
Hhh...Sebenarnya aku pengen sarapan dengannya, namun suasana hatiku sedang buruk dan tak ingin berlama-lama bertemu dengannya.
...----------------...
Aku berjalan keluar dari rumah berharap dia menyusul ku dan menawarkan diri untuk mengantarku karena cuaca sedang mendung.
Namun harapanku sirna, sampai aku naik motor pun tak ada tanda-tanda dia keluar rumah.
Dan itu membuatku tambah jengkel. Sepertinya pria itu benar-benar tak punya hati sedikitpun padaku hingga tak peduli apapun yang kulakukan.
Aku segera bergegas melajukan motorku ke jalanan, ketika melewati tukang bubur ayam aku hanya meliriknya dan tidak jadi berhenti untuk membelinya. Rasanya selera makanku tiba-tiba menguap mengingat perlakuan mas Reza padaku.
Setelah hampir setengah jam akhirnya aku sampai di café. Biasanya aku sampai di cafe itu pukul Sembilan pagi, ketika café itu baru buka, namun kali ini baru jam delapan aku sudah sampai sana.
"Amel...?" chef Richard yang tinggal di paviliun cafe terlihat heran. Pria bule idolaku itu pun sudah terbiasa dengan memanggil namaku saja.
"Morning chef..." sahut ku tersenyum samar.
"Are you okey? Its too early.."sahutnya terkekeh.
"Yeah..lagi males berlama-lama dirumah chef..." sahutku menggerakkan bahu sambil duduk disalah satu kursi yang berhadapan dengan dapur terbuka.
"Apa Reza menyebalkan lagi?" ucapnya tersenyum sambil menyiapkan sesuatu untukku.
Aku hanya mengangguk.
Dia kembali terkekeh lalu berjalan ke arahku sambil membawa pan cake dan teh lemon hangat.
"Kamu pasti belum sarapan..." sepasang menu sarapan yang terlihat menggiurkan dihidangkan oleh chef profesional di hadapanku.
Aku hanya tersenyum mengiyakan.
Tanpa basa basi aku langsung menyantapnya. Lezat sekali, chef Richard memang juara.
Namun seandainya mas Reza lah yang memberi perhatian seperti ini, pasti aku akan lebih bahagia.
Meski tak seenak buatan Richard tapi aku tetap merindukan masakan mas Reza yang dulu karena dia membuatnya dengan bumbu sayang padaku. Entah kapan aku bisa merasakannya lagi...
Mas Reza memang masih memasak saat ada kesempatan, namun aku lebih suka menghindarinya karena sikapnya sepertinya tidak nyaman dengan keberadaan ku.
Aku masih menikmati sarapanku ketika seorang bule cantik sedang menggendong seorang anak perempuan sekitar satu tahun dan diikuti anak perempuan lain sekitar lima tahun disebelahnya.
"Honey...come here.."panggil Richard yang sedang duduk di hadapanku.
"Amel, there are my family..." ucap chef Richard kemudian.
"Wow...its a big surprise chef..."mataku berbinar melihat keluarga bule di hadapanku.
__ADS_1
"Honey...its mrs Abimana, which I always tell you.."ujar Richard pada istrinya.
"Hello,...my name Lucy,...nice to meet you..."wanita bule itupun mengulurkan tangannya padaku.
"Thank you, nice to meet you as well Lucy, just call me Amel..."aku menyambutnya sambil tersenyum senang.
Aku menatap keluarga kecil itu dengan takjub.
"Hai sweety...whats your name..."aku mengulurkan tanganku untuk menggendong balita yang digendong oleh Lucy.
"Rosalind and the sister is Felicia..." Sahut Lucy.
“Hai Rossie and Felly....Your daughters is so beautiful Lucy.."
"Thank you Amel, you will also get it soon..how many month have you been pregnant?" sahut Lucy dengan ramah.
"What?" namun kalimatnya itu membuatku tersentak mendengarnya, mengapa dia bisa tau.
"Is it true?Are you pregnant?" chef Richard juga terkejut.
"How did you know, Lucy? I havent even told anyone.."gerutuku.
"Really? Actually Im just guessing, the light on your face says it.."Lucy kembali tersenyum.
"Does he know?"tanya Richard menebak apakah mas Reza sudah tau tentang kehamilan ini.
