Meski Tak Sempurna

Meski Tak Sempurna
Menjagaku


__ADS_3

Dia mengusap lembut rambutku dan mencium keningku.


"Masih sakit hmm...."


"Hmmm ..." aku hanya mengangguk, tak mampu berkata-kata.


...----------------



...


Lelahku terasa berkurang saat menikmati hangatnya gelas yang ku tangkup dengan kedua telapak tanganku.


Lalu dia mengambil kembali gelas teh yang telah kosong dari tanganku dan beranjak dari duduknya.


"Akan kusiapkan air hangat untukmu mandi..."ucapnya sambil berlalu dari hadapan ku.


Ku perhatikan sikapnya yang begitu manis itu, apakah kami akan seperti ini selamanya. Sepertinya aku mulai takut kehilangan pria berwajah oriental itu deh...


Segera kuambil handuk besar dari lemariku, dengan menahan nyeri aku masuk ke kamar mandi. Dan ketika kulihat tubuhku di kaca, astaghfirullah..


Kupegang kedua pipiku yang terasa panas karena malu melihat bekas yang dia tinggalkan, mungkin aku akan berubah jadi macan tutul...


Selesai mandi mas Reza sudah menungguku untuk sholat subuh berjamaah. Rasanya beban yang ada dalam hati telah terlepas karena kini telah menjadi seorang istri yang sesungguhnya...


Memang sebelumnya ada perasaan bersalah dan juga merasa was-was dengan berbagai pertanyaan bagaimana dia melepaskan hasratnya itu.


Setelah sholat subuh, mas Reza keluar kamar dan mengajak ku duduk bersebelahan dengannya.


Ternyata dimeja makan sudah ada nasi goreng komplit dengan telur mata sapi diatasnya untuk kami berdua.


Kuambil gelas teh di meja yang masih terasa hangat dan menyesapnya berulang kali. Aku yang berada disebelahnya masih tak berani membalas tatapannya, entah apa yang sedang dipikirkannya tentangku.


Hhh... lama-lama otakku terlalu banyak menerka, alih-alih kuambil piring dan nasi goreng lalu ku letakkan didepannya.


"Jam berapa mas Reza menyiapkan semua ini? Maaf aku tak membantumu..."tanyaku memecah keheningan .


“Aku hanya memanfaatkan persediaan ibu saja, sekedar bentuk tanggung jawab, bukankah gara-gara aku semalam kita melewatkan makan malam.."dia tersenyum penuh arti.


Ishhh...pipiku pasti merona karena kembali panas, mengingat kesibukan kami semalam...

__ADS_1


Dan dia benar, aku lapar sekali apalagi nasi goreng buatannya ini menurutku enak banget. Bagaimana bisa urusan dapur, seorang istri kalah dengan suaminya...


"Enak.. hmm?" tanyanya padaku.


"Aku bisa gendut kalo dimasakin makanan enak terus kayak gini..."


"Aku jadi ingin melihatmu gendut, semalam aku baru tahu kalau ternyata kamu bisa tenggelam saat kupeluk..."dia terkekeh sambil menikmati makanannya.


Aku masih saja salah tingkah menanggapinya. Apa hanya perasaanku saja, kini mas Reza lebih sering melepas tawanya itu.


Setelah sarapan , aku kembali ke kamar tidurku berniat membereskan ruangan itu akibat kekacauan semalam.


Termasuk harus segera mencuci seprei dengan bercak darah yang cukup membuatku bangga bisa menjaganya hanya untuk suamiku saja.


Mas Reza menghampiriku ketika aku menarik sprei dari tempatnya, dan saat menyadari kehadirannya segera ku sembunyikan noda itu.


"Mau diapain?"tanyanya seraya duduk di kursi belajarku.


"Harus segera dicuci, agar nodanya bisa hilang..."ucapku masih malu.


"Kemarikan..biar aku saja yang mencucinya, aku juga harus bertanggungjawab kan?"sahutnya menarik sprei yang kubawa sambil tersenyum menggoda.


Ketika sprei itu sudah ditangannya malah diletakkan kembali di meja sebelahnya, sementara tangannya menarik pinggangku agar duduk di pangkuannya.


"Ishh... lepasin, aku nggak seperti itu tau!!" ucapku berontak di pangkuannya, ingin segera beranjak dari sana karena dituduh menggodanya.


Diapun tergelak..sambil memelukku lebih erat.


"Iya..iya.. sepertinya memang aku yang jadi sensitive kalo deket kamu...sinyalmu ternyata sangat kuat”


"Sepertinya dulu mas Reza nggak kayak gini deh sejak kapan mulai menginginkanku, hmm?"ucapku seraya bersandar di dadanya.


