
"Tunggu...tetaplah disini. Aku masih berusaha mengingat apa porsi makan kamu memang sebesar ini?"sahutnya sambil menatapku yang masih sibuk mengunyah makananku.
Mata kami bertemu, kulihat tatapannya yang sendu namun berisi beribu pertanyaan yang selama ini tak bisa masuk dalam logikanya.
...----------------...
Ku alihkan pandanganku kearah piringku, memang tanpa kusadari porsi makanku seakan dua kali lipat dibanding biasanya.
Mungkin karena aku harus berbagi dengan kedua anak yang ada di rahimku. Lebih baik aku menanyakan ke dokter saat kunjungan berikutnya, apakah memang normal seperti ini..?
"Emm...baru akhir-akhir ini aku selalu merasa lapar, apa kamu malu punya istri gemuk? Bukankah kalau aku kurus pasti orang bilang aku menderita menikah denganmu..." sahut ku sambil mengalihkan pandangan ku darinya.
Diapun terkekeh.
"Makanlah yang banyak, sebenarnya aku nggak rela bila ada makanan disia-siakan..." sahutnya kemudian.
"Jadi mendingan mas Reza kalau di rumah masaknya cukup untuk porsimu saja biar nggak mubadzir...atau apakah memang sudah terbiasa masak untuk mbak Vina ya..."ucapku sambil berusaha untuk memainkan peranku sebagai teman baginya.
Mendengar nama mendiang istrinya itu, senyumnya mulai terukir.
" Hmm...dulu aku jarang memasak, karena Vina yang selalu melakukannya, hanya saja saat kondisi tubuhnya semakin menurun, aku semakin terbiasa memasak untuk kami berdua..."
Cerita itu sungguh sebuah kisah romantis, namun sayangnya berakhir dengan kepedihan.
" Mbak Vina memang istri idaman jadi sudah sepantasnya mendapatkan suami seperti mas Reza..." sahutku dengan nada minder.
"Apa selama ini kamu memang enggan makan bersamaku?" ucapnya tanpa melihatku.
"Aku hanya tak yakin mas, boleh makan bersamamu atau tidak? Aku hanya nggak mau mas Reza jadi ilfeel makan satu meja denganku, apalagi jadi bayangan mbak Vina, mending aku makan sendiri..."
Raut wajahnya yang datar itu, sepertinya membenarkan ucapanku. Beberapa saat kami melanjutkan makan siang dalam keheningan.
"Maaf aku tak bisa menjadi suami yang baik untukmu..." ucapnya setelah mas Reza menyelesaikan makan siangnya.
Aku hanya tersenyum menanggapi hal itu.
“Tak perlu minta maaf, karena aku sendiri juga tak bisa jadi istri yang baik untukmu... bukankah kita hanya teman dalam pernikahan ini..." sahut ku dengan nada lelah.
"Apakah dalam perjanjian kita ini, ada batasan waktunya? Bagaimana pun kamu berhak mendapatkan suami yang mencintaimu dan membuatmu bahagia dalam pernikahan sesungguhnya..."
__ADS_1
Kalimat itu membuatku merinding, apa yang harus kukatakan pada pria yang tiba-tiba asing bagiku ini. Kemana perginya kalimat bahwa aku akan menjadi wanita terakhir baginya dan meski kami tidak begitu saling mengenal namun akan menjamin kebahagiaan ku.
" Aku hanya menikmati apa yang sedang kujalani mas, karena ini adalah takdir ilahi, bila memang ada saatnya kita berpisah, aku juga akan berusaha untuk ikhlas asalkan kita bisa membicarakan hal itu baik-baik dengan keluarga besar kita..."
" Baiklah Amel, terimakasih telah bersedia memberikan kebahagiaan pada keluarga ku...jangan khawatir, ketika kita berpisah aku akan akan menjamin semua kebutuhan mu..."
Jadi semua hanya tentang materi. Rasa nyeri tiba-tiba mengalir dalam hatiku..
Tak ada yang bisa kulakukan selain tersenyum dan mengangguk padanya. Kurasa pembicaraan ini memang seperti seorang partner kerja bukan sepasang suami istri yang normal.
Makan siang hari itu merupakan satu langkah untuk membuat mas Reza lebih terbuka dan percaya padaku.
Aku mengusap perutku mengajak anak-anakku memperjuangkan kasih sayang ayahnya.
Sore itu hujan turun begitu lebat, membuatku meninggalkan motorku di café dan pulang bersama mas Reza. Mobil kami berjalan pelan menembus jalanan yang diguyur hujan disertai angin kencang.
