Meski Tak Sempurna

Meski Tak Sempurna
Rasa rindu


__ADS_3

Eh..sepertinya aku baru menyadari kini wajahnya jadi semakin cakep saja deh, apa ini gara-gara kami sering bersama jadi membuatku semacam perasaan...suka?


Ah iya pasti begitu...


...--------------



...


Aku pulang dengan taxi.


Sampai dirumah, kulihat seseorang ada didepan pintu rumahku.


"Ameeellll!!!"teriak cewek centil sahabatku.


"Tasya??"


"Lama banget sih, sampe garing nungguin kamu, di telfon nggak aktif lagi!!!"dia mengomel menyambut kedatanganku.


"Eh..masa nggak aktif? he..he..lowbatt neng.." langsung kuambil ponsel dari saku, akupun nyengir.


Dia masih saja protes dan mengomel ketika kubuka pintu dan masuk rumah.


"Maaf..maaf...ayok kita masuk dulu, mau mandi ,gerah nih...ntar kita sambung lagi ya .." ucapku menarik tangannya masuk kedalam rumah.


"Aku tidur dimana nih?"tanya Tasya.


"Eh...Beneran mau nginep?" tanyaku tak percaya.


"Yaelah.. malah nanya! Suami kamu tuh, yang nuntut aku supaya nemenin kamu selama dia pergi..." omel adik iparku itu.


"Wawww asyiiik...kita harus tidur bareng dong, biar bisa begadang.Hayuk kekamarku aja!!"sahutku senang.


Tasya mengangguk dengan penuh semangat.


Kemudian kami langsung naik kelantai atas, dan masuk ke kamar utama.


Kulihat Tasya mengedarkan pandangan.


Menurutku kamar ini cukup luas, bahkan dua kali lebih luas dari kamarku dirumah ibu. Kenapa dia seperti tidak nyaman.


"Amell tunggu deh. Ni beneran kamarmu dan mas Reza?" tanya Tasya kemudian.


"Hu um, emang kenapa?"tanyaku sambil membuka blazer ku.


"Kok yang ada foto lama mbak Vina dan mas Reza? Kalian berdua baik-baik aja kan?" nada suaranya mulai khawatir.


"Ishh...kamu ni kenapa sih? Kami baik aja, emang aku yang ngebiarin foto itu ditempatnya, aku nggak masalah kok..." sahutku kemudian.


"Wah nggak beres kamu , Mel!! Harusnya kamu bantuin mas Reza ngelupain mbak Vina dong!" protesnya.


"Percuma kan ngilangin foto doang, kalo dia masih nyimpen dihatinya! Tenang aja, suatu saat Mas Reza pasti berpaling padaku, meski foto itu tetap ditempatnya. Nah, kalo aku dah berhasil merebut hatinya, aku baru ganti foto-foto itu dengan fotoku..." sahutku dengan percaya diri.


"Hmmm ... emang bisa?"


"Tenang aja adek ipar, aku akan merayunya tiap malam biar cepet berhasil..."ucapku sambil masuk kamar mandi, meninggalkan Tasya yang menjerit dengan pikiran kotornya.


Malam itu Tasya tidak menepati janjinya untuk begadang. Setelah makan malam lalu menonton intermezzo di televisi dia udah tepar dan terlelap di sebelahku.


Hampir pukul sepuluh malam, mataku belum terpejam. Sepertinya karena menunggu kabar dari seberang yang tak kunjung datang, membuat mataku tak bisa terpejam.


Drrrt..

__ADS_1


Getar ponsel di tanganku, chat masuk membuatku tersentak.


"Mel...udah tidur?" pesan dari seberang


Senyumku terukir membaca pesan itu. Ckkk...kenapa hatiku ini, itu kan Cuma kata-kata biasa, bukan pujian dan jauh dari kata rayuan, kenapa bisa membuatku menggigit selimutku dan senyum-senyum gak jelas begini sih...


"Belum. Kamu baru sampai mas?”balasku.


"Udah dua jam yang lalu. Maaf baru menghubungimu..."


"Kenapa? Ketemu sama yang lebih special dari aku hmm?"


"Bagiku yang special hanyalah....martabak.." sepertinya dia sedang terkekeh saat mengetik nya.


“Nyebelin ih…!!”


"Ngambek nih..?"


"Mubadzir rasa khawatirku tadi..."


"Maaf ya...pacarku..."sahutnya.


"Pacarku selalu tepat waktu menepati janjinya kok..."


"Tadi aku kena tilang anak-anak Mel..."


"Oh...sudah punya anak toh?"


“Hhhh...bahkan belum pernah diproses kan...


Aku menahan tawa sambil menutup mulut, takut kalo si Tasya bangun.


"Baiklah...Truss..."


"Ada kejutan kecil pas aku datang tadi, teman-teman lama pada ngumpul..."sahutnya kemudian.


"Ada...aku"


APAAAA!!!!aku terbelalak membacanya, dan segera beranjak dari tempat tidur lalu keluar kamar. Aku Pencet tombol panggilan.