"Entahlah..pada awalnya memang aku tak berharap apapun darimu, aku hanya butuh teman. Namun sikapmu yang selalu menghindar membuatku penasaran dan jadi sangat menyenangkan bisa menggoda mu. Akhirnya aku ketagihan, lama-lama perasaan rindu yang begitu kuat selalu hadir saat jauh darimu..."


"Apa perasaan mas Reza juga seperti pada mbak Vina dulu?" tanyaku penasaran.


"Kalian berdua sungguh berbeda. Vina seorang yang lembut namun rapuh, membuatku ingin selalu melindunginya..."


"Dan kamu begitu mencintainya, dulu aku melihat kalian pasangan yang sempurna..."


"Ya, aku sangat mencintainya ... "dia menghela nafas.

__ADS_1


"Bagaimana caranya agar aku juga mendapatkan cintamu itu..."


"Semua yang ada dalam diriku, hanya untuk istriku, bukankah itu artinya kamu sudah mendapatkan semuanya?"dia masih betah memelukku dalam pangkuannya.


Namun kamu nggak pernah mengatakan bahwa kamu mencintaiku ... ingin sekali aku mendebatnya, namun aku nggak mau merusak suasana yang membuatku nyaman ini.


Biarlah aku selalu menjadi yang kedua setelah mbak Vina, toh sekarang mas Reza selalu ada di sampingku, tapi apa itu sudah cukup untukku..?


" Oh iya, setelah aku lulus nanti, bolehkah aku melamar kerja di cafe milikmu?" tanyaku mengalihkan perasaan kecewa dalam hatiku.


" Kenapa? Jangan-jangan karena ada Richard di sana?"sahutnya dengan nada curiga.


"Aku ingin belajar masak mas, sebenarnya aku mulai malu jadi istri nggak tau urusan dapur..."


"Sedikit banyak aku juga tau beberapa resep, tak perlu si Richard biar aku saja yang mengajari mu memasak..." sahutnya.


Sepertinya aku harus merubah kalimat ku agar mas Reza tidak melarang ku. Sebenarnya aku ingin bisa memberinya kejutan dengan membuat kue atau makanan spesial seperti pasangan lain, kalau mas Reza yang mengajari mana bisa ada kejutan...


Tentang chef Richard, aku memang senang bisa bertemu dengan pria idolaku, seorang bule dengan kulit eksotis dan pandai memasak...


Namun sekarang ada hal lain yang membuat ku lebih bersemangat, punya teman hidup yang begitu perhatian, hingga aku berharap bisa merebut seluruh cintanya hanya untukku...


" Benarkah mas Reza akan mengajari ku memasak? Coba beri contoh padaku, hari apa kira-kira punya waktu luang..hmm...?" tantang ku.


Pria itu tampak tercengang dengan pertanyaan ku.


" Hari Minggu..." sahutnya dengan nada tak yakin.


" Baiklah...dalam bulan ini, hanya satu hari Minggu ini kita bisa bertemu seharian penuh, dan hari Minggu lain kamu lebih suka berpetualang dengan si Yogi kan..."


Mas Reza menahan tawanya karena ocehanku itu. Mungkin karena aku mengatakannya dengan gemas seakan sedang cemburu pada asistennya yang bernama Yogi itu.


" Iya maaf deh...aku akan berusaha mengatur waktu agar hari libur bisa bersamamu, bukan dengan Yogi terus, memang beberapa bulan ini ada beberapa proyek baru yang membutuhkan kehadiran ku secara langsung, nanti kalau sudah berjalan lancar baru ku lepas pada kepala tim masing-masing...." jelasnya panjang lebar.


"Okey...sambil menunggu waktu luang mu, biarkan aku belajar sekaligus bekerja agar ilmu yang ku pelajari bisa berguna, kalo mas Reza tak mengizinkan di cafe bersama chef Richard, aku akan melamar cafe lain...."


" Eh...tidak..tidak..lebih baik kamu belajar dan bekerja bersama Richard saja daripada di tempat yang tak aku kenal..."mas Reza terlihat berfikir.


" Beneran nggak khawatir aku dekat dengan idolaku itu hmmm...." ledekku


" Justru Richard akan membantu ku untuk mengawasi dan menjaga mu, Mel...kalau di tempat lain, bisa-bisa kamu tidak aman ..."ucapnya dengan serius.

__ADS_1


" Kok aku merasa jadi anak TK ya..." sahutku sambil memutar bola mataku.


Sepertinya mas Reza menyamakan aku dengan Tasya, adik semata wayangnya itu.


__ADS_2