Meski Tak Sempurna

Meski Tak Sempurna
Suka dan duka


__ADS_3

"Kok aku merasa jadi anak TK ya..." sahutku sambil memutar bola mataku.


Sepertinya mas Reza menyamakan aku dengan Tasya, adik semata wayangnya itu.


...----------------...



Beberapa bulan ini aku sudah bersemangat menyusun skripsi, sangat rajin mengejar jadwal dengan dosen pembimbing, melakukan revisi sana sini dan fokus untuk menghadapi sidang.


Aku ingin sekali segera lulus, tau kenapa? Karena setelah lulus, aku sudah berhasil merayu mas Reza agar diijinkan ikut bekerja di café dengan chef Richard.


Sudah terbayang serunya punya kegiatan baru, apalagi chef Richard ramah dan humoris, pasti betah berlama-lama belajar memasak dengannya.


O iya , selain gara-gara ngefans sama orangnya, aku juga serius ingin belajar memasak, kurasa aku sudah bosan menjadi bulan-bulanan ibu yang selalu mengingatkan seorang istri harus bisa 3M (Masak, Macak, Manak).


Dan kini akhirnya, seluruh perjuanganku terbayar. Hari ini aku bersama sebagian besar mahasiswa seangkatan telah mengikuti acara wisuda.


Meski agak terlambat, Mas Reza datang memberiku karangan bunga yang begitu besar, tentu saja aku benar-benar tersanjung.


"Selamat ya Mel..."ucapnya seraya mencium pipiku dan berhasil membuatku tersipu.


Sontak teman-temanku bersorak ketika melihatnya. Apalagi Aliya yang sedari tadi menatapku aneh, seakan menuntut penjelasan dariku.


Ketika mas Reza menghampiri Tasya, adik perempuannya yang juga telah wisuda, Aliya langsung menarik lenganku.


"Kok Presdir kakaknya Tasya itu nyium lo segala? bukan mukhrim tau!!! Ngasih bunga gedhe banget lagi, suami lo mana? Nanti dia cemburu loh!!”ujar Alya yang bertubi-tubi memberiku nasihat dengan nada penuh penekanan.


Aku tersenyum mendengarnya, lalu memanggil mas Reza.


"Ah iya, aku lupa...Mas Reza sini bentar deh..."panggilan ku itu membuatnya menoleh.


Pria itu menghampiri ku kembali lalu melingkarkan lengannya ke pinggangku.


Tentu saja itu membuat Alya mendelik, sementara itu aku langsung tergelak melihat tingkahnya yang lucu.


"Aliya...kenalin ya..ini suamiku.." ucapku sambil menahan tawa saat melihat Aliya dengan wajah terkejutnya itu.

__ADS_1


"Apaaa!!!" seketika Aliya menutup mulutnya karena syok.


"Hai Aliya, selamat ya..."mas Reza mengulurkan tangannya


"I..iya presdir, terima kasih.."sambut Aliya mengulurkan tangannya dengan gugup.


"Hmm...kamu kan sudah nggak mahasiswa magang lagi Al.. sekarang aku hanya suami dari temanmu saja, jadi tak perlu sungkan..."


Aliya tersenyum manis dan melirikku…


"Siapa tahu saya bisa bekerja kembali sebagai karyawan anda, Pak ..." akhirnya si Aliya sambil menyelam minum air.


“Oh kamu tertarik untuk bergabung? Kirim saja berkas CV mu ke HRD ya..."


Alya berteriak kegirangan mendapat jawaban mas Reza. Kemudian dia pamit untuk berkumpul dengan keluarganya.


"Jadi..aku juga harus kirim lamaran ke Green Café ya..?"tanyaku sekalian menagih janji agar aku bisa bekerja sambil belajar dengan chef Richard.


"Apa mungkin aku bisa menghentikan niatmu itu, hmmm?" kini dia menggandeng tanganku dan berjalan keluar dari aula wisuda .



Kami berdua juga sering menginap dirumah mama agar lebih dekat menjaga papa. Dan seperti permintaan papa yang tidak mau dirawat dirumah sakit, kami mengundang perawat dan dokter keluarga yang selalu mendampingi papa.


Setelah berjuang dengan kondisi yang naik turun, hari ini papa akhirnya menyerah dengan kondisinya. Dalam diam, kulihat senyum di bibirnya mungkin beliau bahagia bisa meninggal ditengah keluarga yang menyayanginya.