Tak ada percakapan diantara kami, aku sendiri sedang sibuk dengan pikiran ku bagaimana mengembalikan ingatannya itu.
Semangatku tak pernah surut untuk berusaha mengumpulkan serpihan memori tentangku dipikirannya.
Ddrrtttt...suara dering dan getar ponselnya memecahkan keheningan kami.
"Halo..iya, aku masih dijalan nanti aku kesana..."setelah itu mas Reza menutup telfonnya.
Merasa ku perhatikan diapun menoleh padaku. Saat itu mobil berhenti karena lampu lalu lintas berubah warna merah.
"Setelah mengantarmu, aku akan menemui Vani..." ucapnya sekilas menoleh kearahku.
"Vani?" dahi ku berkerut mendengarnya.
"Iya...adeknya Vina, apa aku tak pernah membicarakannya?"
"Memangnya ada apa dengannya?
"Dia perlu bantuanku untuk mengurus pemulihan saham di perusahaan pamannya..." sahut mas Reza yang kembali fokus pada jalanan.
"Apa sebelum ini kamu pernah menemuinya..."
"Iya...aku pernah berjanji pada Vina, meski dia telah tiada aku akan selalu menjaga hubungan baik dengan keluarganya..."
Dadaku kembali terasa nyeri mendengarnya. Dulu Tasya pernah bercerita tentang keluarga mbk Vina yang sudah menetap di London sejak kepergiannya.
__ADS_1
Beberapa bulan yang lalu adiknya kembali menetap di Indonesia, dan sepertinya setali tiga uang, dia mulai mendekati mas Reza.
"Apa dia tau kamu udah nikah?"tanyaku lagi.
"Ya...aku sudah memberitahunya.."
"Apa mas Reza juga tahu bahwa dia juga menyukaimu?"
"Hmm...Dia udah pernah mengatakannya..."
"Lalu?" rasa penasaran begitu besar, ternyata aku melewatkan sesuatu...
"Aku tak tau, yang aku tau aku tak pernah berniat menjalin hubungan dengan wanita lain namun aku juga bingung ternyata aku sampai menikah dengan mu..."
Aku menyandarkan kepalaku di kursi, menata hatiku karena sepertinya dia menyesal menikah denganku. Ingin sekali memukul kepalanya yang tiba-tiba bodoh itu, emang siapa yang dulu meluluhkan hati ibuku agar bersedia melepas ku.
Gerimis masih setia membasahi bumi ketika kami sampai dihalaman rumah kami.
"Seandainya kamu belum menikah denganku, apa kamu akan menikahinya?" rasa sebalku padanya mulai memuncak ketika mengatakannya, lalu aku turun dari mobil tanpa menunggu jawabannya.
Setelah aku masuk kedalam rumah, kudengar deru mobil meninggalkan halaman rumah.
Aku segera masuk kedalam kamar utama, ku langkahkan kakiku menatap sekeliling ruangan yang telah lama tidak ku sentuh.
Tempat tidur itu mengingatkan malam-malamku bersamanya, kuhela nafas dan kubelai perutku dengan lembut.
"Tak apa sayangku, kita akan bersama-sama tetap berusaha merebut hati ayah kalian..."gumanku
Aku berbalik arah akan keluar dari kamar itu, namun langkahku terhenti di foto mbak Vina yang masih terpajang di sana.
"Maaf mbak Vina, aku nggak akan membiarkan adikmu merebut mas Reza karena aku akan membuatnya jatuh cinta padaku sama seperti cintanya kepadamu aku nggak akan berhenti sampai ajal menjemput ku..."
Lalu aku keluar dari ruangan itu dan menutupnya kembali. Ku Langkahkan kakiku menuju kamar sebelah, tempatku tidur setiap malam. Setelah membereskan kamar, aku mandi untuk menyegarkan tubuh dan pikiranku.
Jam dinding menunjukkan pukul lima tiga puluh menjelang malam ketika aku turun dari tangga menuju dapur.
Saatnya beraksi, mempraktekkan apa yang diajarkan chef Richard padaku. Aku akan masak makan malam, karena waktu yang mepet, kupilih menu sederhana yang akan ku hidangkan.
Setelah sholat magrib, aku pun mulai mempersiapkan masak nasi di magiccom lalu ku olah iga sapi dan sayuran.
Akhirnya setelah satu jam berkutat di dapur ku hidangkan Sup Kimlo iga sapi, ca brokoli, dori krispi sambal matah, keripik tempe dan buah apel kupas di meja makan.
__ADS_1
Ku bersihkan dapur ketika kudengar suara mobil parkir di halaman. Aku segera menyambutnya.
Ketika kubuka pintu, ternyata bukan mas Reza...