Meski Tak Sempurna

Meski Tak Sempurna
Meski tak sempurna


__ADS_3

Mas Reza mulai mendekat dan bersimpuh di hadapan mertuanya itu. Seperti seorang pidana, dia terlihat siap dengan segala hukuman yang akan diterimanya...


" Saya minta maaf...." ucap mas Reza untuk kedua orang didepannya.


...----------------...


" Sebelumnya kami memang sangat membencimu Reza, karena kamulah kedua putri kami selalu menentang keinginan kami...namun sekarang kami berdua sadar bahwa semua sudah dalam catatan takdir, termasuk saat kami kehilangan kedua putri yang sangat kami sayangi..." ucap pak Hendra dengan nada getir.


" Sudahlah Reza, kami telah belajar untuk memaafkan mu, apalagi kami masih mertua mu, bukankah kamu dan Vina tak pernah bercerai?" Bu Hendra mencoba tersenyum.


Kalimat itu membuat mas Reza mendongak dengan mata yang berkaca-kaca.


" Bangunlah, lanjutkan hidupmu dan semoga kamu bahagia dengan keluarga barumu..." bu Hendra menoleh padaku dengan tatapan tulus seorang ibu.


" Kami berharap sesekali kamu masih mau bersedia mengunjungi kami bersama anak-anak kalian... bagaimana pun kami juga ingin dipanggil kakek dan nenek..." sahut Pak Hendra.


Seketika mas Reza berdiri dan memeluk sepasang suami istri itu seperti orang tuanya sendiri.


" Terimakasih ayah, ibu... kami pasti akan mengunjungi kalian..." ucap mas Reza kemudian.


Suasana haru melingkupi area pemakaman itu. Meski hanya ada beberapa orang entah saudara atau bukan, namun mereka ikut tersenyum dan menitikkan air mata melihat adegan mas Reza dengan mertuanya itu.


Setelah berpamitan, kami berdua pulang dengan perasaan lega.


Beberapa bulan kemudian, akhirnya kami telah siap menanti kelahiran anak kembar kami yang HPLnya tinggal beberapa hari.


Karena sudah dekat dengan HPL, ibu mulai menginap di rumahku.


Suatu hari mas Reza terlihat gusar setelah menerima telepon.


" Ada apa mas?" tanyaku saat menyusul pria itu duduk diruang tamu.


Pria itu tersenyum lalu mencium perut buncit ku.


" Tidak ada apa kok?" sahutnya.


" Ya sudahlah, jangan tiru ayahmu yang suka bohong sama ibu ya nak..." ucapku seraya mengusap perut ku.


" Hei ... Siapa yang suka bohong?" protesnya.


Aku hanya menatapnya dan mulai dengan aksi ngambek.


Melihat tingkahku itu, mas Reza menghela nafas panjang lalu meraih jemari tanganku.


" Hhh... mereka ingin besok aku datang langsung untuk negosiasi proyek di Bali ... padahal aku nggak ingin jauh darimu selama menanti kelahiran anak kita..."


" Oooh..." sahut ku lega tidak merasa penasaran lagi.


" Sudahlah biar diatasi si Yogi saja..."ucapnya kemudian.


" Kalau cuma negosiasi kan cuma sebentar.."


" Ya ... Paling satu hari sih, tapi aku khawatir bila saat ini jauh darimu..." mas Reza menarik ku hingga aku bersandar di bahunya.


" Masih ada waktu dua mingguan dan lusa kamu juga sudah sampai rumah...kalau memang proyek itu penting, jangan menyusahkan Yogi terus dong... bukankah sudah beberapa kali kamu tidak masuk kantor...jangan makan gaji buta ya..." ledekku.


" Amel...apa kamu tak mau aku temani dirumah!?!"


" Aku hanya tak mau, ayahnya anak-anak jadi pemalas...nanti mereka menirunya..."


Mas Reza terkekeh mendengarnya.


" Baiklah besok aku akan berangkat dan secepatnya akan kembali untukmu..."sahutnya seraya mencium keningku.


