
Yang membuatku tak habis pikir, kenapa mas Reza mengakui hal yang tak mungkin kami lakukan itu. Pasti ada sesuatu yang dia rencanakan...
Dengan menahan rasa penasaran malam itu akhirnya aku terlelap dalam pelukan ibuku.
...----------------...
Keesokan harinya kutunggu telfon dari mas Reza, namun hingga siang hari tak satupun suara dering dari ponselku.
Ku Putuskan untuk menelfonnya lagi, namun aku harus kecewa karena hanya suara tante operator yang menjawabnya.
Setelah menyerah dengan keadaan, hari itu kusibukkan diri membantu ibu finishing jahitan ibu, karena memang hampir pelajaran baru, jadi jahitan seragam mulai menggunung.
Untung saja kegiatan kuliah tak begitu menyita waktu, jadi bisa membantu ibu, biasanya sih ibu mengerjakan semua sendiri.
Tentang pembicaraan tadi malam bersama Tante Nina, kami belum sempat membicarakannya lagi, karena sedari tadi ada pelanggan ibu yang berkunjung silih berganti.
Aku masih berkutat dengan jarum, benang dan kancing baju ketika seseorang datang mengetuk pintu.
"Assalamualaikum..."suara salam dari seseorang yang mengedarkan pandangan ke dalam rumah
Aku yang berada disamping kursi ruang tamu diantara tumpukan jahitan yang menggunung, tak dapat dilihatnya.
Ketika aku mendongak kulihat orang yang dari tadi malam membuat otakku mendidih.
"Hmm...akhirnya muncul juga kamu mas Reza..."batinku lega.
Sambil menyingsingkan baju seakan bersiap untuk melabraknya, aku mulai merangkai semua kata-kata yang harus ku pendam untuknya sejak kemarin malam.
"Waalaikum salam..." aku pun berusaha berdiri saat menjawab salam darinya, namun ternyata kakiku tak mau diajak berdiri dengan tegak karena kesemutan.
“Aaaww.." entah berapa jam aku membiarkan kakiku terlipat sehingga gak kuat berdiri seimbang.
Akhirnya aku merangkak menuju kursi tamu.
"Amel...kamu kenapa?" mas Reza mendekat dan membantuku berdiri.
Dengan reflex tanganku bergelayut memegang kedua lengannya, sambil meringis menahan nyeri kesemutan dikedua kakiku.
Ketika kucoba berdiri sendiri, ternyata tidak berhasil. Hampir saja aku merosot kembali, bila tangan mas Reza tidak segera menangkap pinggangku.
"Amel!!!" suara ibu yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.
“Reza!!!" suara Tante Nina yang berada diambang pintu depan.
Sedangkan Tasya disebelah ibunya menutup mulut dengan kedua tangan dan melebarkan matanya yang cantik itu.
Kami berdua yang namanya dipanggil sama-sama terkejut, lalu baru menyadari bahwa kami dalam posisi berpelukan. Sontak kami segera melepaskan diri, meskipun aku harus gerak cepat meraih kursi untuk berpegangan.
Aku langsung duduk dan mengatupkan mulutku karena salah tingkah.
__ADS_1
Kulihat ibu geleng-geleng kepala, lalu menyapa tamu kami tersebut.
"Ayo..ayo duduk dulu jeng Nina, Tasya dan Reza... silahkan ,maaf tempatnya berantakan.."
"Tidak apa-apa jeng...maaf mengganggu" sahut tante Nina.
Setelah semua duduk, aku yang dari awal mau membuat perhitungan dengan mas Reza yang telah mencemarkan nama baikku, jadi rikuh karena ada ibuku dan ibunya yang ternyata ikut bergabung duduk diruang tamu ini.
"Tante...kedatangan kami kali ini ingin meluruskan kesalahpahaman.."ucap mas Reza pada ibuku.
Ibu manggut-manggut mendengarkan dengan serius, sedangkan aku mulai bernafas lega tak menyangka pria itu akan langsung mengatakan kebenaran pada ibuku.
"Sebelumnya saya minta maaf karena telah mengakui bahwa kami telah tidur bersama sehingga membuat ibu dan tante jadi salah paham, terus terang saat itu saya yang dalam posisi harus segera mengejar penerbangan hanya konsentrasi dengan keberangkatan saya ke Makasar dan ketika ibu meminta penjelasan, saya hanya mengiyakan saja..." jelasnya panjang lebar.
"Sebenarnya masalah apa yang menyebabkan hal ini? Aww...."ucapku memotong ceritanya dan mengaduh sambil menoleh kearah ibu.
Ibu mencubit lenganku dan menggelengkan kepala tanda bahwa tak sopan memotong perkataan orang lain.
Mas Reza hanya menghela nafas lalu menoleh kearah Tasya.
