
Akhirnya aku pakai jurus pamungkas, masuk lewat jendela kamarku yang memang sudah lama tidak bisa terkunci dan itu hanya aku yang tau…
...---------------
...
Dengan lincah kakiku naik ke daun jendela, langsung menyelinap masuk seperti seorang agen profesional.
Mas Reza hanya geleng-geleng kepala melihat ulahku.
Setelah berhasil masuk, aku mencari sosok ibu dan nihil. Lalu aku mengambil kunci cadangan dikamar ibu lalu membuka pintu depan.
Kulihat mas Reza yang kedinginan karena basah kuyup langsung menuju dapur untuk membuat teh hangat.
Sedangkan aku mencari baju kakak iparku yang pernah ditinggal dirumah ini, tak lupa ****** ***** mas Reza yang dulu sempat tertukar dengan belanjaku.
Rupanya benda itu telah menjadi pembuka babak baru dalam hidupku dengannya.
"Mas kamu ganti baju dulu gih..."
"Nih aku mau rebus air , untukku sekalian kamu juga mandi...basah gitu, sebaiknya kita mandi bareng ya?"ucapnya sok polos.
"Mau mu!!"aku mencibirnya lalu mendahuluinya masuk ke kamar mandi. Dasar anak mami, pakai air hangat segala, aku sih lebih segar air dingin begini.
Selesai mandi, aku siapkan air dalam ember dan menuang air panas kedalamnya. Diapun bergegas masuk kamar mandi dengan tubuh menggigil.
Selesai sholat, aku menyamankan diri dengan menyesap teh hangat buatan suami lalu segera menelfon ibu.
"Halo assalamualaikum Amel, ada apa?"ucap ibu dari seberang.
“Waalaikumsalam, Amel ini sedang dirumah loh , ibu pergi kemana sih?"
"Aku lagi dirumah mbak mu nih, baru sampai tadi siang, lagian kamu mau mampir rumah kok nggak telfon ibu dulu..."
"Aku nggak mampir bu, tapi mau menginap..."
"Lha rumah kan terkunci semua Mel..."
"Amel nih cerdas bu, ini posisi udah didalam rumah kok..he..he.."
"Hei ingat ya, kamu tuh udah nikah masih aja bertingkah kekanakan, o iya kamu nggak boleh nginep, kasihan suamimu dirumah sendirian...“sahut ibu penuh penekanan.
"Ibu jangan khawatir deh, nih orangnya juga tak bawa kok, kami nggak bisa pulang bu, hujan deras banget dan kami tadi kesini bawa motor..."
"Oh ya udah , nginep aja...anggap aja kalian lagi camping. Jaga rumah ya, ibu pulangnya kalo kangen ibu sama si gembul udah hilang, jadi tak perlu tunggu ibu ..."
"Ish…kenapa sih, ibu kalo nginep dirumah mbak Anna betah amat ..."
__ADS_1
"Makanya cepetan kasih cucu ke ibu, biar ibu juga betah nginep di rumahmu ..assalamualaikum”
"Ibu mulai lagi deh..waalaikumsalam" sahutku mengakhiri sambungan.
Mas Reza setelah selesai mandi dan sholat, kemudian menghampiriku dan menyesap teh hangat punyaku yang tinggal setengah.
"Ibu kemana, Mel.."
"Nginep dirumah mbak Anna..." sahutku dengan nada kecewa.
Kulihat dia merebahkan diri ke tempat tidurku yang sempit itu, springbed nomor tiga dan lesehan di lantai. Persis kamar kos..
"Oh..ya sudahlah, yang penting kita bisa menginap malam ini..."ucapnya sambil memejamkan mata.
“Biar nanti aku tidur dikamar ibu, tempat tidurku sempit kan.."sahutku saat melihat tempat tidurku langsung habis saat dia berbaring.
Mendengar ucapan ku, mas Reza membuka mata dan menoleh ke arahku.
" Jangan... kita akan tidur disini berdua.."ucapnya sambil menggerakkan telunjuknya agar aku mendekat.
Dan ketika aku mendekatinya, dia langsung menarik tanganku dan membuatku jatuh di dadanya. Seketika dia langsung memelukku.
" Asal kita berpelukan, masih muat kok...begini lebih hangat kan"ucapnya masih saja memelukku dari belakang.
Seakan terbawa suasana, ku geser tubuhku ikut menyamankan posisi di tempat tidur sempit itu lalu menenggelamkan kepalaku di dadanya.
Nyaman sekali, aku jadi mengantuk...apalagi diluar hujan masih saja deras enggan berhenti. Syahdunya...
"Hmmm...aku ngantuk mas...kenapa?kamu lapar?"
