
Kami berdua duduk di sofa depan TV.
"Dengarkan dulu ceritaku, Mel..."
Aku pun menatapnya dengan patuh, siap mendengar penjelasannya.
...-------------
...
"Dari awal aku memang tidak tertarik dengan perusahaan papa, Tasya pasti pernah cerita kan, bahwa papa dulu seorang duda beranak satu ketika menikah dengan mama. Waktu aku masih kuliah, anak papa dari istrinya yang dulu sudah disiapkan untuk menggantikan papa meneruskan perusahaan. Sejak itu aku lega dan mencoba bisnis kuliner bersama temanku Richard. Alhamdulillah mulai berkembang dan bisa bertahan...."raut wajah mas Reza memancarkan rasa bangga dengan pencapaian cita-citanya itu.
" Bahkan saat aku melamar Vina dulu, keluarganya sempat tidak yakin dengan pekerjaanku yang baru merintis usaha. Namun Vina meyakinkan orang tuanya hingga bisa menerimaku apa adanya..." ucapnya masih dengan mengusap punggung tanganku.
Aku hanya diam, menikmati kebersamaan kami sambil mendengarkan dengan khidmat.
"Beberapa tahun pernikahanku, kakakku yang sudah memimpin perusahaan papa meninggal dalam kecelakaan... Lalu papa terus memaksaku menggantikannya, namun saat itu Vina sedang sakit dan aku hanya fokus akan kesembuhannya, hingga akhirnya Allah berkehendak lain, Dia lebih menyayanginya ..." mas Reza menghembuskan nafas teringat kisah mendiang istrinya.
"Meski beberapa waktu berlalu, aku masih tidak mau memegang perusahaan, namun karena usia telah lanjut papa sakit-sakitan dan perusahaan jadi terbengkalai bahkan harga sahamnya terus menurun, hingga aku pun kasihan pada mama yang terus membujukku, akhirnya baru setahun ini, aku bersedia menggantikan papa..."
Aku masih terdiam, sepertinya cerita yang terakhir pernah kudengar dari Tasya…
"Apa kamu menyesal menikah denganku?"tanyanya kemudian.
"Tentu saja"jawabku dan membuatnya kaget.
Tatapannya terlihat kecewa.
" Tapi sudah terlanjur, mau gimana lagi..." aku mengerdikkan bahu dengan cuek.
Diapun terkekeh.
"Aku memilihmu karena kamu kuat dan tahan banting, Mel..."ucapnya kemudian.
" Kalau itu alasannya kenapa mas Reza nggak nikah sama Ade Ray aja hmmm..."ucapku sambil meliriknya.
Dia menoleh dan mencubit pipiku dengan gemas.
"Besok sore aku harus berangkat ke Batam selama satu Minggu, ada proyek yang harus langsung ku tangani... Apa kau mau ikut?" tawarnya.
"Maksudnya? Kau mau aku mendapat nilai jelek? Baru magang dua hari, udah ijin satu minggu...."protes ku.
“Semua bisa di atur kan..."
"Nggak nggak...aku nggak mau KKN lo ya..."segera ku potong kalimatnya itu, mentang-mentang dia bosnya main atur aja.
__ADS_1
"Hmmm...baiklah, disini kamulah yang jadi bosku, Mel…Lalu apa kamu mau nginep dirumah ibu?"
"Nggak usah deh, aku disini aja. Kalo dirumah ibu atau mama, pasti ditagih cucu sih..." gerutuku.
Mas Reza tergelak mendengar celotehan ku.
Ck..dia pasti akan berkomentar mesum. Mending ku alihkan pembicaraan aja.
"Eh...dimana foto yang diatas TV mas...?!?"ku toleh ke seluruh ruangan, foto Mas Reza dan mbak Vina pas wisuda yang semula diatas TV sudah lenyap.
"Sudah kusimpan, kalau ibu atau mama melihatnya kan aneh jadinya. Lagi pula aku merasa punya dua istri.."
"Lha emang gitu kenyataannya kan?"ledekku.
" Tapi bukankah kenyataannya saat ini aku hanya punya satu pacar cewek tengil ..." ucapnya mengingatkanku pada perjanjian kami.
"Ceritanya nyesel nih pacaran sama aku? Mau putus.. gitu?"
" Bolehkah putus?"sahutnya datar.
Seketika aku menoleh dan menautkan kedua alisku sambil menatapnya tajam.
“Mau ngubah status dari pacar jadi istri saja, gimana…?”
“Kita kan belum sebulan pacaran, masa mau udahan sih.."aku merajuk sambil menarik-narik lengannya.
"Aku hanya nggak mau ada yang deketin pacarku, jadi pengen ganti status .."sahutnya sambil mengusap pipiku.