Lain halnya dengan Mama dan Tasya yang tak henti-hentinya menangis disamping pria yang selama ini menjadi kepala keluarga itu.


Kulihat murung juga membayangi wajah mas Reza, meski tak ada tangis dimatanya, namun sangat jelas duka yang dirasakannya. Dia berusaha tegar karena sekarang dialah yang menjadi tiang penyangga mama dan adiknya. Semua tanggung jawab kini berada dipundaknya.


Diantara lantunan ayat suci Al-Quran yang mengalun di rumah duka, relasi, tetangga, kerabat dan sanak saudara datang silih berganti mengucapkan belasungkawa.Aku yang selalu berada disampingnya, hanya bisa menggenggam tangannya, berusaha memberi kekuatan padanya.


Meski sebenarnya ada hal besar yang ingin ku sampaikan padanya. Namun aku masih takut mengungkapkannya, kurasa aku akan menunggu sampai suasana duka ini agak berkurang.


Kemarin ketika mas Reza berada diluar kota, aku berbelanja kebutuhan rumah yang biasanya kulakukan pada akhir bulan bersama mas Reza, dan hari itu harus kulakukan sendiri.


Awalnya aku mengajak Tasya, namun ditengah jalan Adit menelfonnya, akhirnya disinilah aku sendiri mendorong trolly belanja.

__ADS_1


Ketika sampai pada rak pembalut wanita, reflek aku mengambilnya. Namun seketika aku teringat bahwa pembalut yang bulan lalu belum juga aku pakai. Hatiku berdebar dan panik harus berbuat apa.


Jangan-jangan aku hamil? Namun kenapa tidak ada tanda-tanda kehamilan yang ku alami seperti nyidam, mual, pusing atau lelah.


Ataukah terjadi sesuatu dengan rahimku sehingga siklus haidku tidak teratur . Antara senang dan cemas aku segera ke kasir dan menyudahi acara belanjaku yang sebenarnya belum selesai.


Saat itu aku naik taxi dan sebelum sampai rumah, aku mampir ke apotek dan membeli dua buah tes pack kehamilan.


Sampai dirumah, kuletakkan barang belanjaanku sembarangan, lalu aku bergegas ke kamar mandi untuk menjawab rasa penasaranku.


Setelah ku celupkan tes pack , aku pun menunggu beberapa saat dengan hati berdebar. Tak henti aku berdoa dalam hati agar kabar gembira yang akan terjadi.


Semburat dua garis biru telah tampak di mataku. Membuatku terduduk dengan air mata berlinang karena bahagia.


Aku Usap perutku yang masih rata, benarkah ada makhluk kecil buah hati kami sedang tumbuh disini. Aku harus mengulanginya.


Dan untuk kedua kalinya, tes pack itu menyakinkanku dengan menunjukkan dua garis birunya.


Aku harus memberitahunya, mas Reza orang pertama yang harus tau. Namun ketika aku menelponnya yang kudengar adalah suaranya yang bergetar menahan tangis.


"Amel...papa kritis..." suara diseberang membuatku terhenti di tempat.


"Ya.. Allah...kamu dimana mas?"


"Pagi tadi aku langsung kembali ketika mama telepon .. sekarang aku sudah dirumah mama”


"Oh..kalo gitu aku langsung kesana ya..."


"Iya, hati-hati..."


Setengah berlari aku menuruni tangga, namun aku langsung berhenti dan meraba perutku ketika menyadari ada yang harus aku jaga. Sepertinya aku harus mulai hati-hati dengan tingkahku yang suka seenaknya.


"Maafin bunda ya sayang, mulai sekarang bunda akan selalu menjagamu..."


Meski belum periksa ke dokter, namun aku sangat yakin dengan kehadiran bayi dalam rahimku.


Motorku mulai melaju ke rumah mama. Kalau saja mas Reza tau aku sedang hamil, tidak mungkin dia mengijinkan aku naik motor kayak gini. Aku sudah membayangkan mas Reza pasti protektif banget.

__ADS_1


Sampai dirumah mama, semua kerabat dekat sudah berkumpul. Aku menghampiri mas Reza yang berdiri di pojok sambil bersedekap. Tatapan matanya kosong, entah apa yang bisa kulakukan untuk menenangkan hatinya itu.


Aku mengusap lengannya dan dia menoleh lalu memelukku.


__ADS_2