Meski Tak Sempurna

Meski Tak Sempurna
Sepakat


__ADS_3

Pria itu menahan tawanya lalu duduk ditepi tempat tidur berhadapan denganku yang duduk di depan meja rias.


Aku masih saja mencoba menepis pikiran kotorku hanya dengan melihatnya telanjang dada. Astaga Amel, sejak kapan isi otakmu mulai mesum begini....


...----------------...



"Mas Reza dengar ya.. meski kami sering liat film romantis, bukan berarti suka dengan film dewasa, aku tuh lebih tersentuh bila ada pria yang menghormati seorang wanita, menurutku suatu hubungan bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan *** saja kan ... " jelas ku sambil berusaha menyembunyikan perasaan canggung ku.


Sejenak kulihat dia tampak berpikir.


"Baiklah, aku akan mencoba jadi pria idamanmu itu, Mel! Ajari aku, apa yang harus aku lakukan, hmm?"


Waaaw...beneran nih, tiba-tiba muncul pikiran jahat di otakku. Apa benar malam ini aku bisa lolos darinya tanpa harus menyakiti hatinya?


Tiba-tiba wejangan ibu terngiang ditelingaku, jangan sampai aku menolak ketika suami mengajak bercinta, bisa-bisa aku dilaknat malaikat sampai pagi.


Tapi mungkinkah ada cara agar dia tak menginginkanku setidaknya dalam waktu dekat, bagaimanapun aku masih merasa sangat canggung padanya aku harus cari akal.


Setelah lima detik berpikir, aku mulai merencanakan ide-ide konyol..he..he..


"Jadilah pacarku..."


Kini pria itu menaikkan kedua alisnya.


"Pacar? ”


"Sebenarnya dari dulu aku ingin sekali punya pacar, bergandengan tangan, mengusap peluhnya, menangis di dadanya tapi kontak fisik seperti itu sebagai seorang muslimah tak mungkin kulakukan, lagipula hal itu membuatku tak nyaman dan was-was, bagaimana kalo bukan dia jodohku kelak dan saat berganti pasangan rasanya seperti sia-sia dan timbul penyesalan kenapa bermanja-manja dengan pria yang dulu, begitu seterusnya. Karena sekarang kamulah suamiku, aku nggak akan khawatir lagi kan..."jelasku panjang lebar.


Kulihat mas Reza mengangguk-anggukkan kepalanya seakan mencerna ocehan dariku itu.


"Hmmm...boleh!"


Asyiiiiik.teriakku dalam hati.


"Tapi kalau kamu benar-benar sangguh jadi pacarku, banyak sekali konsekuensinya lo..." pancingku lagi.


“konsekuensi?"jawabnya menatapku lekat


“Apa mas Reza bisa menahan diri tidak melakukan itu selama kita masih pacaran…?" aku pun bertanya dengan hati-hati.


“Baiklah ... aku akan berusaha agar tidak tergoda oleh mu!" jawabnya dengan senyuman setelah berpikir sejenak.


Kamipun bersalaman. Lalu dia beranjak dari duduknya, mengacak rambutku dan berjalan kekamar mandi.

__ADS_1


Woooowww akhirnya aku bisa tidur nyenyak malam ini, asyik..lega deh.


Asal tau aja aku begitu kepikiran apa yang akan terjadi pada malam pertamaku yang membuat kepalaku migraine karena terjaga hingga tengah malam kemarin.


Tapi sisi hatiku yang lain mulai curiga, kenapa seorang pria disuguhi seorang perawan yang sudah halal baginya, bisa menahan hasratnya, jangan-jangan dia nggak nafsu sama gadis kerempeng kayak aku.


Hhhh...bodo amat deh, yang penting malam ini aku harus tidur nyenyak sampai pagi...


"Tok..tok..."suara ketukan di pintu kamarku, membuat mimpiku menguap.


Kugerakkan badanku kekanan kiri, masih ada sisa capek acara kemarin, harusnya aku tidur beberapa jam lagi agar capek ku hilang.


Kuraih sisir dan mengucek mataku. Kudengar suara orang mandi, mungkin itu mas Reza.


Dengan malas aku menyeret kakiku kearah pintu kamar lalu membukanya.


"Met pagi pengantin baru..." Tasya dengan mata berbinar menyapaku.