"Hallo assalamualaikum..."terdengar suara dari pria yang mulai kurindukan itu.


"Walaikumsalam...beneran mas Reza ulang tahun? Kok aku nggak tahu?"


Detik kemudian ku sesali pertanyaan bodohku, apalagi saat kudengar suara tawa dari seberang.


"Aku udah terlalu tua untuk ngerayain ultah Mel..."


"Udah 29 tahun ya..?Selamat ulang tahun ya mas, semoga sehat selalu biar bisa terus menemaniku, banyak rejeki biar bisa traktir aku terus...apa lagi ya..?"


Kudengar lagi suara tawa dari seberang.


"Amiinn...terima kasih ya, semoga kamu mau menua bersamaku.."


" Tapi aku nggak mau tuh..."sahutku.


"Hah...?!?"


"Kamu hanyalah pacarku kan, aku akan menua bersama suami dan anak-anakku saja..."


"Kamu mulai membuatku pengen segera pulang nih..."gerutu suara dari seberang itu.


"Aku tutup ya, wasalam..."

__ADS_1


Aku langsung kabur dan kembali ke kamar tidur. Rasanya puas sekali bisa menggodanya, namun apakah hubungan kami akan terus seperti ini?


Tiba-tiba aku merasa takut ketika tiba saatnya dia menyentuhku, mbak Vina masih bersemayam dalam hatinya.


Keesokan paginya aku sudah siap dimeja makan, mengoles roti dan selai coklat ketika Tasya baru turun dari kamar.


"Pagi Mel.."


"Kok kamu belum siap, jam kerjamu jam berapa?"tanyaku padanya.


“Bisa diatur..he..he...bukannya kamu juga bisa diatur?ngapain harus tepat waktu?"


"O iya, aku belum protes sama kamu. Kamu dulu bilang kan kalau bos ABJR orangnya galak, suka maen pecat? Sialan kamu ya, ngerjain aku!!" protes ku padanya.


Haha Tasya terpingkal-pingkal mendengar omelanku.


"Pas aku cerita ma kakakmu, malah aku tambahin mungkin bos itu hipertensi, arogan dan botak..."aku ikut geli mengingatnya.


"Trus..trus..gimana ? apa mas Reza langsung mengaku?"


"Nggak!! Aku baru tahu pas ikut meeting... Ketika melihatnya, rasanya nyesek banget, pengen mencakar-cakarnya. Kalian kakak adek sama-sama rese!!"


"Hihi..." Tasya masih sibuk tertawa lalu duduk minum susu di depanku.


"Aku menyesal menikah dengannya...."


"Apa!!" Tasya terperanjat mendengar ucapan ku itu.


"Kamu tau sendiri kan, aku ini siapa? Semua orang pasti mikir, aku bener-bener nggak pantes bersanding dengan orang besar sepertinya..." ucapku lagi.


"Yang nilai pantes dan tidak bukan orang lain, Mel! Tapi mas Reza sendiri. Aku senang sekali kamu yang jadi iparku, karena aku mengenalmu dengan baik, aku yakin kamu bisa bahagia bersamanya..."


"Hhh...aku nggak pede...."


"Eh...bukannya seorang Amel anti dengan kata minder..! aku perhatikan mas Reza sudah kembali hidup seperti dulu, kurasa kamu telah berhasil membuatnya bangun dari tidur panjangnya..."


"Tapi aku ...."


Tasya menghampiri dan memelukku.


"Terima kasih telah menerima mas Reza dengan segala kekurangannya...."ucap Tasya padaku.


Aku pun tersenyum, perkataan Tasya membuatku jadi berarti.


"Udah ya aku mandi dulu..."amu dijemput sopir perusahaan kan?"


"Aku bawa motor kok..."sahutku.


"Ha!!! Mas Reza kok jahat banget sih!!”


"He..he..santai aja Tasya, di kantor belum ada yang tau kalau aku istrinya kok..."


"Whats??"


"Aku yang minta seperti itu, biar lebih nyaman, aku pasti risih kalau semua orang disana harus menunduk padaku.."


"Hmmm...iya juga, itulah alasan ku tidak mau magang disana. Mereka udah mengenalku sih..."Tasya terkekeh.


"Aku berangkat sekarang ya, assalamualaikum...."


"Waalaikumsalam kakak ipar..." Tasya tersenyum sambil melambaikan tangannya padaku.


Aku segera berangkat mengejar waktu, agar tidak terlambat menekan finger print. Jadi pengen tau orang rese mana yang menemukan barang itu, jadi nggak bisa korupsi waktu sedikitpun.

__ADS_1


Mendengar kasak kusuk tentang Presdir dan wanita yang sedang dekat dengannya merupakan hal menarik bagiku.


Begitu banyak wanita cantik dalam gedung ini, kenapa dia harus memilihku? Kurasa pertanyaan itu akan selalu terngiang-ngiang dalam otakku.


__ADS_2