Meski Tak Sempurna

Meski Tak Sempurna
Twins baby


__ADS_3

Dokter pun mengusap gel diatas perutku dan mencari adanya kehidupan dengan memutar-mutar alat itu di perutku.


"Lihatlah titik-titik ini, mereka anak-anak kalian.."dokter tersenyum seakan ikut merasakan bahagia.


...----------------...


"Mereka? Apakah....."ucapku lirih berusaha mencerna perkataan dokter Aisyah.


"Iya nyonya, anda sedang mengandung anak kembar..." jawaban itu membuatku tak mampu berkata-kata.


Seketika air mataku mengalir disudut mataku. Jantungku berdegup kencang, rasa cemas melanda hatiku. Harusnya aku langsung merasa senang, namun hatiku menjadi perih mengingat seandainya ayah mereka tidak mengakuinya.


Aku harus mulai menata kembali perasaan ini, menjadi ibu yang kuat untuk mereka, apapun yang akan terjadi aku akan tetap melindunginya.


Dengan atau tanpa ayah, mereka akan menjadi anak-anak kesayangan ku, menjadi prioritas utama dalam hidupku.


"Apakah mereka berdua sehat dok?"tanyaku pada dokter Aisyah.


" Alhamdulillah keduanya sehat dan ukurannya sesuai dengan umurnya...untuk semester pertama, sebaiknya jangan terlalu memaksakan diri untuk melakukan kegiatan berat, karena tekanan darah nyonya sedikit diatas normal, saya sarankan untuk menjaga keseimbangan lahir dan batin dengan senam yoga..." ucap dokter seraya mempersilahkan aku untuk kembali duduk.


" Terima kasih dok..."sahutku beranjak dari tempat periksa.


Setelah selesai pemeriksaan dan menebus vitamin di apotek yang harus ku minum setiap hari, kami segera pulang ke café.


Ketika kami sampai dihalaman café, Lucy sedang menyuapi Feli di ayunan. Melihat papanya datang, Feli langsung berlarian menyambutnya.


"Papa..!" gadis kecil itu dengan senyum menggemaskan mengangkat kedua tangannya minta di gendong papanya itu.


"Hai sweety...don't run around like that, you can fall my love..."sambut Richard sambil menggendong dan mengecup putrinya.


Senyumku mengembang melihat pemandangan itu, akankah mas Reza juga akan menyambut anak-anaknya dengan senang hati atau malah mengacuhkannya.


Hhh...aku harus menghindari pikiran negatif yang selalu merusak suasana hatiku.


Lucy menghampiri kami dan tersenyum padaku.


"How is everything okey?"ucapnya seraya mengusap lenganku.


"Sure, we are fine and very healthy, thank you.."sahutku tersenyum senang sambil mengusap perutku.


"She will give birth to twins.."kata Richard seraya merangkul istrinya.

__ADS_1


"Really? Very happy to hear it..I hope their father find out soon..."jawab Lucy dengan wajah berbinar.


"I hope so, Lucy....they are only ten weeks old, their father will know when my stomach gets bigger..."aku berusaha bersikap netral dengan keadaan ini


"Don't be sad Amel, just think about fun things...do you want to eat ice cream?" Lucy berusaha menghiburku.


"Of course.."dengan senang aku mengikuti Richard dan istrinya masuk ke café .


Hari itu, karena pengunjung mulai ramai menjelang makan siang, kumasukkan lagi ice cream yang disajikan ke dalam freezer aku mengambil alih kasir agar ada tambahan tenaga untuk pramusaji.


Biasanya aku juga membantu sebagai pramusaji, atau pekerjaan lain yang terlihat kewalahan namun setelah tau kehamilanku ini, Richard tak membiarkan aku terlalu lelah.


Beberapa saat kemudian seorang karyawan mendekati ku di meja kasir.


"Nyonya, Tuan Reza datang... Biar saya yang menjaga kasir, lagipula sebagian pengunjung sudah mulai berkurang ... "kata salah satu pegawai café itu.


Aku Pun mengangguk dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah dua siang. Tumben dia datang jam segini? batinku.


Aku menghampiri mas Reza di ruangan kantor dan melihatnya duduk sambil memeriksa catatan keuangan. Dia menoleh saat aku membuka pintu.


