Meski Tak Sempurna

Meski Tak Sempurna
Tragedi


__ADS_3

"Amel…tante minta maaf, karena Reza sangat bersalah padamu.."tante Nina menatapku dengan tatapan bersalah.


Aku belum dapat mencerna perkataan Tante Nina. Ku toleh Tasya hanya mengangguk, semakin membuatku bingung.


...----------------...


"Jangan khawatir Amel, Tante pastikan Reza akan bertanggung jawab..."tante Nina mengusap lenganku dengan lembut.


"Maksudnya apa Tante? Amel nggak ngerti..." sepasang ibu dan anak itu semakin membuatku pening dengan tingkah mereka yang penuh drama ini.


"Kamu nggak perlu nutupin, Tante yang seharusnya malu tidak mendidik Reza dengan baik..maafkan Tante ya.."tiba-tiba tante Nina tersedu di sampingku.


"Eh ..Tante kenapa nangis.."aku langsung mengusap lengannya agar tante Nina lebih tenang.


Kudengar suara motor berhenti didepan rumah, itu pasti ibu. Alhamdulillah bala bantuanku datang untuk menghadapi dua orang tamu super aneh ini.


"Assalamualaikum..." sapa ibu seraya masuk rumah.


Dan sama sepertiku, begitu masuk rumah ibu juga memasang wajah heran ada tamu malam-malam begini...


"Waalaikum salam ..." sahut kami hampir bersamaan.


"Jeng Nina ada apa! kok kelihatannya lagi sedih..?"tanya ibu seraya duduk di kursi sebelahnya.


"Ada hal penting yang harus kita bicarakan jeng..."sahut tante Nina mengusap air matanya.


Ibu mulai konsentrasi mendengarkan.


"Kita harus menikahkan anak kita jeng ..." ucapan tante Nina itu membuat jantungku terasa loncat keluar langsung jatuh ke tanah.


"Maksudnya gimana ya?" ibu mengerutkan dahinya.


"Reza dan Amel.."jawab tante Nina.


"Kami....kenapa!?!" ucapku spontan tak bisa menahannya, karena penasaran...


"Mereka sudah tidur bersama, jadi kita tak boleh menundanya..." sahut tante Nina lagi.


"APAA!! Astagfirullahaladziiiim..."ganti ibu yang terlonjak karena kaget. Dan detik kemudian ibu mulai panik..


"Tu..tunggu!! siapa yang tidur bersama?!?"ucapku ikut panik dan tak percaya dengan pendengaran ku sendiri.


"AMELL!!!! Udah ibu bilang kamu harus jaga yang satu itu ..." ibu mulai menuduhku dengan suara tegasnya.


"Tapi bu... "Aku berusaha membela diri namun terpotong oleh ucapan ibu yang semakin tertekan.


“ Ibu malu pada ayahmu..." lanjut ibu dengan nada yang membuat dadaku begitu sesak.

__ADS_1


Suasana mulai mencekam, tante Nina yang masih terisak diiringi ibu yang bergumam sambil menatap kosong ke depan.


"Bu..bukan ..bu, Amel tidak melakukan itu" aku berusaha menjelaskan namun sepertinya pikiran ibu sedang melayang tak tahu kemana.


"Kamu nggak usah takut Amel, Reza sudah mengakuinya, dan kalian akan segera menikah..." sekarang gantian tante Nina mengelus lenganku, tapi kalimatnya itu semakin memperkeruh keadaan.


"Nggak...aku nggak mau!!!"seketika aku menolak keputusan sepihak itu.


"Amel!! Kenapa kamu nggak mau nikah? Kalau kamu hamil gimana???"ibu terlihat semakin emosi padaku.


Mendadak kepalaku jadi sangat pusing. Malam syahdu yang tadi menemaniku, kenapa jadi malam yang runyam seperti ini.


Aku beranjak dari kursi dan berjalan keluar, darahku mengalir cepat seiring dengan emosi yang semakin memburu.


"Amel mau kemana kamu??" teriak Tasya mengikuti ku yang berjalan keluar rumah.


"Aku harus ketemu kakakmu!!!" ucapku pada Tasya.


" Tapi..Mas Reza tadi sore berangkat ke Makasar, Mel..!ada meeting dengan klien penting di sana..."


“Huh..menyebalkan!!!"aku merutukinya sambil meremas jemariku, ingin menonjok pria itu.


"Tasya, beri aku nomor ponselnya!!" ucapku kemudian.


"I..iya" Tasya bergidik melihat amarahku, lalu mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu disana.


