Meski Tak Sempurna

Meski Tak Sempurna
Mungkinkah kembali


__ADS_3

Ku perhatikan wajah di hadapanku dengan seksama. Rambutnya masih basah, mungkin dia sudah sholat subuh lalu ketiduran lagi karena semalam terbangun dan begadang dianiaya oleh wanita nyidam ini....


...----------------



...


Dulu aku memang menganggapnya cowok cantik, namun makin lama kulihat rahangnya makin terlihat dewasa, garis wajahnya juga mulai terpahat tidak lurus mulus seperti idol korea lagi.


Mungkin efek karena umurnya semakin matang, atau karena sebentar lagi sudah jadi seorang ayah, aku mengkhayal sambil senyum-senyum sendiri...


"Kapan kamu kembali padaku mas..?"gumanku.


Setelah beberapa saat aku bermalas-malasan dengan mengamati wajah suamiku sampai puas, aku segera beranjak karena jam dinding telah berdetak menunjukkan jam lima lebih. Aku harus segera sholat subuh lalu menyiapkan sarapan.


Sampai dapur kulihat bu Rijah sedang membersihkan area dapur dan meja makan.


"Pagi bu Rijah..." ucapku menyapa wanita paruh baya itu.


"Pagi Non, auranya cantik banget...semoga hari ini dan seterusnya selalu ada kabar baik dirumah ini..." kalimat itu entah memang doa atau asal tebak seperti Lucy, istri chef Richard.


"Amiiin..."aku tersenyum mendengar doa yang paling berharga itu.


Pagi itu aku membuat roti bakar dan susu hangat untuk sarapan. Aku jadi teringat bahwa aku belum sempat membeli susu hamil, oleh karena itu rencananya hari ini aku akan pergi ke supermarket untuk membelinya sekaligus belanja beberapa pakaian longgar untukku.


Setelah menyiapkan sarapan, aku berniat membangunkan mas Reza, tumben dia belum bangun. Ketika hendak melangkah naik ke lantai dua, kudengar nada dering ponsel mas Reza berbunyi. Setelah ku ikuti sumber suara itu, ternyata dalam saku jaket hitam yang tergeletak di sofa ruang TV.


Kuambil ponsel yang tak berhenti berdering itu, kulihat nama Vani di sana. Cukup lama aku hanya menggenggamnya, dering itu berhenti sejenak lalu berbunyi lagi.


Lalu ku hela nafas dan memutuskan untuk menerima panggilan itu.


"Halo assalamualaikum, mbak Vani..." ucapku sambil menahan perasaan.


"Ini hapenya mas Reza kan?" suara dari seberang dengan nada tak suka.


"Iya, mas Reza belum bangun tidur..apa ada pesan?"sahutku mencoba untuk menanggapinya dengan santai.


"Apa dia nggak ngantor? kok jam segini belum bangun.."


"Entahlah, kelihatannya mas Reza kecapekan...." capek ngeladenin kamu tuh batinku.


"Oh baiklah...Biar nanti ku telpon lagi...eh tunggu .. kamu Amel kan?" masih dengan nada tak ramah.


"He..he..mbak Vani ada-ada aja. Ya iyalah, siapa lagi yang berani mengangkat telfonnya mas Reza selain istrinya kan..." semoga membuatnya semakin sewot dengan jawabanku itu.

__ADS_1


"Aku ingin ngobrol denganmu, kapan ada waktu?" tanyanya kemudian.


" Mmm...Hari ini aku ada perlu ke supermarket, kita bisa ketemu di sana..."sahutku.


"Baiklah...aku tunggu jam 9 disana..."


Lalu dia menutup telfonnya dengan sepihak. Dasar wanita aneh, dia yang butuh ketemu nggak ada terimakasih sedikit pun...


Setelah beberapa saat kemudian, kulihat mas Reza turun dari lantai dua sudah dengan penampilan yang rapi siap berangkat ke kantor.


Dia langsung duduk dimeja makan dan makan roti bakar yang sudah kusiapkan tadi. Aku menghampirinya dan meletakkan ponselnya didepannya.


"Maaf, tadi aku mengangkat telfon mu..." ucapku padanya.


" Hmm...Dari siapa?" sahut mas Reza sambil menikmati secangkir susu hangat.


"Mbak Vani...katanya nanti mau telfon lagi.."


"Hmm..." hanya itu yang diucapkannya seakan tak tertarik.


"Nggak di telfon balik? Siapa tau penting...." aku menepiskan senyum hambar seraya duduk didepannya.


