Meski Tak Sempurna

Meski Tak Sempurna
Dia telah kembali


__ADS_3

Kenapa aku bisa melihat kejadian ini ? apa memang inilah akhir hidupku...


"Amel kumohon bertahanlah...jangan tinggalkan aku! Kamu pasti bisa..kita hampir sampai, kamu harus kuat..." suara mas Reza yang terbata dengan air mata yang mengalir di kedua sudut matanya, sambil memeluk tubuhku yang sudah mulai lemas tak berdaya.


...----------------...



Sampai di rumah sakit aku masih bisa melihat semuanya, mulai dari masuk IGD mas Reza dengan pakaian yang penuh darah menggendongku dan meletakkan tubuhku yang tak berdaya itu di brankar.


Aku merasa melayang mengikuti tubuhku yang sudah melalui tindakan medis dengan berbagai alat yang menempel di tubuhku. Bahkan harus dilakukan tindakan operasi karena lukaku yang cukup dalam dan menyebabkan aku kehilangan banyak darah.


Entah berapa lama aku berada di ruangan itu.


Seakan tembus pandang aku juga bisa melihat diluar ruangan operasi, seorang pria setengah frustasi terlihat sangat berantakan, matanya menatap kosong.


Mas Reza, seandainya kita berjodoh hanya sampai disini, semoga kamu segera menemukan penggantiku.


Beberapa jam kemudian datanglah ibu yang sangat ku sayangi masih dengan isak tangisnya dan wajah cemasnya membuatku iba.


Ibu datang bersama mama Nina dan Tasya, mereka satu persatu memberi pelukan kepada mas Reza yang terlihat rapuh.


"Aku melakukannya lagi Ma...." ucap mas Reza dengan raut wajah menahan perasaan.


Mama Nina duduk bersebelahan dengan mas Reza sambil mengusap lengan putranya itu, berharap dapat menenangkan hatinya.


"Aku membawa istri dan calon anakku dalam bahaya...sama seperti Vina dulu..." suara rapuh itu terdengar menyedihkan.


"Maksudmu...Amel sedang hamil..?"tanya Mama nina yang membuat ibu dan Tasya menoleh

__ADS_1


Mas Reza pun mengangguk dan menelan ludah dengan susah payah.


Seketika ibu menutup bibirnya yang bergetar menahan isak tangis yang dari tadi menemaninya.


"Ya Allah...."Mama Nina juga terguncang mendengarnya.


"Allah sedang menghukum ku Ma, aku pasti sudah melakukan dosa besar hingga aku harus mengalami kejadian ini lagi..."ucap mas Reza lagi.


"Nggak Reza ... ini ujian kita semua, kamu harus tetap berbaik sangka pada Allah, lagipula Mama yakin, ini tidak sama dengan yang dulu. Kau tahu sendiri kan? Amel wanita kuat, dia tak mudah menyerah begitu saja. Dia pasti selamat, kami semua yakin itu, kamu juga harus yakin...teruslah berdoa Reza..." sahut Mama Nina merangkul putranya berusaha memberi kekuatan pada pria rapuh itu.


Mas reza menoleh dan menatap mama Nina dengan mata lelahnya, lalu mengangguk dan menarik sudut bibirnya.


"Sekarang bersihkan dirimu, ini Mama bawakan baju ganti untukmu..."Mama Nina menyerahkan paper bag pada mas Reza.


Hari menjelang petang ketika dokter keluar dari ruang operasi menemui orang-orang yang menanti kabar tentang kondisi ku. Aku masih bisa melihat mereka semua yang cemas berharap mendapat kabar baik dari dokter.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" dengan cemas mas Reza segera menghampiri dokter itu.


"Lalu ...bagaimana dengan kandungannya..?"


"Kami sudah memberinya penguat, dan apabila kondisi ibunya sudah membaik, saya yakin anak-anak anda bisa bertahan..."


"Terima kasih dok, apa saya bisa melihatnya.."


"Silahkan.. istri anda sudah dibawa ke ICU, mohon menjenguknya secara bergantian..."


"Baik dok..."


Dokter pun berlalu meninggalkan mereka yang sedikit lega, meski hanya mendengar penjelasan dokter itu.

__ADS_1


"Reza....tadi dokter mengatakan anak-anak kalian apakah...?"tanya ibuku penasaran.