"Sebenarnya aku ingin dialah yang pertama tahu, namun kecelakaan itu menghapus ku dari ingatannya, dia bahkan berkata tak mungkin menyentuh wanita lain selain Mbak Vina..." sahut ku seraya menghela nafas.
" Kurasa .. Akan lebih menyakitkan bila dia tak mengakui anaknya, jadi aku belum berani mengungkapkannya..."
"Have you seen a doctor?"tanya Lucy yang ternyata paham bahasa Indonesia namun belum bisa mengucapkannya.
"Not yet... I just tested it through a test pack..."
"Honey....you should take him to the doctor..."ucap Lucy pada suaminya.
"No...no...I will go alone, thank you Lucy..."aku benar-benar tak ingin merepotkannya.
"Amel....if you want it must have done it, I think you need someone to accompany you.... honey please!!"Luci bersikeras agar Richard mengantarku.
"She's right, Amel....just wait some minute...okey" Richard segera beranjak untuk menyiapkan mobilnya.
Mataku mulai berkaca-kaca merasakan ketulusan Lucy.
"Thanks Lucy, you are really kind..."ucapku tulus.
"You are welcome Amel, we are the same as women, dont think to much, your baby will feel it too.."ucapnya sambil mengambil Rossi dari gendonganku.
__ADS_1
Aku mengangguk seraya mengusap mataku yang mulai berkaca-kaca merasakan perhatian dari orang yang baru saja mengenalku.
Lalu Richard mengantarku ke mobil yang sudah disiapkannya. Perjalanan agak macet karena rintik hujan mulai mengguyur jalanan, apalagi hari ini hari kerja.
Setelah hampir satu jam kami sampai di sebuah klinik Harapan Bunda. Kami mengambil nomor antrian lalu duduk di kursi pengunjung.
Beberapa orang menatap kami, eh bukan kami tapi Richard seorang bule tampan sedang duduk anteng di sebelahku sambil memainkan ponselnya namun pesonanya telah menyebar ke seluruh ruangan, sehingga setiap ada yang lewat selalu menoleh.
Bahkan beberapa cewek lewat sambil berbisik dan tertawa. Hhhh...Richard kau membuatku minder, mending tadi aku sendirian aja deh...
"Nyonya Amelia...."panggil perawat di depan pintu masuk kamar periksa.
" Aku masuk dulu chef..." ucapku pada pria bule di sampingku.
Pria itupun mengangguk padaku.
Aku beranjak dan mengikuti perawat tadi.
"Silahkan suaminya ikut juga..." perawat itu berkata pada chef Richard.
Aku tersentak mendengarnya lalu ku toleh Richard mengusap rambutnya lalu berdiri mengikuti kami.
"Selamat pagi mister..."silahkan duduk sambut dokter wanita itu ramah.
Kami pun duduk dihadapan dokter obgyn bernama Aisyah itu.
"Jadi ada yang bisa saya bantu..."
"Saya ingin memastikan bahwa saya hamil dok...." ucapku ada dokter itu.
"Kapan terakhir haid? apakah ada keluhan tertentu..."
"Siklus haid saya kurang teratur dok, yang terakhir sekitar dua bulan yang lalu. Untuk keluhan saya sama sekali tidak merasakannya, sama seperti bulan-bulan sebelumnya..."
"Baiklah mari kita pastikan, silahkan berbaring..."
Perawat mengarahkan ku untuk berbaring, membuka perutku dan mengoleskan gel.
Sebenarnya aku malu ketika Richard harus mengantarku, untung saja ruang periksa tertutup tirai. Dan pria itu menyibukkan diri dengan bertanya-tanya pada dokter.
"Dokter, apakah wajar bila wanita hamil tidak merasakan nyidam?"tanya Richard dengan logat bulenya.
"Jangan cemas tuan, kondisi setiap wanita berbeda. Memang beberapa wanita tidak mengalaminya, namun ada kemungkinan keadaan psikis ibu juga mempengaruhinya, anda harus menjaga perasaannya agar tidak terlalu stress..."
Kulihat tersenyum dan manggut-manggut.
__ADS_1
Dokter pun mengusap gel dengan merata diatas perutku dan mencari adanya kehidupan dengan memutar-mutar alat itu di perutku.
"Lihatlah titik-titik ini, mereka anak-anak kalian.."dokter tersenyum seakan ikut merasakan bahagia.