"Tasya?? Jam berapa nih...?!?"aku menutup mulutku karena menguap, sepertinya aku baru saja tidur selama dua jam kenapa sudah ada panggilan lagi sih.


"Ya ampun Amel, berapa ronde kalian melakukannya, sampe matamu kayak panda gitu .." ledek adik iparku itu.


Aku hanya bersedekap menanggapinya. Lalu diapun melongok kedalam kamar.


Aku masih malas membalasnya. Tiba-tiba mas Reza sudah berada disampingku sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Tercium aroma yang menyegarkan darinya, aku jadi minder karena belum mandi.


"Ada apa?"tanyanya kemudian.


"Tasya tuh piktor mulu.."sahutku segera berlalu untuk mandi.


“Aku hanya mengingatkan sholat subuh aja mas, khawatir kalian melewatkannya karena kecapekan..he..he.."ucap Tasya dengan kalimat yang punya banyak arti itu.


"Hmm..baiklah, terimakasih nona alarm...."


Aku tertawa mendengar sahutan mas Reza pada adiknya.


"Ngomong-ngomong semalem gimana mas?" telingaku masih mendengar Tasya yang penasaran dengan intrograsi kakaknya.


"Anak kecil dibawah umur jangan kepo ya..."sahut mas Reza sambil mengacak rambut Tasya lalu menutup pintu kamar kembali.


"Anak kecil? Hei istrimu itu seumuran ma aku kok…!! "Tasya masih ngedumel karena penasaran.


Setelah mandi, untuk pertama kalinya mas Reza menjadi imam dalam sholat subuh kami.

__ADS_1


Pagi itu setelah sarapan mas Reza mengajakku kerumahnya. Rumah yang dulu dihuni bersama mendiang mbak Vina.


Rumah itu tak begitu jauh dari perumahanku, kurang dari setengah jam sudah masuk dalam kompleks perumahan milik mas Reza.


Masuk dihalaman rumahnya kulihat taman cukup luas dengan aneka bunga berjajar dalam pot yang terawat dengan baik.


Meski tak sebesar rumah Tasya, namun karena berwarna putih bersih jadi terkesan luas. Kulihat halaman belakang juga cukup luas, sepertinya ini asli dari pengembang belum ada penambahan ruang lagi.


Dibawah hanya ada satu kamar tamu dan satu kamar kecil untuk gudang, sedangkan lantai dua ada tiga kamar tidur.


"Semua masih sama seperti tiga tahun yang lalu, apa kamu keberatan jika kita tinggal disini?”kata mas Reza datar.


Mungkin dia terkenang dengan mendiang istrinya, bagaimanapun dia memang sangat mencintai mbak Vina.


"Eh..kenapa keberatan? Rumahnya bagus kok”sahutku saat mengedarkan pandanganku.


Rumah ini jauh lebih besar dari rumah ibu dengan berbagai perabot yang pasti mahal, jadi bagiku yang memiliki kehidupan sederhana tak ada alasan untuk keberatan tinggal dirumah mewah ini.


"Karena sekarang kamu pemilik rumah ini..kamu boleh merubahnya” ucap mas Reza lagi.


Waduuh, bila dia bersikap manis seperti ini, lama-lama hatiku mulai mengembang.


"Eee...aku suka interiornya, jangan ada yang diubah deh..."sahutku nyengir, sebenarnya aku nggak tau menahu tentang rumah.


Lihat aja rumah ibu, asal taruh aja yang penting muat, soalnya ruangnya juga terbatas, he..he..


"Lalu siapa yang merawat semuanya ini mas?kelihatan sering dibersihkan.."tanyaku


"Ada bu Rijah yang datang pagi dan sore hari untuk bersih rumah, nyuci dan setrika bajuku" sahutnya.


"Masak juga?"


"Aku sudah terbiasa masak sendiri.."


Alhamdulillah, doaku terkabul punya suami yang bisa masak..wk..wk


Mas Reza mengajakku naik kelantai dua masuk ke kamar utama.


"Ini kamar kita..."


Bluuush....meski sejak semalam kami sudah tidur di ranjang yang sama, aku masih saja merasa malu mendengarnya.


Kusembunyikan rasa canggung dengan berjalan menuju jendela dan membuka korden yang menutupinya.


“Aku akan mengganti foto-foto ini "ucapnya seraya mengusap foto-foto pernikahannya dengan mbak Vina dengan wajah sendu.

__ADS_1


__ADS_2