Meski Tak Sempurna

Meski Tak Sempurna
Tak percaya diri


__ADS_3

Kulihat dari kaca spion, dia masih didepan rumah menatap kepergianku dengan bersedekap. Kok aku seperti istri durhaka sih…


...----------------...


Sampai di kantor aku parkirkan motor maticku ditempat yang gak jauh kedalam karena hanya tempat itu yang kosong.


Biasanya aku lebih pagi sehingga dapat tempat yang lebih strategis, namun hari ini karena pergi dengan ganjalan di hati, aku pun melajukan motorku dengan kecepatan sedang.


Padahal biasanya hanya dua puluh menit sudah sampai, kali ini hampir empat puluh menit baru sampai parkiran, jangan-jangan aku terlambat.


Segera ku langkahkan kaki dengan terburu agar tepat pada mesin finger print. Bersama beberapa orang yang sepertinya senasib denganku berkejaran dengan waktu, berusaha masuk ke lift saling mendahului.


Dan sialnya hanya aku yang tertinggal karena terlalu penuh.


"Hhh menyebalkan banget sih..." gerutuku sewot.


Tiba-tiba seseorang meraih telapak tanganku dan menariknya. Seketika kulihat orang yang menarik ku itu, sebelum protes aku segera sadar siapa orang itu.


Mas Reza...?


Kini dia berada di depanku seraya menggandeng tanganku, dan dibelakangnya ada Yogi, asisten pribadinya yang mengikuti langkah kami.


Tanpa bicara apapun aku hanya menurut dan melihat sekitar, bagaimana kalau ada orang yang tau.


Bisa dikira skandal besar-besaran.


Lalu kami bertiga berhenti di lift khusus untuk dewan direksi dan segera masuk ketika pintu lift terbuka.


"Mas Reza apaan sih!"aku menghempaskan pegangan tangannya.


Dia hanya mesem dan memasukkan tangannya ke saku celana.


Subhanallah...ternyata suamiku keren juga, aku sampai terpesona dengan senyumnya itu. Eh mungkinkah, seleraku yang bule eksotis telah bergeser ke Asia...


Kini aku berdiri disampingnya sungguh seperti bos dan sekretaris cadangan, sama sekali tak akan ada yang menyangka kami sebagai suami istri.


Seharusnya istri seorang bos itu, penampilan dan sikapnya elegan, seketika ku perhatikan penampilan ku sekarang yang standar ini...


Aku yang masih sibuk dengan pikiran ku sendiri, tersentak saat tiba-tiba dia menarik pinggangku dan mengecup pipiku sekilas.


Dan pintu lift terbuka setelah dia melepaskan pelukannya, dia tersenyum menggoda sambil berjalan keluar diikuti oleh Yoga yang mengekor seperti robot.


Aku tak percaya dia melakukannya ketika ada orang lain melihatnya, dasar tak tau malu.



Dengan wajah yang terasa merah padam aku kembali ke lantai 3, karena ternyata tanpa sadar aku terbawa hingga lantai atas.


Sampai di ruangan, tentu saja aku terlambat dan ditegur oleh Alya.


Ck... kok dia yang ribut, emang dia siapa?

__ADS_1


"Kamu terlambat , Mel.push up 100 kali!!" perintahnya sok seperti KaDiv aja.


"Potong gaji aja deh..."sahutku cuek.


Aku tak menghiraukan ocehan si centil Aliya, namun masih sibuk senyum-senyum sendiri gara-gara mengingat kejadian tadi pagi.


"Apaan tuh, kok malah senyum-senyum, pasti ingat suami deh..."bikin iri aja bisik Alya mendekati telingaku.


"Makanya cepet nikah! Percuma pacaran terus , nggak halal kalau mau ngapa-ngapain.."sahutku sambil meliriknya.


"Hmmm ... udah pinter kamu ya..."


Kami berdua masih saja kasak-kusuk dan asyik dengan obrolan kami sendiri ketika mbak Vida menghampiri kami.


"Ehem...nona-nona cantik"


"Eh iya mbak ..." kamipun terkejut dan menghentikan kegiatan kami tadi.


Mbak Vida menyerahkan dua dokumen kepada kami.


"Berhubung hari ini kalian terakhir magang disini, ini surat keterangan magang yang harus ditandatangani oleh Presdir lalu distempel oleh sekretaris Presdir. Lalu yang ini, ada sedikit uang saku yang bisa kalian ambil di bagian keuangan..."


"Terima kasih mbak..."sahut kami bersamaan.


"Well, you are welcome girls..."sahutnya seraya meninggalkan kami dengan gaya centilnya itu.


Setelah kepergian mbak Vida kami membagi tugas karena harus meminta tanda tangan Presdir dilantai dua belas dan mencairkan uang saku di keuangan dilantai tujuh.


