Meski Tak Sempurna

Meski Tak Sempurna
Hati yang luka


__ADS_3

" Apakah mbak Vani menyadap pembicaraan kami?" tanyaku dengan tajam. Bagaimanapun hal itu sudah diluar batas, lama-lama wanita ini seperti seorang stalker deh...


...----------------



...


" Kenapa dia begitu mudah mengabaikan permintaan mbak Vina, apakah hatinya memang telah berpaling pada wanita seperti mu..." gumam mbak Vani seakan bicara pada dirinya sendiri.


Seandainya memang benar mas Reza telah menyerahkan sepenuh hatinya padaku, aku pasti menjadi wanita yang paling bahagia...namun sayangnya bayang-bayang mendiang istrinya begitu erat mengikatnya, hingga tak pernah sekalipun ada ucapan cinta pada wanita lain, termasuk untukku...


"Aku bahkan berharap ingatannya tak kan pernah kembali. Impianku telah berakhir, aku lelah, aku tak sanggup hidup seperti ini ..." ucapnya sambil menatap pantulan wajahnya yang penuh air mata di cermin wastafel.


Ucapannya itu membuyarkan lamunanku.


" Sudahlah mbak, kurasa keputusan mas Reza yang kamu dengar sendiri tadi, sudah cukup jelas membuktikan bahwa mas Reza tak bisa melepaskan tanggung jawab pada istrinya yang sekarang? Positif thinking mbak Vani bisa melanjutkan hidup dan akan bertemu dengan jodoh yang sebenarnya..." sahutku mencoba memberinya pencerahan, namun mbak Vani memotong kalimat ku.


"Cukup!!! Kamu tak pernah merasakannya.."dia menoleh dan membentak ku.


Suaranya menggema memenuhi ruangan itu, hanya beberapa wanita yang menggunakan toilet tampak tak acuh dengan kehadiran kami.


"Kamu tau apa?!? Semua gara-gara kamu, seandainya kamu tak ada, pasti semua berjalan lancar..."ucapnya sambil mendorongku ke tembok dengan kasar.


Melihat mbak Vina yang mulai emosi, orang-orang yang tadi masuk silih berganti kini bergegas menjauh dan pergi.


" Bila kita sama-sama berlapang dada, kita akan tetap menjadi teman baik mbak...mas Reza juga tak mau merusak hubungan baik dengan keluarga besar mendiang istrinya..." segala bujuk rayu aku ucapkan agar ada jalan keluar tanpa menyakiti siapapun...


"HHhh..sudahlah, kamu nggak usah sok peduli padaku. Kamu yang menyebabkan dia berpaling dariku!! Aku sangat membencimu!! Sekarang pergilah, aku tak mau melihatmu lagi..." emosi mbak Vani mulai tak stabil, dia melempar semua barang miliknya.


Aku tak tau harus bagaimana menghadapi wanita yang mulai sakit jiwa ini. Semoga mbak Vani tidak menyakiti dirinya sendiri..


Ku langkahkan kaki menjauh, sambil sesekali menoleh kearah wanita itu, dia masih menatapku tajam dengan matanya yang penuh dengan air mata melalui cermin wastafel dihadapannya.

__ADS_1


Perasaan khawatir akan hal buruk akan dilakukannya membuatku berhenti dan membalikkan badanku.


Tak percaya yang kulihat dia mengeluarkan pisau lipat dari tasnya lalu hampir menorehkan pisau itu ke nadi tangan kirinya.


Segera ku hampiri dan reflek ku pukul tangan kanan yang memegang pisau, berharap pisau itu terhempas dari tangannya. Namun rasa sakit hati begitu kuat membuat tangannya menggenggam pisau itu begitu erat.


"Apa yang kau lakukan?"ucapku dengan nafas tersengal karena panik.


Diapun sama, dadanya naik turun mengimbangi emosi yang menguasai hatinya.


"JANGAN PEDULIKAN AKU!! "dengan air mata yang deras mengalir dia membentak ku.


Aku mulai bergidik ngeri ketika melihatnya akan mengulangi tindakannya tadi. Sontak tanganku meraih tangannya dan dengan ilmu karate yang pernah ku pelajari, ku putar tangan itu dan menguncinya.


"Jangan bodoh mbak!!" suaraku mulai tercekat karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Lepas!!!" mbak Vani mencoba untuk berontak dari pegangan tanganku.


