
Sampai dirumah mama, semua kerabat dekat sudah berkumpul. Aku menghampiri mas Reza yang berdiri di pojok sambil bersedekap. Tatapan matanya kosong, entah apa yang bisa kulakukan untuk menenangkan hatinya itu.
Aku mengusap lengannya dan dia menoleh lalu memelukku.
...----------------...
Hari itu tiap detik waktu berlalu begitu lama, dan aku yang suka tertidur disembarang tempat, terjadi juga ditempat itu. Aku tertidur di sofa ruang tamu, namun ketika aku tersadar aku sudah ada dikamar tidur ketika mendengar suara-suara ramai dilantai bawah.
Ternyata Papa telah pergi untuk selamanya.
Sejak hari itu, mas Reza seperti kehilangan bagian hidupnya. Apakah ini saatnya aku mengatakan bahwa kepergian papa akan digantikan oleh makhluk baru yang telah hadir dalam rahimku.
Hhh...aku benar-benar merasa takut, ingin sekali aku bisa mengabarkan kepada semua orang, namun aku tetap bersikeras bahwa mas Reza harus jadi orang pertama yang mengetahuinya.
Aku ingin pergi periksa ke dokter bersamanya, seperti pasangan-pasangan lain.
Tapi melihatnya begitu rapuh karena kehilangan orang yang dikasihinya, membuatku merasa enggan untuk membicarakan tentang kehamilan ini.
Satu minggu setelah kepergian papa.
"Amel..."mas Reza menyusul ku ditempat tidur dan merebahkan diri menghadap ke arahku.
"Hmm..."aku masih saja sibuk browsing info tentang kehamilan.
"Besok aku akan memantau proyek yang ada di Bali, apa kamu mau ikut? hanya dua atau tiga hari setelah itu kita bisa liburan di sana..."
"Mm.. Iya deh aku akan ikut ... "aku mulai berfikir, aku akan memberi kejutan kepadanya di sana.
Lalu aku mendekatinya yang sedang menatapku.
“Kamu terlihat lelah, apa kamu merasa tak enak badan, mas?" ku tatap wajahnya yang terlihat sendu itu.
"Aku hanya lelah....maaf akhir-akhir ini tak ada waktu bersamamu..."
"Tak apa, kan ada Richard yang menemaniku..." ucapku menggodanya.
Dia tersenyum lalu menarik hidungku.
"Besok, aku akan menyuruh Richard pulang kampung ke negaranya sana, aku cemburu!”sahutnya tersenyum gemas.
"Kalo gitu jangan buat dirimu begitu lelah, aku khawatir kamu sakit ... " sahutku kemudian.
"Setelah proyek di Bali selesai , akan banyak waktu luang kita akan bulan madu atau kamu ingin ke luar negeri?" genggaman tangannya mengusap punggung tanganku.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku senang pergi kemanapun bersamamu tapi kali ini aku ingin mengajak Tasya ikut ke Bali. Aku ingin membuatnya terhibur setelah kepergiaan papa, apalagi sepertinya hubungannya dengan Adit juga lagi ada masalah..."
"Hhh..kalau kamu mengajaknya, pasti kalian asyik main sendiri dan kamu pasti mengabaikan aku..."
"Bukankah kamu juga pasti mengajak Yogi? Kamu bisa main sendiri dengannya..he..he.."
"Baiklah...kami akan ke club malam saja cari hiburan ..."
Aku melotot menanggapinya dan itu membuatnya tertawa lepas.
Keesokan harinya aku menyiapkan sarapan sederhana. Roti bakar dan teh manis untuk kami berdua. Pagi itu mas Reza mendapat telfon dari kantor, ada meeting mendadak.
Padahal hari ini kami akan melakukan perjalanan ke Bali dengan penerbangan jam 13.00 siang nanti.
Kami sarapan dimeja makan tanpa suara. Hatiku sedang kesal melihat suamiku harus terforsir karena pekerjaannya.
"Mel...kamu kenapa? kayaknya jutek banget deh..."mas Reza mencoba menggodaku.
"Gak pa-pa!!"jawabku dengan ketus.
"Apa kamu butuh sesuatu?"tanyanya dengan nada heran.
"Ya!!aku butuh orang yang bisa gantiin kamu..!!" aku menatapnya tajam, lalu aku berdiri membereskan alat makanku dan menuju dapur.
Seketika mas Reza menghentikan gerakannya yang akan minum teh hangat dari cangkirnya.
