mamanya, mas Reza akhirnya mengajakku pindah ke rumah ini. Dua hari yang lalu dia mulai bekerja dan selama dia kerja aku menghabiskan waktuku dirumah ibu untuk membantunya finishing jahitan.


Apalagi mas Reza membelikan motor matic baru, seakan punya mainan baru, aku jadi suka wara-wiri naik motor. Kenapa nggak dibeliin mobil? Tentu saja suamiku masih mampu membeli mobil untukku, namun karena aku lebih nyaman dengan hidupku yang sebelumnya …


"Ibu... senin depan aku mulai magang, jadi selama satu bulan ke depan tidak bisa membantu ibu" ucapku sambil memasukkan benang kedalam lubang jarum.


"Iya Mel, gak papa, lagian jahitan sudah mulai berkurang kok. Yang penting kamu nggak boleh mengabaikan suamimu lo ya..." petuah ibu selalu tak lupa diucapkan setiap kami bertemu.


“Hhh ibu nih meremehkan aku, dijamin dia nggak bakalan kurus deh..." sahutku asal.


"Gimana nggak khawatir, yang masak suamimu, kalo sama-sama di dandanin mungkin lebih cantik suamimu, jangan-jangan Reza juga yang kau suruh melahirkan nanti. Ibu malu tau!!"


Aku jadi tertawa lepas mendengar ucapan ibu.


"Ide bagus bu, nanti aku tanya deh sapa tau dia mau hamil dan melahirkan juga ha..ha"


"Kamu ini!!"ibu mulai nada tinggi.


Aku hanya nyengir menghadapi ibu yang selalu mengajarkan aku menjadi istri sholehah.


"Ibu nggak mau tau ya, kamu harus segera punya anak, buktiin kamu juga berguna, Mel..." akhirnya aku kena ultimatum juga.


"Apaan sih...ibu ini, emang sulapan, punya anak juga butuh proses kali ..."gerutuku.


Ibu belum tau sih, gimana bisa bikin anak, *****-***** aja dia belum berani..he..he..


Menghadapi ibu yang kejawen sekaligus muslimah taat ini sungguh bikin geleng-geleng kepala. Harus selalu patuh sama suami, makanan juga harus tersedia ketika suami pulang, selalu tampil wangi dan cantik didekat suami pokoknya jadi istri harus siaga...

__ADS_1


Dikira masih zaman keraton, musti sendiko dawuh sama suami. Ini kan udah modern, emansipasi wanita, bagiku semua serba kompromi.


Kalau saja ibu tahu apa yang terjadi antara kami, dijamin bakal kena tausiah semalam suntuk...


__ADS_2