"Iya bu, semoga cucu kembar ibu selalu dalam keadaan baik-baik saja..." mas Reza menatap sayu ke ibu, kurasa dia takut bila ibu tak sempat melihat cucu kembarnya.


Ibu kembali menangis mendengarnya, antara sedih dan bahagia bercampur jadi satu.


Aku masih melayang mengikuti tubuhku yang didorong menuju ruang ICU. Kulihat wajahku yang pucat, oksigen membantu pernafasan ku dan selang yang dimasukkan hidungku membawa nutrisi untukku dan anak-anakku.


Mataku melihat sekelilingku, aku tak sendiri ada beberapa orang yang bernasib sama denganku, hanya bisa diam menunggu disamping tubuhnya menanti keputusan yang maha kuasa, apakah akan kembali pada tubuhnya atau harus meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Hanya menunggu takdir yang sudah terencana oleh-Nya.


Dengan berbalut pakaian steril , mas Reza datang menghampiri tempat tidurku. Wajahnya sudah tak terlalu kusut seperti sebelumnya, namun mata sembabnya yang terlalu lama menangis jelas terlihat.


"Amel...semoga kamu bisa mendengar ku..." air matanya kembali meleleh lewat sudut matanya meski tanpa isakan.


"Melihat mu terluka seperti tadi, seketika seluruh bayangan saat bersamamu terlihat didepan mataku, membuat ku telah kembali sepenuhnya, bahkan aku juga ingat saat berpesan padamu jangan dekat dengan bahaya, panggil saja keamanan, dan ternyata kamu memang bandel..."dia menahan tawa dan Isak tangis bersamaan.


"Sungguh aku menyayangimu, bertahanlah, maafkan aku yang selama ini tak menghiraukan mu, ijinkan aku membuatmu bahagia...beri aku kesempatan itu..." kembali dia mengusap air matanya, sedangkan tangan satunya menggenggam tanganku.


“Tiga tahun yang lalu, aku juga berada diposisi yang sama seperti ini, menemani Vina yang telah mengandung anakku dalam kondisi koma. Namun sayangnya dia tak pernah bangun lagi. Aku berusaha ikhlas karena dia sudah lama menderita karena sakitnya. Aku sudah berjanji untuk selalu mencintainya sampai kapanpun, karena itulah aku nggak bisa mengatakannya padamu. Maaf karena aku egois seperti ini, namun meski tanpa ucapan itu, aku ingin kamu merasakan betapa besar rasa sayangku padamu melebihi nyawaku sendiri..."


"Seandainya bisa, biar aku saja menggantikan posisimu...tapi aku harus yakin kamu istriku yang kuat, kamu harus bangun, melanjutkan hidup bersamaku, dan membesarkan anak-anak kita, aku menyesal, kamu merasakan sakit seperti ini gara-gara aku... Maafkan suamimu yang bodoh ini , Mel! Kumohon hukumlah aku dengan cara lain, jangan dengan melihatmu tak berdaya seperti ini, aku benar-benar hancur melihatmu berlumuran darah hampir meregang nyawa seperti tadi...."


Mas Reza terus mengajakku bicara , bahkan aku belum pernah mendengar ucapannya yang panjang dan lebar. Biasanya aku lah yang selalu mengoceh sedangkan dia hanya menyahut sekedarnya saja...


Mas Reza mengajakku ngobrol seakan aku memang mendengarkannya, ingin sekali aku menggoda, meledek dan berdebat dengannya seperti ketika kami terlibat pembicaraan yang nggak penting.


Namun kali ini aku melihat kesungguhan dalam ucapannya itu, seharusnya aku juga minta maaf padanya, mengapa harus mempermasalahkan ungkapan cinta sedangkan dia memperlakukanku seperti ratu di hatinya.


Apakah Yang Maha Kuasa akan memberikan kesempatan padaku untuk menjawab semua ungkapan yang telah disampaikan pria yang telah membawaku dalam ikatan pernikahan itu?

__ADS_1


Ya Allah, aku pasrah akan takdir yang telah Kau tetapkan, namun ku mohon berilah ketenangan hati pada pria itu. Bukankah semua yang dia lakukan telah sesuai dengan ajaran Mu ya Allah...


Berikan mas Reza kebahagiaan dengan ataupun tanpa diriku....


__ADS_2