
Tidak seperti biasanya, kali ini aku mengajaknya makan didepan televisi sambil menonton berita. Malam itu hujan turun dengan lebatnya, semangkuk mie buatannya berhasil menghangatkan tubuhku.
...----------------...
" Hmm...enak banget mas, dibanding mie instan yang biasanya..."ucapku merasa bersyukur karena suamiku bersedia memasak untukku.
Dia hanya mesem.
"Berapa kali kamu makan mie instan dalam seminggu?" tanyanya kemudian.
"Kalau dulu sih hampir tiap malam...tapi semenjak nikah, eh kemana kau menyingkirkan stok makanan favoritku itu?" sahutku masih dengan mulut penuh mie.
"Kuberikan bu Rijah..."
"Huh..pantesan, tiap aku beli pasti hilang esok harinya" ucapku menggerutu.
Aku melihatnya tak berselera dengan makanan dipangkuannya, karena dari tadi aku udah menghabiskan semangkuk mie buatannya, dia masih saja mengaduk-aduk makanannya itu.
Apa dia masih baper gara-gara aku mengajaknya ke makam istrinya tadi ya?
Kuambil mangkuk dari tangannya yang masih berisi separuh.
"Udah nggak usah dihabisin, sepertinya kamu nggak berselera..."
Dia tersenyum dan membiarkanku mengambil mangkuknya. Lalu dia bersandar di sofa.
“Apa kamu tak enak badan?"
"Sepertinya aku masuk angin, kepalaku pusing..."
Hhhh...dasar anak mami, baru kena gerimis udah masuk angin, batinku.
"Kalau gitu mas Reza tidur aja deh, biar aku yang beresin dapur..."
Dia mengangguk dan melangkah menuju lantai atas.
Setelah membersihkan dapur, aku menyusulnya ke tempat tidur dan melihatnya memejamkan mata namun raut wajahnya terlihat gelisah.
Ku sentuh dahinya, ternyata dia demam. Segera ku ambilkan obat turun panas , dan memintanya segera minum.
"Bangun mas...Minum dulu.." ucapku saat membantunya duduk.
Meskipun sudah minum obat, sepanjang malam dia masih saja tak nyaman dan sesekali mengigau tak jelas membuatku tak nyenyak.
Apalagi tengah malam suhu tubuhnya makin tinggi, berulang kali aku mengganti kompres di dahinya.
Pagi harinya ketika kubuka mata segera ku sentuh dahinya, sudah mulai berkeringat dan agak hangat namun jauh lebih baik dibanding semalem.
Aku segera ke kamar mandi karena subuh sudah hampir habis, kuambil wudhu dan segera memakai mukena.
Sebelum sholat aku mendengar mas Reza menggeliat tak nyaman jadi aku berniat mengganti kompres namun pria itu terbangun ketika aku menyentuh dahi, leher dan lengannya untuk memeriksa suhu tubuhnya.
"Sudah sholat subuh...hmm?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Belum.."
"Ayo berjamaah..."ucapnya sambil beranjak dari tidurnya.
Setelah itu kami sholat subuh berjamaah.
"Amel.." dia menatapku setelah aku mencium punggung tangannya.
"Apa masih pusing? Kita ke dokter yuk..." ucapku seperti membujuk anak TK.
"Aku udah baikan, mau mandi aja, badanku lengket dan keringatku bau obat...."
" Baiklah..akan kusiapkan air hangat..." aku pun beranjak dari sampingnya.
Dia menahan tanganku.
"Kamu nggak usah masuk kantor ya..."pintanya.
"Kenapa?"
"Lihatlah mata panda mu begitu mengerikan..." sahutnya tersenyum.
"Hah..beneran?"aku segera berlari mencari cermin.
"Astagfirullah ...Benar juga seperti zombie..." gumanku kemudian.
Diapun tergelak mendengar ucapan ku itu.
Aku menoleh kearahnya.
"Kamu juga nggak masuk mas?"
"Hmmm, aku mau nemenin kamu dirumah..." sahutnya.
"Kayaknya kok kebalik deh, yang sakit kan mas Reza, jadi yang bener tuh aku yang nemenin kamu!" ucapku sewot.
Dia terkekeh dan bangkit dari tempat sholat lalu melangkah ke kamar mandi.
