Meski Tak Sempurna

Meski Tak Sempurna
Weekend kelabu


__ADS_3

Mendengar kasak kusuk tentang Presdir dan wanita yang sedang dekat dengannya merupakan hal menarik bagiku.


Begitu banyak wanita cantik dalam gedung ini, kenapa dia harus memilihku? Kurasa pertanyaan itu akan selalu terngiang-ngiang dalam otakku.


...----------------...


Seperti hari ini, aku telah menyusun file sponsor-sponsor yang masuk bulan lalu, ketika kudengar suara mbak Vida keluar ruangan sedang menelfon seseorang.


"Baik pak, saya sudah menghubungi pihak terkait untuk klarifikasi masalah itu. Pak Reza bisa langsung menyanggahnya" ucap mbak Vida serius.


"Iya, saya mengerti. Sama-sama pak Reza.."ucapnya lagi.


Senyum terukir dibibirku ketika nama suamiku disebut dengan hormat.


"Amel..." mbak Vida mengejutkanku yang sedang senyum-senyum sendiri.


"Iya mbak, ada yang bisa saya bantu?"


"Ah nggak, kelihatannya hepi banget, apa Reno udah berhasil nembak kamu?"goda mbak Vida.


Senyumku jadi kecut mendengarnya. Apalagi terdengar suara-suara yang lain ikut menggodaku..


"Tapi mas Reno terlambat, mbak...Amel udah punya gandengan!" seru Aliya.


"Oh ya? tapi sebelum janur kuning melengkung, jangan nyerah dulu Ren?"mbak Vida masih di depanku dan menyilangkan tangan di dadanya.


Ggrr... terdengar suara riuh yang lain masih bersahut-sahutan.


"Maaf ya Mel, hanya becanda! Makanya jangan diumpetin pacarmu, kayak Aliya itu lo, diantar jemput tiap hari..."mbak Vida tertawa melihatku salah tingkah.


Aku hanya nyengir menanggapinya. Lagian siapa yang ngumpetin, kalo nggak luar kota, tiap hari kalian juga melihatnya kok..batinku.


Hari-hari kulalui penuh dengan warna, namun ada satu warna yang hilang dan aku mulai merindukannya.


Malam itu week end. Tasya ijin padaku untuk keluar bersama Adit.


"Ngapain sih pake ijin aku ? emangnya aku nyokap lu apa?" ucapku sewot.


"Issh kakak iparku galak amat, pasti lagi kangen sama mas Reza ya?" ledek Tasya.


"Udah sana pergi...hush..hush..."


Tasya menjulurkan lidahnya padaku, saat keluar meninggalkan ku sendirian.


Kulihat kepergian mereka berdua dari depan pintu, huu..hu.. pengen juga sih, pergi kencan seperti mereka.

__ADS_1


Dengan sebal ku tutup pintu dan kembali ke ruang tengah. Ku pegang remot televisi, kucari-cari acara yang menarik perhatianku namun gagal. Semuanya membuatku nggak mood..


Aarrgghh kenapa aku jadi uring-uringan gini sih...


Akhirnya kutoleh ponsel di sebelahku. Sebel bnget!!


Kenapa dia nggak juga menghubungiku sih!!! Gengsi banget kalo aku duluan yang harus telfon.


Kulangkahkan kakiku ke lantai atas dan masuk kekamarku. Kuhidupkan TV dikamar dan kusebar majalah ditempat tidur untuk menemaniku berharap aku segera mengantuk dan terpejam.


Namun sampai hampir jam sebelas malam, mataku masih tak mau bersahabat. Menatap layar TV sambil sesekali melirik ponsel yang dari tadi diam seribu bahasa. Mungkin tadi dia masih sibuk dan lelah lalu sekarang pasti sudah terlelap.


Hhh...sudahlah. Padahal biasanya sebelum jam tidur dia selalu mengajakku debat lewat chat, jadi nggak salah dong kalo week end gini, aku siap diajak debat sampai pagi.


Tasya juga, kenapa jam segini belum pulang sih? Jadi tambah kesepian nih


Tak sadar aku membuka lemari, mengambil kemeja yang digantung dan mengeluarkannya.


"Hei pacar jadi-jadian kemana aja sih kamu?!?" aku mulai bicara dengan kemeja warna biru itu.


"Lupa ya kalo hari ni tuh malem minggu!! Jadwal ngapel tauukk....!!!" ku tunjuk-tunjuk kemeja itu dengan jariku.


"Udah bosen ma aku hmm? Oke kita putus, biar aku bisa kembali pada bang bule aja...aku nggak mau balikan lagi ma kamu, meskipun kamu nanti berlutut memohon padaku!!" aku memarahi kemeja itu habis-habisan. Apa aku sudah mulai gila bodo ah yang penting amarahku terlampiaskan.


