
Ku bersihkan dapur ketika kudengar suara mobil parkir di halaman. Aku segera menyambutnya.
Ketika kubuka pintu, ternyata bukan mas Reza...
...----------------
...
"Tasya..?" meski bukan orang yang ku maksud namun aku menyambut mereka dengan senang hati.
Tasya dan mas Adit keluar dari mobil hampir bersamaan.
"Assalamualaikum kakak ipar..."seru Tasya dengan senyum manisnya dan membawa satu dos pizza ditangannya.
“Waalaikum salam, adek-adek...Kalian dari jalan-jalan ya...,ayo masuk.." sahutku merasa senang dengan kehadiran sepasang kekasih yang sering putus sambung itu.
Aku mempersilahkan mereka masuk dan Tasya pun langsung membuka dos pizza diatas meja ruang keluarga.
"Reza sudah pulang Mel..?"tanya Adit yang duduk di sofa lalu menghidupkan TV didepannya.
"Belum, mungkin sebentar lagi..." sahutku sambil berjalan ke dapur.
"Bagaimana keadaan mas Reza, Mel...apa dia mulai mengingat sesuatu?" tanya Tasya kemudian.
"Hhh... belum, dia masih saja berkutat pada masa lalunya.." aku menjawabnya sambil menyiapkan lemon tea hangat untuk kami dan membawanya ke meja.
"Sabar ya Mel....Makan dulu nih, mumpung hangat, mau topping jamur...?" sahut Tasya seraya mengambil satu potong untukku.
Aku pun mengangguk dan mengambil potongan pizza yang disodorkan oleh Tasya lalu menikmatinya dengan lahap. Aktivitas di dapur ternyata menguras tenaga dan menyisakan rasa lapar.
" Sebenarnya mama juga ingin berkunjung kesini, ingin tahu perkembangan putra kesayangannya itu, tapi aku melarangnya...aku takut mama memaksa mas Reza untuk mengingat mu..." ucap Tasya.
" Iya, lebih baik jangan dulu deh, aku juga khawatir mas Reza akan semakin menjauh untuk menghindari ku bila terlalu dipaksakan..." sahutku.
" Yang penting, Reza masih mau terapi agar sedikit demi sedikit otaknya bisa kembali ke tempatnya lagi..." mas Adit menimpali sambil tertawa.
Mendengar hal itu, Tasya menepuk kaki kekasihnya itu...
__ADS_1
" Maksudnya otak mas Reza udah geser, gitu...?!?" Tasya mulai gemas dengan ucapan mas Adit.
Akhirnya aku melihat sepasang sejoli itu saling cubit dengan mesranya.
"Hei...kalian ini bikin iri saja deh, oh iya sebenarnya aku sudah menyiapkan makan malam loh, kalian mau kan mencicipi makanan buatan ku?" aku pun menawari mereka makan malam.
"Wah sekarang udah pinter masak ya, pasti gara-gara chef Richard si bule berkulit eksotis yang ngajarin..." seru Tasya dengan antusias menebaknya.
"Iya juga sih..."ucapku nyengir.
"Eh Si Reza tau nggak tuh ... "celetuk mas Adit sambil tertawa.
"Ya tau lah, tapi dia malah nggak peduli... Nyebelin banget kan!!" sahutku sewot.
Seketika Adit tertawa lepas mendengar jawabanku itu.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil masuk ke halaman, pasti mas Reza yang datang.
"Assalamualaikum...Adit..? Sudah lama disini ?" ucap mas Reza saat masuk ke ruang keluarga langsung menyalami temannya itu.
" Waalaikum salam...Baru aja kok, dari mana kamu? Jangan bilang baru pulang kerja, ingat lo, kamu belum sembuh benar, jangan memaksakan diri..." sahut mas Adit.
Aku masih cuek tanpa menatapnya, kini aku sedang menikmati potongan pizza yang dibawa Tasya tadi.
“Lebih baik kita makan yuk...aku dah laper nih..." ucapku beranjak dari tempat dudukku sambil mengajak Tasya dan mas Adit ke meja makan.
"Eh bukannya kamu baru aja habisin satu potong pizza, maen laper aja ih, itu perut apa karung beras.."seru Tasya tertawa lepas sambil merangkul ku.
Segera ku balas dengan mencubit perutnya hingga kegelian.