Tangannya menggenggam jemariku
"Aku jadi takut bila dengan statusku ini kamu tidak nyaman bersamaku dan memilih pria lain yang bisa membuatmu lebih nyaman”
Hatiku menghangat, kupeluk lengannya dan bersandar di bahunya.
"Tak kusangka kamu pintar merayu mas, tapi dimana kepercayaan dirimu yang yakin bisa membuatku jatuh hati padamu...seandainya saja kalau kamu belum menjadi suamiku, tentu saja aku akan lari sejauh mungkin darimu. Aku nggak mau repot bersaing dengan penggemarmu. Tapi sekarang akulah istrimu, selama kamu masih menggenggam tanganku, aku pasti ikut denganmu. Kecuali kamu melepas ku, tentu saja mau tak mau aku akan segera menjauh darimu.."
Mas Reza melingkarkan lengannya dan memelukku pinggang ku hingga kami semakin dekat.
"Bila aku sampai melepas mu, mungkin saat itu aku hilang ingatan. Bila itu terjadi berjanjilah untuk menyadarkan aku kembali..."
Beginilah indahnya punya pacar yang udah halal, tanpa beban. Ungkapan perasaan saling memahami tanpa menuntut seakan mengalir dengan semestinya.
Sungguh beruntung mbak Vina bisa merasakan cinta mas Reza yang begitu besar.
Meski kami belum bisa memiliki rasa itu, namun serpihan perasaan ini mulai bersemi.
Hari berikutnya, setelah pulang kerja aku ikut ke bandara untuk mengantar kepergian Mas Reza ke Batam. Dia berangkat bersama sekretaris dan asistennya, mbak Riani dan Yogi.
__ADS_1
Mereka berdua dan sopir kantor adalah orang pertama dari perusahaan yang diperkenalkan bahwa akulah istri dari Presdirnya.
"Perkenalkan ini, Amel istriku..." ucap mas Reza pada mereka berdua.
"Salam kenal nyonya Reza” kedua orang itu sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah itu mereka membawa koper dan beranjak meninggalkan kami memberi mas Reza waktu untuk berpamitan denganku.
"Eh mas, aku nggak tau lo kalau ada orang yang mendampingi mu, jadi ketahuan deh..."bisikku.
Diapun tersenyum dan merapikan rambutku saat tertiup angin.
"Aku bahkan berencana akan mengenalkan mu pada waktu meeting kemarin.."sahutnya.
Bibirku langsung manyun menanggapinya.
"Nanti jangan lupa, kamu pesan sama mereka jangan bilang siapa-siapa lo ya, pokoknya aku nggak mau ada yang tau kalau aku istrimu, titik.!!"
"Iya..iya!Mereka tu nggak akan ngomong apapun tanpa perintahku… Kita kan mau pisah satu minggu, kamu dirumah hati-hati ya, nggak usah ngurusin masalah orang lain lagi, bahaya!"ucapnya dengan nada perintah.
"Siap Ndan! Sebenarnya akhir-akhir ini aku merasa ada yang mengikuti ku deh mas, tapi kok tak pernah mengganggu ku...."
" Mereka tim pengamanan keluarga kita, Mel...aku nggak mau kamu dalam bahaya seperti waktu itu..."
"Hmm, baiklah...Kamu juga hati-hati ya mas, jangan lupa kangen ma aku .." sahutku kemudian.
"Kalau udah kangen emangnya mau diapain?"pancingnya.
"Mmm...diapain ya? Sebut namaku tiga kali deh, aku akan datang dalam mimpimu..."
"Hhh...Cuma mimpi, nggak bisa dipeluk kayak gini!"dia pun menarik tubuhku ke pelukannya.
"Eh..mas, banyak yang liatin tuh.." entah kenapa belakangan ini dia semakin sering memelukku.
"Biarkan sebentar saja seperti ini...Aku akan merindukan ocehan kamu, Mel..."
Akhirnya kedua tanganku terangkat membalas pelukannya.
"Udahan mas, nanti aku nangis loh..."bisikku.
Mas Reza melepaskan pelukannya.
"Aku pergi ya, assalamualaikum...”
“Waalaikum salam, Kalau udah sampai, kabarin loh..."sahutku saat dia mulai melangkah pergi.
Dia tersenyum dan mengangguk..
__ADS_1
Aku Tatap punggungnya ketika berlalu dari hadapanku, dialah suamiku hhh...kurasa aku mulai ngefans sama pria itu.
Eh..sepertinya aku baru menyadari kini wajahnya semakin cakep saja deh, apa ini gara-gara kami sering bersama jadi membuatku semacam suka? Ah iya pasti begitu...