Keesokan harinya, setelah mengantar mas Reza sampai depan rumah aku berencana memasak bersama ibu.

__ADS_1


Hari itu kami akan membuat dimsum. Dan ternyata hasilnya begitu banyak hingga bisa kuberikan pada tetangga sebelah rumah yang bernama Revan. Seorang perjaka yang tinggal sendiri dan doyan makan sehingga tubuhnya agak tambun karena terlalu cuek dengan penampilannya.


Malam harinya, seluruh tubuhku terasa sangat capek.


Pukul tujuh malam mas Reza menelepon ku.


" Assalamualaikum Amel..."


" Waalaikum salam mas..." sahut ku dengan malas.


" Kamu kenapa ? Apa kamu sakit?" dengan nada khawatir dia mengganti panggilan telepon dengan video call.


Aku tertawa kecil melihat tingkahnya itu.


" Aku hanya sedikit lelah kok, tidak apa-apa.."


" Tapi wajahmu pucat Mel...aku akan cari penerbangan terakhir, aku akan pulang sekarang juga...."ucapnya berdiri dan terlihat membereskan barang-barang sambil tetap memegang ponselnya.


" Apa urusanmu sudah selesai?"


" Sudah, aku baru saja sampai di hotel...apa pak Dirman masih disana?"


" Tentu saja, bukankah mas Reza memaksanya menginap malam ini..."


" Baiklah, tolong minta ponselnya selalu aktif mungkin tengah malam nanti aku minta dijemput di bandara..."


" Kamu pasti capek mas, istirahatlah dulu pulangnya besok pagi saja..."


" Tidak, aku akan pulang sekarang, percuma disini bila pikiran ku ada dirumah..."


" Hhh...kamu tuh berlebihan deh mas, baiklah kalau begitu hati-hati dan cobalah tidur diperjalanan...kami akan menantimu ayah... assalamualaikum..."ucapku pada pria yang ada diseberang.


Terlihat senyuman lepas di layar ponselku.


" Waalaikum salam..." sahutnya terlihat lega.



Entah pukul berapa akhirnya aku tertidur, namun tiba-tiba aku kembali terbangun karena perut ku terasa sangat kencang.


Benarkah sudah waktunya lahir, aku mulai cemas.


Dengan tertatih aku berjalan ke kamar sebelah tempat ibuku tidur.


Sambil mengatur nafas, aku membangunkan ibuku.


" Amel...kenapa? Apa sudah terasa kencang?" ucap ibu mulai panik.


" Iya Bu, rasanya juga ada cairan yang keluar..." ucapku disela-sela mengatur nafas panjang.


" Kita harus segera ke rumah sakit, kamu duduklah dulu biar Bu Rijah menyiapkan barang-barang dan aku akan minta tolong nak Revan mengantar kita ke rumah sakit..." ucap ibu menuntunku ke teras depan.


" Dimana pak Dirman Bu?" tanyaku sambil menahan sakit yang luar biasa disekitar perut bawahku.


" Pak Dirman ditelpon Reza untuk menjemputnya ke bandara setengah jam yang lalu..." sahut ibu sebelum keluar menuju rumah sebelah.


Rasanya semakin tak nyaman, sehingga aku memilih untuk berjalan mondar mandir di teras, sambil mengusap perut besar ku ini.


Kulihat ibuku menggedor pintu rumah ini tengah malam itu. Mungkin karena masih tengah malam sulit sekali membangunkan si Revan.


Beberapa kali aku juga menelfon pria itu, meski aktif namun tidak ada jawaban.


Saat aku merasa ada yang mengalir di kedua kakiku, aku merasa panik dan menyusul ibu dirumah sebelah.


Perumahan kami tipe cluster dan tidak ada pagar pembatas, sehingga dengan mudah aku berjalan ke samping rumah.

__ADS_1


" Amel... sepertinya Revan tidak dirumah..." ucap ibu mulai panik.


Dengan menahan rasa sakit aku kembali menelfon Revan sambil berdoa agar pria itu segera keluar rumah.


