
"Iya ma, kepalaku sakit sekali...."
"Nanti dokter akan memeriksa lagi biar sakitnya berkurang, apa kamu ingin makan, hmmm?"
"Nggak ma, nanti saja..."
Mas Reza tersenyum pelan lalu beralih ke arahku dan Tasya.
...----------------...
"Tasya...Amel...terima kasih kalian udah jenguk..." ucap mas Reza berusaha tersenyum di sela-sela rasa sakitnya.
"Jenguk? Istrimu nih udah berhari-hari nemenin kamu lo mas?"ucap Tasya protes pada kakaknya itu.
"Istri? Siapa?.."mas Reza terlihat bingung dengan ucapan adiknya itu.
Seketika senyumku memudar lalu aku dan Tasya berpandangan.
"Sayang...istrimu ya Amelia Pramesti..." jawab ibu sambil merangkul lenganku.
"Ha!!! Mama jangan becanda ya, aku nggak mungkin mengkhianati Vina, Ma! Nggak mungkin!! Aku nggak akan mungkin dekat cewek lain apalagi menikahinya!!" seru mas Reza ngotot lalu mengeluh lagi dengan sakit di kepalanya.
Aku merasa syok mendengar perkataannya, namun aku berusaha menahan rasa nyeri di hati ini. Bukankah aku harus siap menerima apapun keadaannya, asalkan dia bisa selamat dari kecelakaan...
Aku menatap mama dan menggelengkan kepala supaya tidak memaksanya, aku khawatir hal buruk terjadi kalau memaksa ingatannya kembali seperti semula. Paling tidak dia ingat namaku Amel...
" Sudahlah Reza, istirahat saja dulu biar cepat pulih ya..." Mama tersenyum berusaha membuat mas Reza tenang.
Keesokan harinya, saat dokter visit mengatakan mas Reza mengalami trauma yang menyebabkan sebagian ingatannya hilang.
Kemungkinan besar ingatannya berhenti pada masa setelah kematian mbak Vina. Rasa duka yang begitu dalam membuatnya kembali pada masa itu.
Setelah konsultasi pada dokter, kemungkinan besar mas Reza mengalami amnesia retrograde dimana pengidapnya tidak bisa mengingat informasi atau kejadian yang terjadi sebelum periode tertentu. Biasanya terjadi sebelum kejadian menjalani operasi besar atau mengalami kecelakaan.
Aku tak boleh menyerah, pasti ada cara agar aku harus bisa berdamai dengannya.
Selain vitamin atau suplemen , dokter juga menangani amnesia yang utama adalah melalui terapi. Dua jenis terapi yang bisa dilakukan untuk pengidap amnesia adalah terapi okupasi dan terapi kognitif. Terapi okupasi bertujuan untuk mengajarkan pengidap cara mengenal informasi baru. Sementara terapi kognitif dilakukan untuk menguatkan daya ingat.
Setelah mama berkata bahwa aku istrinya , sikapnya padaku berubah seperti membenciku. Seakan aku memaksanya berkhianat pada mbak Vina.
__ADS_1
Dan cara yang aman agar aku bisa dekat dengannya adalah mengikuti alur sesuai ingatannya sambil perlahan memberi ingatan tentangku.
Saat makan malam tiba, aku membantunya untuk duduk meski dia berusaha menolak karena biasanya mama yang melakukannya, namun kini kami hanya berdua.
Mungkin dia mengira aku cewek tak tau malu yang terus menempel padanya meski tak diharapkan.
“Aku ingin kamu tau rahasia kecil antara kita, mas..."dia masih saja mengacuhkan aku yang menyuapinya.
Bahkan dia pura-pura memainkan ponselnya agar tidak melihatku, dan hal itu lama-lama membuatku mulai jengah.
"Sebenarnya...kamu memang tak pernah mengkhianati mbak Vina kok mas, seandainya saja ada bukti tertulis yang bisa memberi penjelasan padamu..." kalimat itu membuat mas Reza tertarik dan mau melirik ke arahku ketika aku mengatakannya.
Akhirnya aku berhasil mendapatkan perhatiannya.
"Mungkin kamu tidak ingat tentang perjanjian kita, bahwa kita menikah dengan tujuan saling menguntungkan…”ucapku dengan nada datar.
Aku menghela nafas melihat reaksinya, kurasa aku harus berakting dengan maksimal, agar dia tidak curiga bahwa aku hanya bersandiwara.
Sambil memainkan peranku sebagai partnernya lalu kembali menyuapinya dan meski dengan raut wajah terpaksa mas Reza mau menerimanya.