HHhhh kuotaku juga habis. Aku kembali ke kamar dengan tergesa dan meraih dompetku.


"Ibu...aku mau ke warung depan, beli kuota"ucapku kepada ibu, lalu kutoleh tante Nina.


”Maaf Tante, Amel tinggal dulu ..assalamualaikum.. " ucapku sempat pamit ada mamanya Tasya.


Ibu yang masih murung itu hanya mengangguk dan menjawab salam dengan pelan.


"Iya sayang, waalaikum salam.. hati-hati..."jawab tante Nina lembutnya.


Aku keluar dan Tasya dengan cemas masih menungguku diluar.


"Ayo kuantar ..." ucap Tasya


"Nggak usah, Sya...aku lagi pengen sendiri, kepalaku pusing banget!!!"


Kuhidupkan motor matic ku, menyusuri jalan aspal perumahan. Hanya beberapa saat kemudian kubelokkan motorku ke ruko tempat menjual pulsa. Meski sudah malam tempat itu ramai sekali karena menjual dengan harga grosir.


Setelah mendapatkan paket data, segera ku scan nomor kode untuk data dan berhasil masuk. Beberapa chat berebutan masuk ke hapeku. Terutama dari grup anak2 kampus, yang selalu chatingan hal-hal yang nggak penting hanya bikin rame grup aja..


Segera kubuka chat dari Tasya yang berisi nomor mas Reza. Lalu langsung ku pencet tombol panggil dengan tak sabar..

__ADS_1


"Tuuuuttuuuut...."lama sekali belum diangkat mas Reza.


Aku ulangi sekali lagi, kutunggu sedikit lebih lama.


"Halo...assalamualaikum.."suara dari seberang begitu berat.


“Halo mas Reza kan?!? Waalaikumsalam... Tolong jelasin kenapa Tante Nina kira kita udah tidur bersama?!!!" ucapku bersemangat.


Karena bersemangat, aku lupa kalau masih berada didepan ruko. Pantesan semua mata langsung tertuju padaku ketika dengan lantang aku bilang tentang tidur bersama.


Setelah menyadari orang-orang mulai tersenyum simpul, segera ku langkahkan kaki menjauh dari keramaian orang-orang itu.


"Halo..halo...mas Reza..!!!"aku semakin kencang.


"Hmm ini siapa …?"sahut orang disana dengan nada malas.


"Ini Amel mas..."


"Hhmm...Amel?"


"Iya !!Amelia Pramesti, temannya Tasya!!!"


"Astaghfirullah ..Mel...ngapain telfon malam larut gini..."


"Larut malam gimana maksudnya!!!pokoknya jelasin, kenapa mas Reza bilang udah meniduriku!!!" suaraku semakin tinggi karena tak kunjung mendapatkan penjelasan darinya.


"Disini hampir jam dua belas Mel..besok aja aku telfon kamu, wassalamualaikum..." sahutnya sebelum memutus sambungan telefon kami secara sepihak.


"Eh..halo..halo..!! ishhhhh nyebelin banget sih ni orang, awas aja besok nggak akan lolos kamu!!!"


Astagfirullah, Amel!! ingat kamu itu cewek ya, kenapa tingkahmu jadi bar-bar begini sih..aku menghela nafas mulai intropeksi diri.


Namun hatiku masih saja merasa dongkol ketika melajukan motor ke perjalanan pulang.


Sampai rumah, kulihat sudah sepi, Tasya dan mamanya sudah pulang. Aku masuk kamar namun belum bisa tidur meski malam mulai larut. Ku putuskan untuk beranjak dari kamarku menuju kamar ibu, kulihat ibu ditempat tidur, aku menyusulnya dan memeluknya


"Amel..." ketika ibu menyadari keberadaanku.


"Amel tidur sini ya bu..."sahutku dengan manja.


"Iya nak... maaf ya tadi ibu membentak mu, ibu hanya sayang sama Amel..." kurasakan ibu mengelus rambutku dengan sayang.


"Ibu jangan banyak pikiran ya, Amel pasti bisa menyelesaikan masalah ini, bu..."


Semoga esok akan ada titik terang dari tragedi yang membuat ku menjadi tersangka utama ...


Yang membuatku tak habis pikir, kenapa mas Reza mengakui hal yang tak mungkin kami lakukan itu. Pasti ada sesuatu yang dia rencanakan...

__ADS_1


Dengan menahan rasa penasaran malam itu akhirnya aku terlelap dalam pelukan ibuku.


__ADS_2