Aku jadi ngebayangin gimana reaksinya, kalo Tasya tau ada keponakan kembarnya yang ada di karung beras ini.
Mas Reza mengikuti kami duduk di sebelahku, lalu seperti kebiasaan ku yang dulu aku ambilkan satu porsi makan untuknya.
Sengaja ku ambilkan dengan porsi sedikit dan meletakkan piring itu didepannya.
"Terima kasih..."ucapnya kepadaku. Sikapnya masih kaku karena setelah kecelakaan yang merenggut ingatannya aku tak pernah melakukan hal ini.
"Jangan dipaksakan kalo udah kenyang, kamu pasti sudah makan malam bersamanya kan?"sahutku pelan, agar tak terdengar oleh Tasya dan mas Adit.
__ADS_1
Dia menoleh ke arahku dan sejenak mata kami bertemu. Aku alihkan pandanganku darinya , hampir saja lolos air mata ini menatap mata itu.
Sungguh aku merindukan sosoknya yang dulu hanya perhatian padaku, bukan untuk wanita lain.
"Masakanmu udah mulai enak, Mel ... "ucap mas Adit memecahkan keheningan saat makan malam itu.
"Harus dong, aku rajin belajar masak soalnya nafsu makanku lagi naik nih..."
" Eh benarkah? kok gak da perubahan gitu, tetep kerempeng tapi pipimu agak cubby deh...atau jangan-jangan kamu hamil , Mel?" seru Tasya saat memperhatikan ku dengan penuh selidik itu.
"Uhuuk...!!"aku sampai tersedak mendengar ucapannya, lalu aku menoleh ke mas Reza yang menatapku tanpa ekspresi.
"Kenapa sampe kaget gitu sih Mel, nggak usah takut kali, Reza pasti mau tanggung jawab kok..ha..ha.."sahut Adit tak kalah menggodaku.
Hatiku jadi berdebar, bagaimana jika tiba-tiba mas Reza percaya aku sedang hamil...
"Kalian berdua emang jodoh ya, sama-sama rese ..." jawabku mengalihkan pembicaraan.
Setelah makan siang dan ngobrol lama, sepasang kekasih itupun pamit pulang karena sudah mulai larut malam.
Aku mulai merasa capek dengan hari ini, rasanya tenagaku terkuras habis dengan semua kegiatan mulai dari café sampai makan malam yang ku kerjakan sendiri, karena mas Reza menemani ngobrol Tasya dan mas Adit.
Setelah membersihkan diri dan minum vitamin dari dokter, aku merebahkan diri ditempat tidur kamarku. Sejak makan malam tidak ada percakapan antara aku dan mas Reza.
Dan lagipula aku malas harus beramah tamah dengannya setelah tahu bahwa dia tadi makan malam bersama wanita lain. Meski aku yakin mereka tak mungkin melakukan hal-hal mesum, namun aku tetap merasa cemburu, ketika suamiku harus memilih menemani wanita lain sementara aku sendirian dirumah.
Tak perlu waktu lama untukku terlelap ketika baru saja kepalaku menyentuh bantal. Namun entah baru berapa jam tertidur, tiba-tiba aku terbangun dan bergegas ke toilet.
Setelah urusan toilet selesai , malam itu aku merasa lapar lagi, ya ampun nak, tadi kan udah makan malam banyak gitu masa udah minta makan lagi...
Daripada tak bisa tidur, aku pun turun ke dapur, mencari sesuatu yang bisa dimakan, buah masih banyak. Namun ketika melihatnya aku jadi tidak berselera, tiba-tiba saja dalam bayanganku, rasanya ingin makan empek-empek Palembang yang kuahnya asem pedes, pasti enak banget deh...
Aku menghela nafas saat ku tengok jam dinding ternyata jam satu dini hari. Hadeeh... mana ada makanan itu jam segini, tapi keinginan itu semakin lama semakin kuat membuatku melangkahkan kaki keluar rumah, berniat untuk mencari makanan itu dirumah makan 24 jam.
Dengan mengenakan sweater, membawa dompet dan hape ku pesan taxi online, karena motorku masih ada di cafe.
Lumayan lama aku menunggu respon dari taxi online karena memang dini hari. Hampir saja aku putus asa dan memutuskan untuk jalan kaki , namun...
__ADS_1