"Apa!! Minta peluk?? Oke, ini pelukan perpisahan!!" ku hampiri kemeja itu dan kupeluk , harum maskulin khas miliknya membuat hatiku berdebar.


Dasar !! mas Reza bodoh...jeritku dalam hati.


Bagaimana rasa rinduku padanya bisa sebesar ini sih...sebal...


"Kenapa hanya kemeja kosong yang dipeluk? Nggak mau yang ada isinya aja nih?"


Suara itu membuatku mengedarkan pandangan, dan berhenti pada seseorang yang berdiri didepan pintu kamar.


Aku menatapnya nanar, ku tautkan kedua alisku khawatir kalo aku mulai berhalusinasi.


Dia tersenyum menghampiriku yang diam mematung masih tak percaya.


Kurasakan tangannya membelai pipiku, seakan membuktikan bahwa dia nyata.


Tak juga mendapat respon dariku, dia menarik ku dalam pelukannya.


"Amel...aku juga rindu..."bisiknya ditelingaku.


Aku menghembuskan nafas, kesadaranku pulih, akhirnya aku mampu tersenyum dan membalas pelukannya.

__ADS_1


"Aku lagi marah nih..."sahutku nggak nyambung.


Ya ampun sejak kapan mas Reza nongol, jangan-jangan dia lihat kekonyolanku tadi. Ah bodo amat....


Dia melepaskan pelukannya, senyuman dan tatapannya lembutnya itu kembali menghipnotis ku. Kini tangan kanannya meraih tengkukku mendekatkan wajah kami.


Detak jantungku mulai tak beraturan ketika bibir kami bersentuhan , menyisakan rasa manis dan menghanyutkan. Ciumanku yang pertama terasa begitu lembut, inikah rasanya ciuman yang biasanya hanya kulihat pada film roman.


Sedikit pening saat dia memperdalam ciumannya, ku genggam kemejanya seakan aku butuh pegangan karena ini mulai terasa sangat memabukkan, meski hampir kehabisan nafas namun aku mulai ketagihan.


Ketika dia menghentikan aksinya, akupun mengambil nafas dalam-dalam.


Nafas kami beradu, ketika dia kembali mencium bibirku seraya menggendong dan merebahkan ke tempat tidur.


Semakin lama, dia semakin terbawa hasratnya. Ciuman yang semula pelan semakin memburu. Sementara tangan kanannya mulai masuk ke dalam kaos longgar yang kupakai , mengusap lembut perut dan punggungku dan...


"Aaaaa!!!..." sebuah teriakan mengagetkan kami.


Seketika aksinya terhenti karena teriakan seseorang yang menutup mata dengan kedua tangannya di pintu kamar kami yang terbuka.


Reflek kudorong tubuh mas Reza yang sudah menindihku, dan diapun terguling kesamping. Segera aku beranjak dari tempat tidur. Rasa malu membuatku salah tingkah...


"Kalian ini, menodai mata perawanku!!! Kunci pintu dong!!!"protes si anak perawan itu.


"Pintu depan udah aku kunci kok.."gerutu Mas Reza yang terdengar sewot bukan main.


“Aku bawa kunci sendiri, biar nggak ngebangunin Amel kalo udah tidur..." ucap Tasya pada kakaknya sambil membereskan barang-barangnya di kamar ini.


"Maaf deh mas, ..katanya pulang hari selasa, kok sekarang udah disini sih!!"Tasya masih membela diri sambil senyum-senyum penuh arti.


"Udah-udah ... ayo kita tidur dikamar sebelah.."sahutku menengahi kakak adek itu, sembari menggiringnya keluar kamar.


"Aku tidur sendiri dikamar bawah aja, Mel! Aku ni pengertian, kalian lanjutin aja yang tadi... kalo dikamar sebelah, nanti kupingku denger suara-suara tak lazim, malah nggak bisa tidur kan..bayangin yang nggak-nggak.."ucapnya dengan senyuman mesum dan menutup pintu kamar ini lalu melangkah pergi ke kamar bawah.


Aduuuh...gimana nih, aku masih malu menghadapi mas Reza. Segera aku masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuknya. Setelah keluar dari kamar mandi kulihat dia membereskan kopernya.


"Air hangatnya sudah siap mas.." ucapku seperti tak terjadi apa-apa.


"Hmm...terimakasih ya.."dia menoleh dan mengangguk.


Sepertinya dia juga jadi canggung berhadapan denganku.


Begitu mas Reza masuk kamar mandi, segera aku tidur dan menutup tubuhku dengan selimut agar tak bertatapan dengannya lagi.


Hampiiiiir saja malam pertamaku terjadi .....

__ADS_1



__ADS_2