Diapun berdiri dan menghampiriku, memelukku dari belakang.
"Kamu kok sewot mulu kayak orang nyidam aja sih..."
Aku mendengus kesal karena aku tau dia hanya asal ngomong.
" Memangnya siapa yang harus gantiin aku, hmm...?"ucapnya lagi.
"Ya...siapa aja. Yogi mungkin, atau orang-orang dewan direksi mu yang begitu banyak itu. Biar kamu nggak terlalu sibuk kayak gini...kamu tuh manusia mas, bukan robot!"
"Oooh...kukira kamu pengen ada orang yang gantiin aku buat peluk kamu ... "sahutnya sambil mencium keningku lalu menjalar ke pipi.
"Mungkin lama-lama aku juga butuh..mmmm.."dia membalik badanku dan langsung menautkan bibir kami, membuat ucapanku terhenti dengan menenggelamkan aku dalam ciumannya yang semakin dalam dan kedua lengannya memelukku erat seakan tak ingin terlepas.
Suara mobil masuk ke halaman rumah, harus menghentikan aktivitas kami.
"Huh..pasti Tasya..bisakah kita mengabaikannya dan melanjutkan quicky sebelum aku berangkat?" bisiknya begitu menggodaku.
__ADS_1
"Hei..kamu udah membuatku begadang semalaman, apa masih kurang hmm?" protes ku.
Aku mencubit perutnya untuk menghilangkan pikiran kotornya, lalu mendorong tubuhnya menjauh agar Tasya tidak melihat apa yang sedang kami lakukan.
Setelah memarkirkan mobilnya, Tasya masuk dengan membawa kopernya. Rupanya dia sudah siap melakukan perjalanan dengan kami.
"Lho mas Reza mau kemana?resmi amat..."celetuk Tasya.
"Ada panggilan sebentar, paling hanya satu jam aku sudah kembali.." ucapnya seraya mengecup puncak kepalaku dan berjalan keluar.
Kudengar suara mobil lagi berhenti, mungkin itu Yogi yang menjemput mas Reza.
"Ini udah jam delapan lebih lo Mel..kalo kita ke bandara terlalu mepet, pasti kena macet juga, kita bakal ketinggalan penerbangan loh.."Tasya masih saja ngedumel.
"Aku juga udah protes, Sya, mau gimana lagi, kakakmu tuh emang keras kepala ! emangnya kenapa sih kalo meeting tanpanya..."gerutuku.
"Sejak dulu dia tuh memang seorang pekerja keras..."sahut adik ipar ku itu saat merebahkan diri di sofa ruang tamu.
"Jadi...gimana dengan Adit..?"tanyaku sambil duduk disebelah Tasya.
"Aku masih bingung, Mel..dia pengen kami cepet nikah, karena orang tuanya akan menjodohkannya dengan cewek lain..."
“Lalu? Apa sih yang kamu khawatirkan?"
"Aku takut orang tuanya nggak menerimaku, karena sejak awal ada niat menjodohkan anaknya itu kan..."
"Menurutku yang penting kalian berdua tekadnya kuat, nggak usah takut deh..." sahutku memberinya semangat.
"Aku kan nggak bisa cuek kayak kamu , Mel.."
"Banyak orang bilang, kalo udah punya anak, mertua seseram apapun pasti luluh sama cucunya kalo kamu udah ngasih mereka cucu, aman kok..."
"Kamu tuh pikiran kok gampang gitu sih...eh gimana-gimana ponakan aku udah jadi belum?" pertanyaan Tasya membuatku was-was, apa sudah terlihat jelas ya ..
"Doain deh... coming soon..he..he.."sahutku nyengir, jadi gatel pengen cerita kalo udah cek dengan testpack.
Kami berdua ngobrol dengan asyiknya hingga tak menyadari bahwa jam berdetak hampir pukul sebelas.
"Eh, Mel...kok mas Reza belom balik sih, dua jam lagi kita take off lo..."
"Bentar deh aku telfon dulu..."
Sekali aku telfon, ponselnya tidak aktif. Apa dia masih rapat? Tumben, biasanya ponselnya selalu aktif meski berada ditengah meeting.
__ADS_1
Aku mulai gusar ketika berulang kali aku telfon tidak aktif, lalu aku beralih menghubungi Yogi, harusnya mereka lagi bersama. Namun hanya nada tunggu yang kudengar, mungkinkah dia sengaja tak mengangkatnya.