
Aku hanya memijat pelipis ku karena pening meratapi hidupku, jadi penasaran kejutan apalagi yang bakalan terjadi.
...----------------...
Sejak pertemuan itu, semua yang ada hanya percakapan tentang pernikahanku yang akan segera dilangsungkan.
Meski aku tetap kekeh bahwa jangan sampai ada pesta sebelum wisuda, namun ibu juga kekeh agar ijab qobul harus segera dilakukan seakan takut terjadi sesuatu.
Hari ini, Selasa, 25 Maret akhirnya menjadi hari besar untukku. Seseorang yang awalnya sekedar kenal telah meminta tanggung jawab atas diriku pada ibu.
Bagaimana mungkin dua orang yang tidak mengenal pribadi masing-masing akan dipersatukan dalam ikatan pernikahan.
Dengan bermodalkan keyakinan suara hati seorang ibu yang percaya bahwa pria itulah jodoh putri bungsunya ini, bismillah aku akan menjalani takdirku...
Karena hanya ijab qobul, acara diadakan diruang tamu rumah Tasya yang memang luas, cukup untuk menampung 50 orang.
Saat ku edarkan pandangan ke sudut ruangan, semua hiasan bunga segar diberbagai sudut rumah menambah suasana hangat.
Awalnya aku merengek agar ijab qobul di KUA saja, namun komentar mereka....
"Eh..jangan!!!ini momen penting, sayang..!!"kata Tante Nina
"Iya di rumah saja, biar saya tetap bisa jadi saksinya..." kata papanya Tasya, memang karena kondisinya tak mungkin ikut ke KUA.
"No..no..no.. nggak ada background yang syantik untuk foto pengantinnya..." kata Tasya sambil geleng-geleng, dasar adek ipar tengil!!!
"Hmmm…” komentar mas Reza juga nggak jelas.
"Sudahlah Amel...kita ngikut aja ya.."ibu hanya bisa menyetujui semua rencana dari keluarga mas Reza itu.
Dan karena tak ada yang mendukungku mereka menang telak, akhirnya disinilah aku berada.
Setelah ijab qobul berlangsung khidmat yang hanya dihadiri keluarga dekat itu, kamipun melakukan foto mengabadikan kebahagiaan sebuah perkawinan yang seharusnya terjadi karena dua orang yang saling mencintai.
Kuakui sungguh professional WO yang disewa oleh tante Nina eh sekarang aku harus memanggilnya mama. Kulihat diriku berubah cantik dan anggun, bertolak belakang dengan realita sehari-hari.
Dan slide foto-foto yang telah diambil pun ditayangkan, sangat ironis, hasilnya begitu mengagumkan.
Melalui tatapan mata dan senyuman yang terlihat sangat natural menggambarkan sepasang pengantin yang sangat bahagia.
Apalagi pada saat mas Reza harus mencium pipiku, reaksi terkejut ku juga terekam dalam foto itu. Namun itu tak mengurangi momen dua sejoli yang sedang jatuh cinta, fotografer itu benar-benar mengerjai ku.

Eh satu lagi kok wajah kami seperti seumuran sih, padahal kan beda enam tahun.
__ADS_1
Yang begini ini aku malas dengan wajah oppa Korea, yang lebih imut dari umur sebenarnya. Atau jangan-jangan mas Reza keturunan vampire.
Dasar Amel, otakmu terlalu imajinatif...
Mulai sekarang aku harus mengubur imajinasi tentang pria dalam impianku, pria macho yang maskulin aku harus melupakanmu, hiks...
Namun aku juga belum sanggup untuk menyukai oppa-oppa korea macam suamiku sekarang, bagaimana jadinya ini...
Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri, ketika mas Reza meraih tanganku supaya menggandeng lengannya.
"Kamu melamun , Mel..?"ucapnya sambil menatapku.
"Eh..! Ah nggak.... aku hanya capek mas, ternyata keluarga besar mu banyak juga ya ngomong-ngomong suatu saat seandainya ada pesta, mereka juga datang lagi nggak ya?"
"Hmmm.…biasanya ya gitu”sahutnya mesem.
Astaghfirullah...hari ini saja rasanya kakiku ngilu, apalagi membayangkan harus berdiri menyambut orang-orang itu lagi ditambah undangan lainnya.
Rasa bosan semakin kurasakan ketika beberapa orang-orang mulai berpamitan.
Saat itu jam setengah dua siang , ketika seseorang menggendong bayinya dan berjalan kearah kami. Aku langsung bersemangat menyambutnya.
"Mbak Anna!! kenapa baru datang sih??" ucapku pada kakak sulungku itu, lalu aku mengambil alih bocah gundul berumur 4 bulan dan langsung mengecupnya.
