
Namun belum sempat aku melangkahkan kaki ke tempat tidur, ternyata dia sudah masuk kamar dan mulai mencium sesuatu yang tidak beres....
...----------------...
"Sudah kusiapkan air hangat ya mas...oaaahemm.." aku berlagak ngantuk banget, meregangkan otot dan melewatinya menuju tempat tidur.
"Tunggu!"dia meraih pergelangan tanganku dan menarik tubuhku mendekatinya.
Aku pun mundur, namun dia malah terus maju meski tubuhku telah menempel tembok di belakangku.
"Klik!!" lampu kamar menerangi seluruh ruangan, termasuk memperjelas lebam-lebam di wajahku.
Hhh... terserah deh... batinku, aku memejamkan mata sejenak sambil menghela nafas.
"Siapa yang melakukannya..?"suaranya dalam dan menekan, matanya menatapku tajam dan jemarinya meraba wajah dan bibirku, membuat jantungku hampir loncat keluar.
"Ckkk...kok bisa ketahuan sih.." gerutuku
"Kenapa bisa sampe begini ..?" jarinya masih mengusap lembut luka-luka di wajahku.
Meski dengan suara datar, interograsi itu membuatku merasa seperti pesakitan yang harus dihukum.
"Ini...nggak papa kok, tadi Cuma ketemu orang gila gitu deh..."jawabku nyengir sambil berjalan menjauh darinya.
"Katakan dimana orang gila itu?!? Akan ku balas orang yang membuat pacarku terluka seperti ini ..."
"Eh gak usah, aku sudah membalasnya dengan setimpal kok..."aku kembali berbalik dan berhadapan dengannya.
"Hhmm?!?"dahinya berkerut.
"Ku tendang masa depannya dengan sadis, dijamin bikin trauma. Semoga aja masih bisa digunakan ..he..he.."aku menyeringai puas.
Diapun terkekeh.
"Kamu ini benar-benar mengerikan..."sahutnya sambil berjalan melewati ku begitu saja.
Eh, kok aku merasa sedikit kecewa sih.
Sepertinya aku masih ingin menikmati perhatiannya seperti tadi sih...
Aku pun berbalik langsung ke tempat tidur, kukira dia akan berhenti mengusikku.
Ternyata salah, aku tak jadi merebahkan diri ketika melihatnya menghampiri dan duduk mendampingiku ditempat tidur. Ditangannya ada salep entah apa itu.
“Tahan sebentar..."ucapnya ketika mengoleskan salep ke wajahku.
Bukan nyeri yang kurasakan, namun debaran jantung yang tiba-tiba tak beraturan karena wajahnya yang sangat dekat sehingga hembusan nafasnya pun bisa kurasakan.
"Kenapa wajahmu jadi merah gini, harusnya biru keunguan kan?"godanya ketika melihat wajahku bersemu karena malu dengan kedekatan kami.
__ADS_1
Segera aku mundur mendengarnya.
"Udah ah, aku beneran mengantuk nih..."sahutku sewot.
Dia tersenyum menang, dan tangannya menarik tubuhku agar kembali mendekatinya.
Tangannya yang ada di punggung mengenai lukaku dan seketika membuatku tersentak meringis.
Diapun terkejut lalu melepaskan tangannya.
"Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa .."aku berusaha mengelak.
"Tunjukkan lukamu yang lain, Mel..."
"Nggak usah mas, besok juga hilang sendiri kok..."sahutku mulai gusar.
"Tunjukkan sekarang, atau harus kucari sendiri? tentu saja dengan menyingkirkan semua pakaianmu.. " ucapnya dengan tatapannya mulai mesum.
Aku terperanjat, nyaliku tiba-tiba menciut mendengar ancamannya. Ku dorong dadanya dan aku bergeser menjauh darinya.
Mas Reza terkekeh melihat tingkahku, sepertinya dia menikmati sikapnya yang telah berhasil menggodaku.
"Kamu mulai menakutkan tau..."gerutuku.
Aku menyipitkan mata dan menatapnya curiga.
"Amel..tunjukkan luka di punggung mu..kemarilah..."bujuknya lagi.
Dengan ragu-ragu aku maju dan berbalik membelakanginya. Lalu kubuka bajuku bagian belakang. Hening beberapa saat ketika dia mulai mengoles salep ke punggungku.