Hmm...itung-itung belajar hadapi anakku yang sedang merajuk, batinku mulai tertawa sendiri.
Ya ampun alasan apa itu,aku hanya asal ngomong semoga dia percaya.
"Kenapa harus aku?"akhirnya dia bicara, dan itu membuatku merasa menang.
Aku menatapnya dan tersenyum lega. Dulu aku yang selalu bertanya itu padamu mas, kini aku hanya bisa menahan tawa karena pertanyaan itu berbalik padaku.
"Karena kamu masih saja mencintai istrimu, dan sama sekali tak menginginkanku jadi aku merasa aman. Kamu juga bukan tipeku kok... selama ini kita hanya berteman dan mas Reza hanya menganggap ku sebagai adik seperti Tasya. Bukankah itu artinya kamu tak mengkhianati cintamu kan..."
Kulihat dia berpikir mendengar ceritaku. Meski agak konyol, harusnya ceritaku itu bisa meyakinkannya agar aku bisa tetap tinggal bersamanya.
"Itu hanyalah rahasia kita, namun kalo kamu ingin kita berpisah akan kulakukan. Toh tidak ada paksaan antara kita, selain simbiosis mutualisme saja..."
Dia menoleh dan mata kamipun bertemu.
"Aku nggak mau mama sedih mengkhawatirkan keadaanku, baiklah kita bisa tetap melanjutkan perjanjian ini…"
Akhirnya aku berhasil melakukan scenario untuk menaklukkan hatinya dari nol. Biarlah aku jadi bucin suamiku sendiri.
__ADS_1
Setelah dua minggu menjalani perawatan intensif dirumah sakit, dokter memperbolehkan mas Reza pulang dengan jadwal terapi yang harus dijalaninya.
Aku sudah berpesan kepada ibu, mama dan Tasya agar aku didukung untuk mengembalikan ingatan mas Reza dengan caraku sendiri.
Dan kini kami harus pisah kamar untuk meyakinkannya bahwa kita hanya berteman ketika tak ada orang lain. Namun karena semua bajuku masih dikamar utama, aku harus mengambil beberapa untuk aku pindahkan dikamar sebelah.
Kubuka pintu kamar lalu masuk menuju lemari pakaian. Kudengar kamar mandi yang berisik, untunglah dia masih mandi.
"Apa yang kamu cari...?"suara mas Reza di belakangku membuatku terkejut ketika aku sedang mencari pakaian dalam yang ku maksud, karena perut dan dadaku semakin sesak memakai yang lama.
Aku pun berdiri berhadapan dengannya dan melihat dada bidang yang sungguh kurindukan. Ckk..hormon kehamilan ini menyiksaku, aku harus segera pergi dari sini.
"Mmm...aku ambil beberapa bajuku yang tertinggal di kamar ini, saat mama menginap dan kita harus satu kamar agar mama tidak curiga..."aku menunjukkan padanya lalu berlalu dari hadapannya.
Sikapnya yang begitu dingin membuat hatiku rindu kehangatannya dulu.
Seperti saat kami pertama kali sarapan bersama, mas Reza terlihat tidak nyaman menatapku seperti orang asing...
"Aku akan makan di ruang TV.."aku memilih untuk makan sarapanku diruang TV dengan nada cuek, meski sebenarnya sebal dengan pria itu.
Untung nafsu makanku meningkat saat ini, tak peduli dimanapun aku makan, terasa nikmat. Kadang untuk menghindari rasa sakit hati karena penolakannya itu, aku tak mempedulikannya dan melakukan aktivitasku seperti biasa yaitu berangkat kerja di Green Café, paling tidak di sana aku bisa bercanda dengan Richard.
Pagi ini cuaca agak mendung, namun tak menyurutkan semangatku berangkat ke Green Leaf Café.
Setelah bersiap-siap kupakai jaket dan ku tenteng tasku keluar dari kamar lalu menuruni tangga ketika kulihat mas Reza sedang menikmati sarapannya.
"Aku berangkat mas, assalamualaikum..."pamitku padanya.
Diapun menoleh, menatapku dengan pandangan datar.
"Nggak sarapan dulu?" tanyanya kemudian.
"Lagi pengen beli bubur ayam aja..."kulihat ada nasi goreng dimeja makan membuatku menelan ludah, namun rasa gengsi di hatiku lebih kuat..
"Hmm....waalaikumsalam.."sahutnya.
Hhh...Sebenarnya aku pengen sarapan dengannya, namun suasana hatiku sedang buruk dan tak ingin berlama-lama bertemu dengannya.
__ADS_1