"Jadi kamu ke Presdir atau bagian keuangan?.."tanyaku pada Alya.


Yess tentu saja itu yang aku harapkan. Batinku..


Setelah bersama-sama kami naik lift dan berpisah ketika Alya berhenti dilantai tujuh, aku melanjutkan perjalananku dilantai dua belas.


Kenapa jantungku berdetak lebih kencang ya, bukannya aku yang berniat akan mengejutkan pria yang usil padaku tadi pagi, kenapa aku yang deg-degan sih...


Atau gara-gara suhu ruangan yang begitu dingin ketika aku keluar dari lift dan berada dilantai dua belas dimana kantor seluruh dewan Direksi berada dilantai ini.


Aku berjalan sambil menoleh kekanan kiri melihat interior yang ditata tidak seperti ruangan di bawah, semua serba mewah.


Aku yang memang belum tau dimana ruangan Presdir, setelah bertanya pada seorang wanita seksi yang sepertinya adalah sekretaris Direktur Marketing, akhirnya aku berjalan lurus menuju tempat yang ditunjukkan tadi.


Sampai di sana aku menemui sekretaris Presdir.


"Permisi..."


Wanita tersebut melihatku dan segera berdiri sambil menunduk.


"Selamat datang nyonya..."sahut mbak Riani yang pernah diperkenalkan padaku ketika di bandara, rupanya dia masih mengenalku.


Aku yang mendapat perlakuan seperti itu langsung salah tingkah, karena belum terbiasa.

__ADS_1


"Apa anda ingin menemui Presdir?"


" Saya butuh tanda tangan mbak, apa mas Reza sibuk?"


"Ada tamu sih, namun tidak begitu penting, nyonya bisa langsung masuk saja.."sahutnya ramah.


"Mending aku tunggu disini aja deh mbak, nanti kalau udah pulang aja tamunya, soalnya takut mengganggu..."


"Sepertinya tamu itu tak akan pulang kalo tidak ada yang menyela, atau saya beritahukan Presdir kalau nyonya disini?"


"Eh Jangan... Baiklah, saya akan langsung masuk saja.."


Akhirnya aku memberanikan diri untuk masuk. Hhh...kenapa begitu menegangkan bertemu dengan suami sendiri..


“Assalamualaikum ..."ucapku ketika berada disebuah ruangan yang begitu luas lengkap dengan seperangkat kursi tamu dan beberapa ornament yang menghiasinya membuat pandangan mata begitu nyaman.


Disudut sana, seseorang duduk di sebuah kursi kerja yang besar sedang berhadapan dengan seorang wanita yang terisak.


Setelah melihatku masuk pria itu langsung berdiri menyambut ku, aku pun menghampirinya.


Penasaran juga siapa wanita yang menangis dihadapan suamiku, apa dia hamil dan sedang minta pertanggungjawaban?


 Jangan berfikir bodoh Amel!!!


"Waalaikumsalam, Amel..?!?"


Wanita itu menoleh ke arahku ketika mas Reza menghampiriku dengan senyumnya yang khas itu.


Sepertinya aku pernah bertemu dengannya.


Hmmm...iya dialah adiknya mbak Vina, yang menurut gossip memang sering berkunjung kesini.


Setelah aku dekat dengan mas Reza, aku pun langsung menempel padanya dan menatap wanita di depanku dengan wajah datar.


Menanggapi tubuhku yang tiba-tiba menempel padanya, mas Reza langsung melingkarkan tangannya ke pinggangku.


"Hai ...mbak Vani , kan?" sapaku seramah mungkin. Sepertinya ku mencium bau pelakor nih..


"Hai..Kamu bekerja disini juga?" sahutnya seraya menghapus sisa air matanya.


"Mana mungkin kubiarkan istriku bekerja disini, Van...Mungkin dia lagi kangen suaminya..." mas Reza menatapku dengan penuh cinta. Seandainya ini nyata, bukan cuma sandiwara untuk menghalau kehadiran mbak Vani...


"Kalau begitu aku pulang dulu...permisi" diapun beranjak dari duduknya dan melenggang pergi dari ruangan itu, sepertinya dia kecewa berat.


Lalu aku melepaskan diri dari mas Reza.


"Eh..kenapa?kamu sendiri tadi yang nempel-nempel kan..." ucap mas Reza menuduhku.


"Ihh...lepasin dong, aku Cuma mau minta tanda tangan dan pergi dari sini secepatnya..." protesku.


"Mmm..tapi aku mencium bau kecemburuan.."sahut mas Reza dengan wajah senang.

__ADS_1


"Mana ada? Buat apa aku cemburu?" aku berkilah.


Sambil memegang tanganku lalu dia duduk di kursi dan menarik ku ke pangkuannya.


__ADS_2