Rasanya aku berhenti bernafas merasakan sentuhannya, sulit sekali menghilangkan rasa gugup ini.
Mungkin ini karena pertama kali kubiarkan seorang pria melakukan ini.
Dasar bodoh!! Kamu ini seorang istri Mel, harusnya kamu merasakan yang jauh lebih dari ini, kenapa hati dan pikiranku sepertinya sama sekali tak kompak.
Setelah selesai, ditariknya bajuku kebawah seperti semula.
"Terima kasih.."ucapku pelan.
"Maaf, aku gagal menjaga mu dengan baik, hingga ada orang yang membuatmu seperti ini..." ucapnya padaku.
Aku pun berbalik berhadapan dengannya.
“Eh.....jangan gitu dong mas..kalau kamu seperti itu, aku nanti jadi manja dan lembek..luka seperti ini sama sekali tak masalah buatku..”
Pletakkk!! dia menyentil keningku.
__ADS_1
"Lagian kamu ini pake berantem segala, beneran tadi ketemu orang gila hmm?"
"Gimana nggak gila!! Tuh orang mukul dan malak istrinya sendiri...tadi pas ke warung, ada pria yang mabok sambil ngamuk sama istrinya..."
"Trus kenapa kamu ikut campur? harusnya kamu panggil keamanan...!"ucapnya sambil mengembalikan lipatan lengan bajunya agar mudah dibuka.
"Aku khawatir, kalo pas aku tinggal mereka sudah saling bunuh gimana hayo?"
Dia langsung menoleh, menatapku tajam.
"Pokoknya lain kali, kalau ketemu orang seperti itu, kamu nggak boleh mendekat! panggil satpam aja! Kamu bisa terluka lebih parah, Mel..!!"
Aku hanya manyun, kenapa dia tak mendukungku sih, nggak gentle ah...
"Mel...kamu dengar nggak?!! "ucapnya tegas seperti seorang ayah yang memarahi anak perempuannya.
"Iya...iya... aku jadi kangen ayahku, dulu dia suka ngomel sepertimu..." sahutku dengan menggerutu.
"Hhhh...dulu kamu pasti nakal banget deh..." ucapnya lagi. Lalu dia meninggalkanku dan menghilang dikamar mandi.
Hari ini adalah hari pertamaku magang untuk memenuhi persyaratan kuliah akhir.
Selama satu bulan, aku bersama empat temanku yang lain bekerja disebuah perusahaan yang cukup diperhitungkan di negara ini.
Perusahaan yang bergerak di bidang real estate yang membawahi beberapa cabang dibeberapa propinsi lain. Kebetulan kantor pusat ada di kota ini, jadi aku tak perlu ngekos seperti temanku yang lain.
Seperti biasa ketika aku bangun, mas Reza sudah bersiap untuk jogging pagi hari.
Hari-hari sebelumnya dia berhasil menyeretku ikut jogging keliling kompleks. Setiap habis subuh kami berdua keliling komplek, awalnya biasa saja, namun lama-lama aku risih dengan mata ibu-ibu muda penghuni kompleks yang selalu memperhatikan pria mulus yang lari di sebelahku.
Cemburu? Ngapain cemburu, toh mereka hanya bisa melihatnya, sedangkan aku bisa berbuat apa aja padanya , ye kaaan...
Hampir pukul tujuh ketika aku bergegas dan bersiap diri untuk berangkat namun aku harus menunggu mas Reza datang. Beberapa saat kutunggu aku mulai kesal, sedangkan aku nggak bisa menghubunginya untuk berpamitan karena ponselnya nggak pernah dibawanya ketika jogging pagi.
Ketika aku melihat sosoknya yang masuk dari pintu dengan peluh yang menghiasi keningnya.
Aku menyambutnya dengan wajah geram.
Diapun berhenti di depanku dengan menarik sebelah alisnya.
"Kok lama amat sih ? Aku kan udah bilang mau berangkat pagi biar nggak kejebak macet..."omel ku persis emak-emak.
Pria itu hanya tersenyum tanpa merasa bersalah membuatku semakin kesal saja.
"Jam kerjamu kan masih sejam lagi, paling bosmu juga belum mandi..."
"Ck..aku nggak mau telat ya, rumahku paling jauh dibanding teman-temanku yang ngekos dekat sana.."aku masih ngomel-ngomel sambil mengoleskan selai nanas di lembaran roti tawar lalu memberikan padanya.
__ADS_1