Meski Tak Sempurna

Meski Tak Sempurna
Tragedi


__ADS_3

Aku mulai gusar ketika berulang kali aku telfon tidak aktif, lalu aku beralih menghubungi Yogi, harusnya mereka lagi bersama. Namun hanya nada tunggu yang kudengar, mungkinkah dia sengaja tak mengangkatnya.


...----------------



...


Beberapa saat kemudian terdengar suara mobil berhenti didepan rumah, lalu derap langkah tergesa memasuki halaman rumahku. Aku segera menyongsong orang yang datang itu, mungkin itu mas Reza.


" Assalamualaikum...." ternyata Yogi yang membawa mobil itu.


"Waalaikum salam, Yogi ? Mas Reza mana?" tanyaku sambil melongok keluar, mungkin dia masih diluar. Tapi nihil..


"Maaf nyonya..." raut muka Yogi terlihat cemas dan gusar seakan tak mampu bicara.


"A..ada apa?apa yang terjadi?" tiba-tiba detak jantungku mendadak berpacu dengan cepat.


"Kita harus ke rumah sakit..." ucap Yogi kemudian.


"Haa...!!"sahutku lirih sambil berpegangan pada pintu


"Ada apa Mel..?"Tasya menghampiriku


"Tuan Reza kecelakaan.. sekarang sudah ditangani dirumah sakit, mari saya antar kesana nyonya..."


"Apaaaa!!!"Tasya berteriak sambil menutup mulutnya.


Aku pun mengangguk dan segera bersiap.


Kami bertiga langsung melakukan perjalanan ke rumah sakit.


Dalam perjalanan itu aku menuntut Yogi bercerita yang telah terjadi, meski air mata terus mengalir di pipiku.


Yogi menceritakan bahwa, meeting yang berlarut menyebabkan mas Reza harus pulang dengan tergesa. Dan dia bersikeras untuk pulang membawa mobil kantor sendiri, sedangkan Yogi diperintahkan untuk membereskan dokumen hasil meeting lalu segera menyusul ke bandara.


Namun sebelum bergegas keluar dari kantor, ponsel Yogi berdering dan ada yang mengabarkan bahwa mas Reza terlibat kecelakaan.


Menurut para saksi mata, mas Reza mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dan ketika akan berbelok dia menghindari motor yang tiba-tiba muncul didepannya.


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"aku masih memeluk tubuh Tasya yang terisak.


"Karena direm dengan mendadak saat kecepatan tinggi, mobil itu terguling luka yang paling parah ada pendarahan di kepala..."


Jawaban itu menghancurkan hatiku, aku mengelus perutku. Apakah anakku akan menjadi yatim sebelum lahir...


"Aku udah kehilangan papa, ya Allah...tolong selamatkan mas Reza..hiks..hiks.." suara Tasya terus menangis meratapi kakaknya.

__ADS_1


Sedangkan aku bahkan tak mampu berkata-kata, pikiran ku melayang jauh membayangkan takdir apa yang akan terjadi ada keluarga kecilku ini...


Sampai dirumah sakit, aku menuju IGD dan mas Reza masih menjalani operasi untuk menghentikan pendarahan di kepala. Setelah menunggu sampai tiga jam , dokter pun keluar dari ruang tindakan.


"Bagaimana keadaanya dok?" ucapku segera menghampiri dokter itu.


"Anda keluarganya?"


"Saya istrinya..."


"Mari ikut keruangan saya..."


Aku mengikuti langkah dokter itu dengan hati gundah, untung saja ada ibu yang menuntunku menemani menemui dokter itu.


Sedangkan Tasya dan mama Nina menyelesaikan administrasi untuk mendapatkan ruang rawat inap.


Didalam ruangan itu dokter duduk dengan keadaan lelah setelah menyelesaikan tindakan pada mas Reza.


Setelah menghela nafas pria paruh baya itu pun bercerita.


"Alhamdulillah operasi berhasil, dan kondisinya secara umum telah stabil..."ucap dokter dengan nametag dr. Abrar Arham, Sp.BS itu


Aku menata hatiku, agak lega mendengarnya.


"Tuan Reza masih dalam lindunganNya, anda harus bersyukur karena yang terlihat hanya beberapa luka kecil ditubuhnya, namun...." sekali lagi pria itu seakan berpikir untuk berhati-hati dalam berucap.


"Seperti anda tahu terjadi pendarahan di kepala karena benturan yang begitu keras, yang saya khawatirkan terjadi trauma..."