"Masalahnya, kalau kita dalam posisi begini terus, yang ada aku akan memakanmu..."
"Ya udah kalau lapar tak bikinin mie instan ya..."aku masih setengah sadar, rasanya malas membuka mataku.
"Bukan itu..."
Aku mendongak menatapnya, ternyata jarak kami begitu dekat.
" Aku...mau kamu..."matanya yang teduh sedang menatapku.
Aku mengerjapkan mata, berusaha mencerna ucapannya.
" Bolehkah...aku menyentuhmu...." suaranya yang dalam membuatku berdebar.
Sejenak aku berpikir, suamiku menginginkanku, selama ini aku berusaha menghindar karena aku kehadiran ku hanya sebagai teman hidup saja, bukan sebagai istri...
Mungkinkah dia menginginkan ku hanya karena kebutuhan hasratnya saja...,aku teringat percakapan Aliya dulu, bagaimana bila aku selalu menolaknya, dia akan mencari wanita lain untuk pelampiasan?
Kurasa aku harus menghilangkan rasa khawatir yang selama ini membuatku selalu mengelak darinya. Lagipula aku tak mau dilaknat malaikat hingga pagi, karena menolak suami...
__ADS_1
“Hhmm..."ku jawab dengan anggukan kepala dan hati berdebar.
Seketika senyumnya mengembang mendengar jawabanku. Dan hanya melihat senyuman itu, wajahku terasa panas ...
Dia mengusap wajahku, menyingkirkan rambut dari pipiku yang sudah merah padam dibuatnya.
Lalu ciuman lembut menyapu bibirku, lama...dan akupun mengikuti naluri membalasnya.
Malam ini akhirnya aku merasakan sepercik cinta yang tak pernah terucap, dia memberikan belaian dan kecupan begitu lembut yang semakin membuatku merasa jadi wanita berharga baginya...
Sesekali bisikan manisnya merayu dan menyanjungku, membuatku lupa dengan segala kekhawatiran yang selama ini menghantui pikiran ku...
Setelah memanjakan ku dengan segala belaiannya, hingga kami sama sekali tanpa busana membuat ku malu saat dia melihat semuanya..
"Cantik..." bisiknya lalu kembali memberi ku kecupan-kecupan kecil merubah rasa malu menjadi perasaan yang membuat ku melayang...
Meski pada akhirnya, aku merasakan sakit yang tak bisa terungkapkan ketika mas Reza berusaha menyatukan kami...
“Amelia...percayalah padaku.."bisiknya ketika mengusap air mata yang mengalir disudut mataku lalu menciumiku dengan lembut.
Akupun mengangguk menatapnya. Dia benar, rasa sakit itu sesaat kemudian terganti dengan getar rasa aneh yang menjalar di sekujur tubuhku.
Tak henti-hentinya belaian lembut itu mengiringi kenikmatan saling memberi dan menerima.
Sampai pada akhirnya, kurasakan sesuatu yang hangat mengalir dalam diriku.
Tak berhenti sampai disitu, dia seakan mengajakku melepaskan kerinduan antara kami berdua dan berulang kali memberikan kenikmatan yang tak bisa kubayangkan sebelumnya.
Malam yang dingin itu terasa sangat panjang.
Entah sampai jam berapa kami berhenti melakukannya, yang kuingat hanya mataku langsung terlelap dalam dekapannya.
Kepalaku masih pening ketika aku mulai membuka mata. Aku menggeliat melonggarkan seluruh otot tubuhku yang terasa kaku.
Kenapa baru terasa seperti remuk tulang-tulangku hingga berat untuk beranjak dari tidurku. Ku edarkan pandanganku, di mana pria yang menyebabkan tenagaku terkuras habis seperti ini..
Aku baru sadar melihat keadaanku, ternyata aku masih berbaring hanya dengan tertutup selimut.
Suasana masih gelap, saat kudengar suara adzan. Meski aku sudah berhasil duduk, namun mataku masih berat untuk terbuka.
"Selamat pagi..."mas Reza sepertinya sudah mandi dan terlihat segar.
Dia membawa segelas teh hangat untukku.
Pipiku mulai terasa panas ketika dia mendekatiku, dan aku merasa salah tingkah melihat senyumannya itu sembari menerima gelas dari tangannya.
Sungguh aku tak berani menatapnya, rasanya malu banget dia harus melihatku dalam keadaan seperti ini. Beberapa kali ku rapikan selimut yang menutupi tubuhku …
Dia mengusap lembut rambutku dan mencium keningku.
__ADS_1
"Masih sakit hmm...."
"Hmmm ..." aku hanya mengangguk, tak mampu berkata-kata.