Akhirnya aku memutuskan hari itu ijin tidak masuk kerja melalui chat dengan mbak Vida dan Bu Rini, untungnya mereka termasuk orang-orang santai yang menerima ijin dengan alasan apapun asal tidak terlalu sering dan menjadi beban divisinya.
Lalu aku pun iseng video call si Alya. Ku Letakkan ponsel di jendela kamar untuk mendapat cahaya yang terang.
"Hai Al...sorry ya aku hari ni nggak masuk, tadi udah ijin mbak Vida kok.." ucapku sambil memotong kuku tanganku.
"Emang kenapa lo, sakit?"tanya Alya.
"Liat nih mataku kayak panda, malu kan nggak bisa ditutupin.."
"Weeehh...kok jadi kayak pengantin baru yang bercinta semalaman sih...emang smalem begadang nonton drakor yang mana sih?" tuduhnya padaku.
"Heleeh...kamu kan tau aku nggak suka ya film cengeng kyak gitu..."sahutku.
"iya..iya, trus kenapa kamu begadang?ada masalah? Siap jadi teman curhat nih, asal curhatnya di café..he..he.."
__ADS_1
"Temen curhat pa teman makan non..." sahutku sambil menipiskan bibir mendengar modus dari temanku itu.
"Ha..ha...! Eh lho..Mel!..tu apa eh siapa orang itu kok ada di kamarmu sih?"seru Alya dengan wajah curiga.
"Ha?"aku bingung dengan maksud ucapannya itu.
"Itu tuh...cowok di belakangmu....itu"
Seketika aku menoleh. Jreeeng..mas Reza dengan santainya bertelanjang dada dan hanya memakai handuk melingkari pinggangnya sedang membuka lemari pakaian.
Dan itu terlihat oleh Alya si perawan mesum.
Segera kuraih ponsel dan menutupnya lalu berdiri mendorong mas Reza agar menyingkir dari sudut pandang ponselku yang dari tadi on air dengan Alya.
"Mas...cepetan pilih bajunya, lalu minggir ke pojok sana deh.."ku dorong tubuhnya dengan pelan.
"Apa sih? Aku mau ganti baju nih..."sahutnya kebingungan.
"Itu aku baru VC sama Alya, kamunya kelihatan..." sahutku cemberut.
"Emang kenapa kalo liat, kamu nggak rela tubuh suamimu terlihat didepan cewek lain ya..." dia malah menggodaku lagi sambil memeluk pinggangku.
Ku pukul dadanya dengan gemas dan melarikan diri kembali pada Alya yang masih penasaran.
"Mel...ternyata kamu udah begituan ya ma pacarmu, kereeeen...."seru Alya.
"Hussh...sebenarnya aku udah nikah sebulan yang lalu, Al...tapi plis rahasiain ini ya..."
"Eh busheeet...beneran lo nikah? Dan nggak ngundang aku? Tega banget sih.." suara Aliya terdengar kesal.
“ Kemaren tuh cuman akad nikah Al... nggak ada pesta..cuman dihadiri keluarga doang..."jawabku singkat.
"Emm...oke deh yang penting kamu bahagia, selamat ya Mel... Sekarang aku ngerti kenapa matamu kayak panda gitu ha..haa.."
"Sok tau kamu!! Ini tuh gara-gara...."protes ku namun terpotong oleh Aliya
"Sssttt... nanti aja jelasinnya pas ketemu langsung aja biar lebih detail..hi..hi..." Alya masih saja dengan pikiran kotornya itu tertawa aneh.
Aku hanya menipiskan bibir melihat ulahnya itu.
"Tapi kok sepertinya aku pernah liat sosok suamimu itu deh, tapi dimana ya? Apa aku mengenalnya?" tanyanya kemudian.
"Kapan-kapan pasti aku kenalin deh..."
"Baiklah..., sekarang udahan dulu ye, aku mo berangkat nih...wassalam" sahut Aliya mengakhiri panggilan.
Hari ini hari terakhirku magang dan itulah alasanku pagi ini begitu bersemangat.
Meski mas Reza berusaha untuk mengantarku namun aku berhasil dengan keras kepala dan meninggalkan rumah dengan motor seperti biasanya.
Kulihat dari kaca spion, dia masih didepan rumah menatap kepergianku dengan bersedekap. Kok aku seperti istri durhaka sih…
__ADS_1