“Apa mas Reza sudah makan siang?" tanyaku kemudian.


"Belum..."


Beberapa saat kemudian aku kembali membawa makanan dan dibantu Richard karena tanganku tidak cukup membawanya.


"Hai Reza, sudah berapa hari kau tak kemari apa kau tak merindukanku?"ujar Richard dengan logat bulenya.


"Tentu saja aku sangat rindu dengan kopi latte buatanmu..."sahut mas Reza terkekeh. Akhirnya kulihat senyuman itu lagi.


"Baguslah, kamu hanya rindu dengan kopiku, karena Lucy mulai cemburu melihatku selalu bersamamu ... " Richard pun tersenyum lalu meninggalkan kami.


Ku letakkan semua makanan dihadapannya. Dia hanya memperhatikan dan setelah selesai dia menatapku penuh tanya.


"Kenapa?"ucapku padanya.


"Mengapa makan siangku sebanyak ini?"


"Bukankah dirumah juga biasanya tersedia seperti ini?"


"Duduk dan makanlah bersamaku..."masih dengan sikapnya yang datar.

__ADS_1


Ku geser kursi dan duduk berhadapan dengannya. Hatiku berbunga-bunga seakan kami sepasang kekasih yang sedang ngedate disebuah café.


Akhirnya dia mengajakku makan bersama, setelah kecelakaan yang menimpanya hampir satu bulan yang lalu.


Next , semoga dia mengajakku yang lain juga...Tentu saja aku merindukan sikapnya yang hangat seperti dulu, apalagi selama kehamilan ini membuatku selalu ingin didekatnya.


Namun kurasa aku harus bangun dari mimpiku itu, karena yang kuhadapi sekarang seorang pria asing dengan sikapnya yang begitu dingin padaku.


“Apa kamu membenciku…?"ucapnya sambil menikmati makan siang kami.


“Kenapa harus membencimu?"sahutku datar.


"Karena aku sama sekali tak mengingat pernikahan kita..."


"Sedikit menyebalkan sih, namun aku mulai terbiasa..."aku mengunyah makananku dengan lahap, sebenarnya tadi aku sudah makan snack berat karena harus berjaga di kasir dan pelanggan waktu makan siang datang silih berganti dan tak memberiku kesempatan untuk makan dengan tenang.


Kami kembali hening.


"Mengapa mas Reza mengajakku makan, bukankah biasanya kamu merasa tak nyaman makan bersamaku.."


"Itukah yang kamu pikirkan?"


"Dengan tatapan sadis mu itu, tentu saja membuatku harus menyingkir dari hadapanmu..."


Dia tersenyum tertahan.


" Kok malah tertawa sih, jangan-jangan mas Reza nggak merasa seperti itu ya?..."gerutuku sebal.


"Aku masih bingung, bukankah aku hanya menganggap mu temannya Tasya tapi ketika kamu menghindari ku terasa aneh, aku juga merasa sudah terbiasa masak untuk dua orang” ucapnya dengan serius.


Aku memutar bola mataku dan menghela nafas merasa jengah. Dasar!! Kita memang sudah terlalu dekat mas, kamu aja yang nggak ingin mengakuinya, apa mungkin kamu sengaja tak berusaha mengingatnya.


“Tentu saja, mungkin kamu masak banyak untuk bu Rijah kan..."aku menahan tawa ketika mengucapkannya.


”Sudahlah aku masih yakin pelan-pelan kamu akan mengingatku lagi.." ucapku lagi.


Dia melihatku mengambil capjay, ikan bakar dan perkedel lalu meletakkannya dipiringku. Aku menghentikan gerakanku ketika menyadari mas Reza memperhatikanku.


"Kenapa melihatku seperti itu? Apa aku mulai membuatmu tak nyaman lagi? Baiklah aku akan pindah disudut sana, nikmatilah makan siangmu mas..."ucapku sambil mengangkat piringku.


"Tunggu...tetaplah disini. Aku hanya masih berusaha mengingat apa porsi makan kamu memang sebesar ini?"sahutnya sambil menatapku yang masih sibuk mengunyah makananku.

__ADS_1


Mata kami bertemu, kulihat tatapannya yang sendu namun berisi beribu pertanyaan yang selama ini tak bisa masuk dalam logikanya.


__ADS_2