"Maaaaf, ini semua gara-gara Tasya...saat aku telfon Amel lalu dia bilang bahwa dia sedang tidur dan ****** ***** mas Reza ketinggalan di kamarnya, jadi aku langsung membayangkan bahwa kalian berdua telah melakukannya. Aku sangat panik dan memberitahu mama...." ucap Tasya nyengir.
"Dan saya juga menjadi panik dan langsung memarahi Reza agar mau bertanggung jawab...."sahut tante Nina seraya tersenyum malu.
Ibu menoleh ke arahku dan tersenyum lalu memelukku dari samping.
Astaga ucapan ibu malu-maluin aja kenapa hal itu harus diomongin segala sih. Saat aku melihat mereka, tamu-tamu kami itu tersenyum penuh arti.
Ibu melepas pelukannya dan menghapus air mata penuh haru.
"Saya minta maaf ya jeng, karena telah membuat salah paham ini semakin besar..." tante Nina terkekeh.
“Sudahlah jeng, saya lega putri saya masih utuh..."sahut ibu kemudian.
Ya iyalah masih utuh, bundooo!!! jeritku dalam hati.
"Tante...namun tujuan saya disini tidak hanya klarifikasi saja”ucapan mas Reza kembali serius.
Ada apalagi nih, perasaanku mulai tidak enak..
"Ada apalagi Reza..." tanya Tante Nina seraya memegang lengan putranya itu.
Pria itupun menoleh ke mamanya.
"Ma, saya minta ijin mau meminang Amel menjadi istri saya..."sahutnya datar.
"Haa!!!"seruku
Bukan Cuma aku yang terperanjat, kulihat semua orang dihadapanku terbelalak dengan ekspresinya masing-masing.
__ADS_1
"Tante...meskipun saya dan Amel tidak begitu dekat, namun saya serius akan menjaganya dan bersedia memberi kebahagiaan untuk Amel..."ucapnya lagi dengan nada tegas.
"Rezaaaa...ini bukan mimpi kaaan..."tante Nina terharu sampai menitikkan air mata bahagia.
"Mas Reza!!Kereeeennnn...!!" sorak Tasya.
"Benarkah itu Reza???"ibu juga terpesona perkataannya itu.
Kugoyang-goyang lengan ibu untuk menyadarkannya. Ibupun menoleh kearahku, aku langsung merengut dan menggeleng.
Ibu .
"Aku belum mau nikah dulu ..." rengekku.
"Amel!! pamali nolak lamaran, nanti kamu jadi perawan tua!!lagian umurmu hampir 22 tahun, ibu dulu 18 tahun sudah punya anak..."protes ibu padaku.
"Ha, 18 tahun udah lahiran? ibu SMA udah hamil dong??"gantian aku yang meledek ibu.
"Ibu kan hanya lulusan SMP..hee.."ibu langsung nyengir.
Ah iya aku lupa bila ibu hanya S2 (SD & SMP)
”Sudahlah Mel, firasat seorang ibu nggak akan salah, ibu yakin Reza yang terbaik untukmu..."ucap ibu lagi.
Seketika tubuhku lunglai seakan tak bertulang.
"Reza perlu kamu tau, Amel itu tumbuh besar tanpa seorang ayah, ibu selalu mengajarkannya untuk kuat dan pandai menjaga diri. Mungkin karena itulah dia agak tomboy dan kasar. Dia juga tidak pandai masak dan merawat diri layaknya wanita..." ibu mulai menjelaskan spesifikasi diriku.
Aku berbinar ketika ibu menceritakan pribadiku yang berantakan ini dan berharap mas Reza mengurungkan niatnya.
"Saya tau bu..."kenapa dia menjawabnya dengan tetap yakin begitu sih.
"Setelah kamu mengetahuinya yang saya yakin sangat jauh berbeda dengan mendiang istrimu....jadi apakah niatmu menikahi putri bungsu ibu ini tetap berlanjut?" tanya ibu lagi.
"Apabila Tante merestui, saya tetap akan meneruskan niat untuk meminang Amel.." nada tegas terdengar dari jawabannya.
"Alhamdulillah Reza, ibu percayakan seluruh hidup Amel kepadamu, bimbinglah dia..." sepertinya ibu sedang mewujudkan impiannya mempunyai menantu seorang Reza Abimana.
Sepertinya aku baru pertama kali melihat ibu begitu bahagia, mungkin karena kecemasan yang selama ini dipendam karena memikirkan bagaimana putrinya yang bar-bar ini mendapatkan jodoh yang bersedia menerima apa adanya.
“InsyaAllah Tante..." janji mas Reza pada ibuku.
Tante Nina dan Tasya juga terharu melihat siaran langsung lamaran yang menurutku hanya ada di sinetron.
Ya Allah, Engkau yang maha berkehendak ...
Tapi kenapa jodohku pria lemah lembut sepertinya...hiks..hiks
Aku hanya memijat pelipis ku karena pening meratapi hidupku, jadi penasaran kejutan apalagi yang bakalan terjadi.
__ADS_1