"Kamu ini belum tau repotnya punya bayi, Mel... Tapi tak kusangka kamu beneran cepat dapat jodoh" ucapnya tersenyum bahagia lalu memelukku dengan sayang.
"Eh ingat kata-kataku ini Mel, nanti malam pertama jangan kasar dengan suamimu ya!!"bisiknya padaku.
Aku langsung melotot padanya dan menoleh ke mas Reza, fiuh.. dia lagi asik ngobrol dengan sepupunya.
Wejangan yang sungguh konyol. Emang kakakku satu ini, suka jahil…
“Malam Pertama itu sakit lo Mel, aku Cuma khawatir kamu nendang suamimu gara-gara kesakitan..."mbak Anna kembali meledekku menahan tawanya.
Segera ku cubit lengannya dengan sebal.
"Apaan si mbak !!"protes ku agar dia berhenti dengan ocehannya.
Beberapa saat kemudian, salah satu manusia usil yang lain datang menyambut kakakku itu.
Dia datang bersama mas Adit kekasihnya.
"Mbak Anna!" seru Tasya yang langsung cipika cipiki dengan mbak Anna.
"Apa kabar Tasya? sekarang kita ipar ya.." sahut mbak Anna.
__ADS_1
"Tasya sehat mbak, nggak nyangka ya kita jadi saudara gara-gara mereka ..."Tasya masih dengan tawa riangnya.
"Iya..ya, nggak nyangka yang tipenya bule macho dapatnya oppa korea..qi..qi..qi..
wk..wk..wk.."
Hhh... kenapa mereka berdua begitu kompak!!!! Entah sampai kapan mereka berhenti meledekku.
Hari ini duniaku benar-benar berubah, Allah menciptakan manusia dengan berbagai karakter agar saling melengkapi. Mungkin begitu pula dengan diriku dan mas Reza, semoga kami bisa saling menerima kekurangan masing-masing.
Setelah acara selesai, aku langsung mandi dan berganti pakaian, ketika mas Reza baru saja masuk ke kamarnya, dan sekarang menjadi kamar kami.
Untuk sementara kami menginap dirumah ini, karena memang belum ada pembicaraan tentang dimana kami harus tinggal.
Terus terang aku sangat merasa canggung memakai baju tidur dihadapan seorang pria, untung saja hanya stelan piyama jadi tidak sexy...
Kulihat dia begitu lelah ketika membuka jasnya dan meletakkannya di sofa. Lalu diapun melanjutkan dengan membuka kemeja dan kaos dalamnya.
Mungkin dia tau aku memperhatikannya, diapun menoleh ke arahku. Sontak ku alihkan pandanganku.
"Kenapa berpaling? Kau berhak melihat tubuh suamimu kok.." ucapnya sambil terkekeh.
Aku hanya berdecak menanggapinya.
Kuakui awalnya terlihat kurus rata, namun ketika sesi foto tadi mengubah pandanganku dimana kedekatan fisik kami, saat aku menyentuhnya ada otot-otot kekar dibalik kemejanya itu.
"Emang sedikit penasaran sih.."jawabku cuek sambil menyisir rambutku.
"Mulai sekarang kamu bisa melihatnya setiap hari bahkan sudah halal bila ingin melakukan apapun padaku..." sahutnya kembali terkekeh.
Sepertinya aku akan kalah soal beginian jika dibandingkan dengan duda yang pasti sudah berpengalaman itu.
"Ish...curang deh, mentang-mentang sudah pengalaman ... " gerutuku.
"Lalu biar adil gimana?"dia masih saja memamerkan body goalnya di hadapanku sambil bersedekap, membuat pikiranku jungkir balik sehingga berusaha mengalihkan pandanganku darinya.
"Kalau boleh jujur, semua begitu asing bagiku..."ucapku tanpa menghentikan kegiatanku tadi.
"Emang kalian belum pernah liat filmnya..?"
"Maksudnya?Kalian siapa? film apaan?”aku meliriknya dengan curiga.
"Iya, kamu dan Tasya, emangnya belum pernah liat film dewasa? ” dia juga menatapku dengan alis di naikkan.
"Astagfirullah... emangnya kami cewek yang apaan?" ujarku sewot menahan malu, ya ampun pipiku panas seperti mie rebus extra pedas.
__ADS_1
Pria itu menahan tawanya lalu duduk ditepi tempat tidur berhadapan denganku yang duduk di depan meja rias.
Aku masih saja mencoba menepis pikiran kotorku hanya dengan melihatnya telanjang dada. Astaga Amel, sejak kapan isi otakmu mulai mesum begini....