Tubuhku mulai lelah, kepala ku terasa berat hingga tanganku bergetar memegang ponsel.


Tak lama kemudian keluar juga seorang pria tambun dengan rambut acak-acakan.


Beruntung Revan ada dirumah, karena saat itu aku mengalami pendarahan hebat dan pingsan didepan pintu rumah ini.


(Adegan ini juga muncul di Melukis Rasa...🤗)


Entah apalagi yang terjadi, hingga saat aku membuka mata samar-samar terdengar tangis bayi yang membuat ku terjaga.


" Amel..." mas Reza mendekat dan mencium keningku.


" Anak-anak...?"


" Mereka sangat sehat, terimakasih ya..." sahut mas Reza dengan raut wajah sangat bahagia.


" Maaf, aku hampir saja membahayakan mereka...aku juga tak bisa melahirkan dengan normal..." ucapku dengan nada menyesal.


" Sssttt... Kamu seorang ibu yang kuat, jadi anak-anak kita bisa lahir dengan selamat...." mas Reza menggenggam tanganku dan mengusapnya untuk memberikan kekuatan padaku.


Suasana menjadi ramai saat banyak orang yang datang hampir bersamaan untuk menjenguk kami.


Keesokan harinya tubuh mulai pulih, apalagi melihat kedua anakku yang sehat memberi ku kekuatan ekstra hingga rasa lelahku tergantikan.


" Mereka tampan dan cantik...." seru Tasya saat mengambil gambar kami.



" Hei adek ipar, kamu juga harus segera punya bayi sendiri Lo..." ucapku padanya.


" Melihatmu perjuanganmu saat hamil membuatku takut Mel..." Tasya tampak tak percaya diri.


" Yang terpenting aku harus segera menikahi mu Tasya ... Aku tak akan menuntut apapun darimu, bila kamu tak ingin melahirkan, kita bisa adopsi saja..." ujar pria yang dari tadi mendampingi Tasya itu.


" Eh...jangan, aku juga ingin lihat ada anak kecil yang mirip denganmu..."sahut Tasya spontan, tentu saja membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa.


" Jadi... Maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku?" mas Adit mengeluarkan kotak cincin dari sakunya.


Seketika ruangan itu menjadi gaduh, melihat adegan lamaran itu.


Setelah sorak sorai penonton yang mendukung Tasya agar menerima lamaran dari mas Adit, akhirnya adik ipar ku itu mengangguk dengan wajah bahagianya.


" Maaf, sebenarnya beberapa kali aku menyiapkan rencana ini, namun selalu gagal karena ada saja yang membuatmu harus segera pergi...jadi aku putuskan disini saja, ditengah-tengah kebahagiaan keluarga besar mu, semoga kamu adalah jodohku hingga akhir umurku..." ucap mas Adit saat menyematkan cincin di jari Tasya.


" Terimakasih..." senyum bahagia terpancar di wajah gadis itu.


Mendengar ucapan mas Adit, membuat hatiku ikut merasakan kehangatan. Ku toleh mas Reza saat pria itu tersenyum dan melingkarkan lengannya di bahuku.


" Oh iya siapa nama anak kita..."tanyaku hampir saja lupa hal penting itu.


"Ammar Abimana dan Amira Abimana, semoga kelak membawa keberkahan bagi semua... "


" Amin...meski perjalanan hidup kita tak sempurna, namun aku yakin Allah selalu memberi kebahagiaan saat kita berhasil melewati ujian dari Nya" sahutku sambil menyandarkan kepala ku di bahunya.


" Kamu benar, terimakasih telah menemani dalam perjalanan hidupku yang tak sempurna ini..." ucap mas Reza mengeratkan pelukannya.


Akhirnya keluarga kami akan semakin besar, dan semoga segala kisah masa lalu kami menjadi hikmah bagi semuanya.


End


__ADS_1


( Terimakasih teman-teman readers, mohon maaf karena masih banyak kekurangan...


Sampai ktemu lagi dengan kisah manis yang lainnya....🤗🤗 )


__ADS_2