
Wanita itu duduk dengan elegan seperti biasa. Penampilan yang sempurna seperti wanita sosialita yang penuh dengan aturan bersikap....
...----------------...
Didepannya sudah ada segelas minuman berwarna merah jambu dengan hiasan strawberry di atasnya, hhmmm...smoothies strawberry. Tenggorokanku tiba-tiba kering melihatnya, sepertinya sangat menyegarkan...
“Assalamualaikum, Selamat siang mbk Vani...."sapaku sambil duduk dihadapannya.
Entah kenapa tiba-tiba ada ganjalan di hatiku saat melihat secara langsung wanita yang selalu berusaha merebut suamiku itu.
“Waalaikumsalam....mau minum apa?"ucapnya dengan nada datar. Dan pandangan matanya itu menatap begitu dalam, seakan ingin mencabik-cabik apapun yang ada didepannya, termasuk aku.
Aku menghela nafas untuk membuatku rileks.
"Ice Lecy tea aja..."sahutku cuek.
Lalu dipanggilnya pramusaji untuk memesan minumanku dan makanan kecil untuk menemani percakapan kami.
Meski suasana diantara kami sama sekali tidak nyaman, aku berusaha menjadi pendengar yang baik ketika dia mulai berkisah.
"Mungkin kamu sudah tau apa yang akan aku bicarakan, Mel.." mbak Vani menghela nafas dan menyesap minumannya sekilas.
Aku mulai menatap wanita di depanku dengan serius, sambil bertekad dalam hatiku #Yeah mbak Vani, kita akan membicarakan seorang pria yang harus kita perebutkan. Memang seharusnya kamu merasa haus dan gerah karena rival mu ini tak akan melepaskan suaminya begitu saja, kurasa kamu harus langkahi dulu mayatku...#
Aku tak bergeming, hanya mengaduk-aduk buah leci di gelasku.
"Aku mengenal mas Reza sepuluh tahun yang lalu ketika aku masuk Australian National University, saat itu dia sudah semester empat. Sosoknya yang pintar dan ramah membuatku seketika jatuh hati padanya dan ternyata kami berasal dari kota dan negara yang sama. Saat itu... aku belum berani menyatakan perasaanku, namun aku sudah cukup puas sebagai teman dekatnya. Kami sering pulang bareng ke Indonesia dan aku pun mengenalkannya ke kakakku, mbak Vina...." dia mulai mengungkapkan isi hatinya.
"Ketika mas Reza lulus, aku tak tau ternyata mereka menjalin hubungan, saat aku masih berada di Australia. Aku merasa hancur, disaat aku hanya fokus dengan studi ku agar cepat kembali ke Indonesia, mereka melangsungkan pernikahan. Sejak saat itu hatiku rasanya sudah membatu dan tak bisa menerima pria lain..."
Aku menatapnya nanar, ternyata cinta wanita ini untuk suamiku berubah menjadi obsesi.
__ADS_1
"Saat mbak Vina meninggal, aku merasa Tuhan memberiku kesempatan kedua. Di akhir hidupnya, mbak Vina juga berusaha mendekatkan kembali mas Reza padaku...Namun kebencian kedua orang tuaku pada Mas Reza begitu dalam yang selalu menganggap kematian mbak Vina adalah kesalahannya, jadi keluarga ku itu tak mungkin bisa mendukungku. Aku berusaha membelanya, meski harus menghabiskan waktu di London untuk meyakinkan mereka agar kembali menerimanya, termasuk menceritakan kisahku yang lebih dulu mencintainya. Setelah dua tahun akhirnya aku kembali ke Indonesia dan menemuinya, namun sulit sekali bagiku untuk mengajaknya berbincang dan saat bertemu kembali tiba-tiba dia bilang sudah menikah ..."
Air mata mulai menggenang disudut mata indahnya. Mendengar ceritanya yang panjang membuatku berulang kali menyesap minuman karena merasa terbawa suasana betapa cinta telah membuatnya seperti ini.
“Aku sudah berusaha, aku lelah, namun aku tetap tak bisa mengenyahkannya dari pikiran ku, bagaimana menurutmu, apa yang harus kulakukan? apa aku harus bersujud padamu agar kamu mau melepaskannya?" ucapnya dengan pandangan penuh intervensi dan kalimat itu benar-benar to the point.
Aku terperanjat mendengar perkataan wanita berkelas sepertinya meletakkan harga dirinya dihadapan ku dan itu membuatku menelan ludah merasa getir menghadapinya.