Orang-orang yang hendak masuk kedalam menghentikan niatnya dan berbalik, kuharap diantara mereka ada yang memanggil keamanan.


Tak kusangka secepat kilat dia memukul kaca wastafel dengan tas yang dibawanya hingga pecah berkeping-keping dan mengambil pecahannya yang lancip dan panjang, menggenggam erat hingga telapak tangannya berdarah.


"Jangan mbak, kumohon jangan lakukan itu..." aku mulai memelas, setidaknya aku harus berusaha menyadarkannya meski tak yakin bisa.


Dia hanya tersenyum sinis padaku, dan perlahan pecahan kaca yang ada ditangan kanannya menempel ditangan kirinya hingga membentuk sayatan. Wajahnya mulai menampakkan rasa sakit yang dirasakannya.


Debar jantungku masih tak normal, ketika secara spontan aku maju dan menghentikan tindakannya itu. Kupegang erat tangannya lalu kuangkat keatas untuk menghindari pecahan kaca yang dipegangnya mengenai tubuh kami berdua.


"Sadarlah mbak jangan begini..."aku terus meracau, meski tak dihiraukannya


Orang-orang yang mau masuk ke toilet mulai histeris dan meminta tolong.


Ketika terjadi dorong mendorong diantara kami, entah mengapa tenagaku mulai terasa habis terkuras. Sedangkan mbak Vani malah semakin kuat, sehingga ketika dia hendak menarik tangannya dari cengkeramanku, aku terdorong ke belakang menabrak tembok.

__ADS_1


Tenagaku yang mulai lemah, menyebabkan dia mengibaskan pecahan kaca menggores keningku, aku memejamkan mata menahan rasa perih karena sayatan itu. Dan entah bagaimana bisa tiba-tiba benda itu menusuk dadaku.


Nafasku mulai tersengal, aku pun memuntahkan cairan dari mulutku dan ketika kulihat ternyata darah kental. Kakiku mulai merosot tak mampu menahan beban tubuhku.


Aku berusaha bernafas meski dengan tersengal-sengal, semakin lama aku semakin lemah dan merasakan hawa dingin di sekujur tubuhku. Apakah aku akan mati? Maafkan bunda nak, mungkin kalian tak sempat merasakan dunia...air mataku meleleh merasa gagal menjaga kedua anakku.


Tubuhku semakin lemah, namun sempat kulihat mbak Vani histeris melihatku tersungkur. Dan menit kemudian aku juga melihatnya tergeletak dengan pisau yang menggores nadinya.


Lalu samar-samar kudengar suara mas Reza


“Astagfirullah...Amel, kenapa bisa begini!! Pak Rudi bawa mobil di pintu utara Mega Mall, Amel terluka..." sepertinya dia menelfon supirnya, lalu aku merasa dia menyelimuti ku dengan jasnya dan segera menggendongku.


"Tolong panggil ambulan untuk wanita itu!!!" teriak mas Reza lagi, mungkin untuk orang-orang yang mulai berkerumun.


Kepalaku terasa berat, kabut mulai menutupi mataku yang terasa sangat lelah.


Hingga saat masuk ke dalam mobil, aku teringat bahwa aku belum memberitahu tentang anak kami.


Dengan sisa tenaga, aku menggeser telapak tangannya ke perut ku.


" I..ni, a..yah kalian ...nak..." dengan terbata ku berusaha memperkenalkan si kembar dengan ayahnya.


Entah bagaimana ekspresi mas Reza saat itu, aku hanya fokus pada nafas ku yang semakin sesak...


Makin lama sayup-sayup suara mas Reza yang terus memanggilku semakin menghilang dan aku mulai tak sadarkan diri.


Mataku terbuka. Namun yang kulihat sosok mas Reza yang panik sedang memangku tubuhku didalam mobil yang dikemudikan supirnya.


Kenapa aku bisa melihat kejadian ini ? apa memang inilah akhir hidupku...


"Amel kumohon bertahanlah...jangan tinggalkan aku! Kamu pasti bisa..kita hampir sampai, kamu harus kuat..." suara mas Reza yang terbata dengan air mata yang mengalir di kedua sudut matanya, sambil memeluk tubuhku yang sudah mulai lemas tak berdaya.


__ADS_1


__ADS_2