"Aku sedang tergesa, ada meeting pagi ini malah bangunku juga kesiangan..."sahutnya kemudian.


Kalimat terakhirnya itu membuatku melirik padanya dengan tajam...


Dia hanya sedikit tersenyum sambil menatap ku sekilas.


"Nggak juga, aku hanya merasa semalam tidurku sangat nyenyak..." sahutnya tanpa menatapku.


Aku masih bingung dengan ucapannya itu, tapi kubiarkan saja. Lalu kuambil sepotong roti bakar isi selai nanas dan memakannya.


"Aku berangkat dulu...assalamualaikum..." ucapnya beranjak dari duduknya dan berlalu dari hadapan ku.


Namun detik kemudian mas Reza berhenti lalu melangkah kembali ke arahku, dan tiba-tiba mengecup sekilas puncak kepalaku.


Tubuhku serasa membatu, roti yang ku makan berhenti di tenggorokan dan debaran jantungku tiba-tiba sangat cepat.


Apa yang baru saja terjadi? Ya Allah aku merasa dia sudah seperti yang dulu.


Benarkah dia telah kembali?


Seketika aku beranjak dan bergegas mengikuti langkahnya ke halaman. Namun terlambat mobilnya telah pergi meninggalkan rumah kami. Mungkin tadi hanya mimpi, batinku...


"Walaikumsalam..." gumanku menatap jalanan yang dilewatinya itu.

__ADS_1


Aku berbalik masuk ke dalam lalu aku mandi dan bersiap untuk pergi ke Mega Mall.


 Sebelum berangkat aku menelfon Richard


"Halo Amel...."suara chef Richard dari seberang terdengar ramah.


"Morning Chef...hari ini aku minta cuti ya..."


"Are you okey, honey?"


"Of Course Chef, I am really fine, don't worry..." aku terkekeh mendengar kecemasannya itu.


"Oh..God...kukira kamu kecapekan gara-gara kemarin pengunjung begitu ramai..."


"Aku nggak selemah itu, chef..hari ini aku berencana membeli baju longgar, aku merasa si kembar mulai membuatku tambah gendut..." ucapku kemudian.


"Ha..ha...itu artinya mereka sehat Mel... jadi mau belanja ya, dengan siapa?"


"Sendiri aja, lagian belum ada yang tau bahwa aku hamil selain kalian bukan..?"


"Okey..ingat ya jangan terlalu lelah, kandunganmu masih dalam trimester pertama..."


" Yess sir!! Tapi bolehkah aku minta sesuatu chef..?"


" Of course Amel, katakan apapun itu, aku nggak mau keponakanku jadi ngiler kalau tidak dituruti..." dengan logat bule nya yang kental, kalimat itu terdengar sangat lucu dan membuatku tertawa lepas.


" Tenang chef, urusan nyidam sudah diatasi sama ayahnya anak-anak..he..he..."sahutku sambil menahan tawa.


" Wow...good job for your baby's, biar ayahnya tau rasa...jadi katakan apa yang bisa ku bantu..?"


"Tolong minta seseorang untuk mengantarkan sepeda motorku ke Mega Mall pagi ini ya chef, terus terang aku lebih leluasa kemanapun bila ada motor kesayangan ku itu..."


" Well..baiklah, biar nanti motormu itu diantar kesana, tapi selalu hati-hati ya, ada dua nyawa yang harus kamu lindungi..."


" Hmm...okey, thank you so much chef..."sahutku sambil mengusap perut ku yang masih rata dan mengakhiri sambungan teleponnya.


Beruntung sekali aku mengenal Richard dan keluarganya. Meski baru mengenalku mereka memperlakukan aku seperti keluarganya sendiri.


Akhirnya taxi online yang aku pesan sampai didepan rumah. Aku segera meluncur ketempat janjian dengan mbak Vani.


Sengaja aku meminta bertemu di salah satu gerai dekat dengan parkir sepeda motor, agar aku bisa bertemu dengan orang utusan chef Richard yang akan mengantarkan sepeda motor milikku.


Seperti yang sudah kami rencanakan , mbak Vani sudah menungguku disalah satu sudut ruangan itu.


Aku masih berusaha ramah, meski ketika aku datang ada aura mencekam yang menyelimuti sorot matanya yang dingin menatapku.

__ADS_1


Wanita itu duduk dengan elegan seperti biasa. Penampilan yang sempurna seperti wanita sosialita yang penuh dengan aturan bersikap....


__ADS_2