"Kamu terlalu berharga untuk melakukan itu mbak, aku mohon jangan seperti itu... Jodoh terbaikmu telah disiapkan oleh Tuhan, semua sudah diatur olehNya. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalani apa yang sudah ditakdirkan..."sahutku berusaha menenangkannya.
"Kalau memang dia bukan jodohku kenapa Tuhan tak membiarkanku untuk melupakannya?!?"
Aku tak bisa berkata-kata, mungkin seharusnya ini sudah menjadi masalah seorang psikiater.
Rambut ikal yang tergerai indah, tubuh elok berbalut gaun merah maroon selutut. Wajah cantik, hidung mancung dan mata coklat yang sendu itu terlihat sangat rapuh. Sebenarnya dia begitu cantik, mengapa mas Reza tak bisa jatuh hati padanya? Mengapa malah menikah dengan ku yang seperti ini...
Beberapa saat kemudian tiba-tiba aku merasa sebuah tangan berada dipundak ku dan sosok tubuh pria menempel padaku. Sontak aku pun mendongak.
"Assalamualaikum...." ucap pria dengan wajah datarnya itu.
" Maaf ..aku terlambat..."ucapnya datar dan menatap kami bergantian.
"Terima kasih kau sudah datang, aku baru saja memulainya..."sahut mbak Vani kemudian.
“Aku tak tau bila Amel juga datang, tau begitu tadi aku menjemputnya di rumah..."mas Reza duduk di sebelahku lalu mengambil gelas milikku dan meminumnya.
Dan sikapnya itu membuat mataku berkedip beberapa kali, apa mas Reza nggak sadar bahwa sikapnya itu seolah pamer bahwa kami memang sedekat ini.
" Sebenarnya aku ingin bertemu dengan kalian, untuk menanyakan bagaimana tentang surat dari mbak Vina yang kuberikan padamu mas..?" ucapnya dengan tegas.
" Vani...aku pasti akan membahas hal ini dengan Amel..." potong mas Reza terlihat tak suka.
__ADS_1
" Surat apa mas?"tanyaku mulai penasaran apa yang sebenarnya disembunyikan oleh mas Reza.
" Jadi ... Amel belum tahu?!? Kamu bilang akan segera memberitahunya kan?!?" ucap mbak Vani penuh penekanan.
Aku jadi jengah mendengar percakapan mereka yang penuh rahasia itu.
" Maaf mbak, aku memang belum tau apa yang sedang kalian bicarakan, namun aku ingin mas Reza punya kesempatan berdua denganku untuk menyampaikan masalah ini..." ucapku menengahi.
Meski rasa penasaran membuatku berdebar namun aku akan berusaha untuk memahami apapun yang akan terjadi nanti.
" Baiklah... aku akan pergi, tapi kuharap mas Reza akan segera menghubungi ku setelah ada keputusan..." akhirnya mbak Vani beranjak dari duduknya dan berlalu dari hadapan kami.
Aku meraih gelas leci tea dan meminumnya sampai habis, saatnya mengisi bahan bakar agar kuat menghadapi masalah yang akan di bicarakan mas Reza.
Sejenak mas Reza hanya menatap ku, seakan mencari sesuatu yang ada di wajahku.
" Bicaralah mas, rasa penasaran sudah cukup tinggi..." ku silangkan tanganku dan dengan wajah serius membalas tatapannya itu.
" Hmm... Baiklah, sebelumnya aku minta maaf telah membuatmu masuk dalam masalah ini... Beberapa waktu lalu Vani menemui ku, dan menyerahkan surat dari mendiang Vina yang ditujukan padaku... sebelumnya surat itu memang disembunyikan oleh keluarga besarnya, namun akhirnya Vani berhasil menemukannya..." ungkapnya sambil memainkan jemarinya.
" Apa isinya?" tanyaku saat mas Reza mulai terdiam sejenak seakan tidak percaya diri untuk mengungkapkan semuanya.
Mas Reza kembali menghela nafas, lalu menyerahkan ponselnya padaku.
" Bacalah sendiri...." ucapnya kemudian.
Ku ambil ponselnya itu yang telah terbuka file galeri foto sebuah surat.
# Mas Reza yang selalu kucinta...
Sebelumnya aku minta maaf telah menulis surat ini, bukan aku tak mampu namun aku yakin pasti kamu tidak akan setuju akan permintaan ku yang terakhir ini...
__ADS_1
Saat kamu membaca surat ini, pasti aku sudah tak ada di sampingmu lagi, meski demikian aku mohon dengan sangat kamu masih bersedia memenuhi permintaan ini seperti saat kita masih bersama, bukankah kamu selalu memberikan semua yang kuinginkan....