"Maksudnya dok..?"tanyaku dengan tak sabar.


"Kita akan menunggunya sadar, setelah itu kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut... untuk sementara tuan Reza harus dirawat di ICU, kita berdoa agar semua berjalan dengan kemungkinan terbaik, dan tetap optimis..." dokter itu tersenyum ramah memberi kekuatan padaku yang mungkin terlihat rapuh.


Kemudian dokter mempersilahkan kami melihat keadaan mas Reza diruang rawat ICU.


Ketika pintu terbuka aku melihatnya.


Seseorang yang sangat berarti bagiku itu sedang terbaring tak berdaya, perban di kepalanya, luka-luka lecet dan lebam di wajah dan lengannya membuatku trenyuh...


"Alhamdulillah ya Allah...terimakasih telah memberikan kesempatan hidup pada suamiku..." gumanku dengan pelan.


Aku mendekatinya dan disampingnya telah ada mama Nina yang berulang kali menghapus air matanya. Lalu mama berdiri dan mendekatkan ku di pembaringannya.


Aku sedikit tersenyum melihat wajah putihnya yang penuh luka lecet, namun menurutku masih tampan itu. Kupegang tangannya masih hangat, aku lega tangan itu bukan tangan yang dingin dan kaku...


Aku begitu khawatir tak dapat bertemu dengannya lagi.


Entah apa kemungkinan terburuknya, aku akan menerima yang penting dia tetap hidup dan mendampingiku mengasuh anak kami kelak....

__ADS_1


Hhh... aku bahkan belum memberitahunya tentang kehamilanku.


Tak terasa sudah tiga hari aku menemani mas Reza yang sedang dalam tidur panjangnya. Tadi malam ibu menemaniku menginap, jadi pagi ini aku memintanya agar pulang.


Meski lelah aku berusaha kuat dan tetap menjaga kesehatanku mengingat dalam tubuhku ada makhluk lain yang harus tetap tumbuh sehat.


Saat itu pukul sembilan pagi ketika aku mengelap bagian tubuh mas Reza yang tidak terdampak luka. Aku terlonjak ketika ada pergerakan dari tangannya, semakin lama pergerakan itu semakin terlihat.


Segera ku panggil perawat dengan menekan tombol. Tak butuh waktu lama seorang perawat dan dokterpun datang dan memeriksa keadaannya.


Senyumku merekah ketika sedikit demi sedikit matanya terbuka, meski sering terlihat kesakitan.


Saat itu Tasya dan mama Nina masuk ke kamar.


"Sudah sadar?"mama memelukku.


Akupun mengangguk sambil tersenyum bahagia.


Dokter memeriksa detak jantung, respon mata dan tekanan darahnya.


"Kondisinya stabil, kami akan terus melakukan therapy untuk pemulihan..."kata dokter.


"Ugghh...kepalaku..."rintih mas Reza


"Kenapa dia masih kesakitan begitu dok?"tanya Mama


"Nanti akan saya berikan pereda nyeri, syarafnya sudah mulai pulih jadi bisa merasakan rasa sakit, hal ini memang normal nyonya, setelah ada perkembangan positif, besok pagi tuan Reza bisa dipindah ke ruang rawat biasa ...kalau begitu saya permisi dulu " sahut dokter itu sambil menulis di rekam medis.


Melihat raut wajah dokter yang tersenyum seakan memberi keyakinan bahwa pasiennya itu berhasil selamat, membuat kami yang mendampingi mas Reza merasa lega.


Beberapa saat setelah dokter pergi, mas Reza mulai mengedarkan pandangannya dan sesekali memejamkan mata menahan rasa sakit di kepalanya. Menyadari ada orang yang berada disekitarnya, diapun memandang kami satu per satu dengan wajah datar.


"Reza..."ucap ibu lembut memanggil putranya


"Ma..."dengan dahi berkerut mas Reza menatap Mama.


Alhamdulillaah jawaban itu menunjukkan respon yang membuat kami lega.


"Iya sayang...masih sakit?"Mama mengusap lengan putranya itu dengan sayang.


"Iya ma, kepalaku sakit sekali...."


"Nanti dokter akan memeriksa lagi biar sakitnya berkurang, apa kamu ingin makan, hmmm?"


"Nggak ma, nanti saja..."


Mas Reza tersenyum pelan lalu beralih ke arahku dan Tasya.

__ADS_1


__ADS_2