Meski Tak Sempurna

Meski Tak Sempurna
Kencan tengah malam


__ADS_3

Lumayan lama aku menunggu respon dari taxi online karena memang dini hari. Hampir saja aku putus asa dan memutuskan untuk jalan kaki , namun...


...----------------



...


"Amel??Sedang apa tengah malam duduk di teras?"


Suara itu tiba-tiba terdengar, membuat jantungku hampir melompat keluar.


“Astagfirullah...mas Reza, bisa nggak jangan ngomong tiba-tiba di belakangku gitu!!!kaget tau!!" sahutku bersungut-sungut.


"Apa yang kamu lakukan disini?"dia hanya memakai T-Shirt dan celana pendek sambil memegang gelas air putih.


"Aku... mau keluar sebentar, lagi nunggu taxi online... sudahlah mas Reza tidur aja sana!!"aku merasa kesal karena pria itu mulai mencampuri urusanku.


"Mau ngapain jam segini keluar, apa nggak bisa besok aja!!"ucapnya dengan nada tinggi.


"Sudahlah mas, aku kan nggak ngerepotin kamu ...bentar doang kok!!" sahutku semakin jengkel padanya.


Kemudian terdengar helaan nafasnya ...


Tanpa bicara mas Reza pun kembali masuk kedalam dan menutup pintu kembali.


Nah kan...tambah nyebelin banget deh, nggak peka, punya suami kok gitu, nggak takut apa kalo istrinya yang cantik ini diculik orang...aku menggerutu dalam hati.


Rasanya hati ini jadi panas membara karena merasa tak dipedulikan. Akhirnya aku beranjak dan kulangkahkan kaki dari teras menuju pinggir jalan.


Ku Putuskan untuk jalan kaki saja sambil menunggu taxi online merespon.


Baru beberapa meter dari rumahku, mobil putih mas Reza berhenti di sebelahku. Ketika jendela terbuka, kulihat mas Reza melongok dan menyuruhku masuk.


"Masuklah...aku akan mengantarmu..."


Seketika bibirku melengkung, hati ini girang sekali ketika aku duduk disampingnya, tapi tentu saja tidak ku perlihatkan. Aku masih menjaga gengsiku saat ini.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya mas Reza karena aku masih terdiam.


"Restoran 24 jam dekat alun-alun kota..." sahutku padanya.


"Apa!! restoran?" sepertinya mas Reza tak percaya dengan pendengarannya sendiri.


"Iya aku pengen empek-empek palembang.."


"Astaghfirullah ... Amel...."


"Kalo nggak ikhlas nganter, turunkan saja aku disini.." segera ku potong ucapannya sebelum dia menggerutu lebih lanjut. Dan ternyata kalimat itu berhasil membuatnya terdiam.


Rasa sebal ku kembali menyerang, ku acuhkan dia dengan menatap lampu jalan yang berkelip menemani perjalanan kami.


Tidak sampai setengah jam kami sudah sampai dirumah makan yang aku maksud. Aku memesan satu porsi empek-empek Palembang dan teh hangat.


Sedangkan mas Reza ketika ku tawari hanya memesan kopi hitam, mungkin untuk menghilangkan rasa kantuknya.


"Kamu seperti orang ngidam deh..." ucapnya saat menyesap kopi panasnya.


Aku membiarkannya berasumsi dengan pikirannya sendiri tanpa ku tanggapi. Saat ini aku hanya ingin menikmati makanan yang dari tadi membuatku nekat keluar rumah tengah malam seperti ini.


"Bagaimana aku bisa nyidam mas, sementara kamu merasa tak pernah menyentuhku. Aku nggak mau ya, kamu menganggap ku selingkuh dengan pria lain...!!" sahutku kemudian.


Dia hanya tersenyum simpul.


"Jadi...apa kita pernah melakukannya...??" tanyanya sambil menatapku dengan raut wajah datarnya itu.


Hhh...pake nanya lagi!!makin lama aku jadi gregetan dengan pria tampan ini.


"Menurutmu?" semoga wajahku tidak jadi merah merona karena tiba-tiba teringat malam panasku dengannya.


"Aku masih belum ingat, Mel... Maaf... Bukankah kamu berniat mengembalikan ingatanku? Ceritakan dengan lengkap semua tentang kita sampai kita bisa menikah..."


"Rumit sekali mas, aku takut kamu berpikir bahwa aku yang merayu mu habis-habisan sampai mas Reza harus menikah denganku, padahal saat itu sama sekali aku tak punya perasaan apa-apa terhadapmu. Begitu juga denganmu, lalu adanya kepentingan diantara kita terjadilah pernikahan ini..."


"Apakah saat ini kamu mempunyai perasaan padaku...?"tanya mas Reza dengan ragu-ragu.

__ADS_1


“Orang tuaku selalu mengajarkan bahwa sudah menjadi kewajiban seorang istri memberikan jiwa dan raganya hanya untuk suami, jadi rasa itu tentu saja ada selama kamu masih menjadi suamiku..." jawabanku sungguh diplomatis bukan...!?!


Sejenak mas Reza terdiam, mungkin sedang meresapi apa yang harus dilakukan sebagai suami yang harus bersikap adil karena istrinya ini begitu menghargainya sebagai seorang pria yang telah melakukan sumpah dihadapan Allah untuk bertanggungjawab padaku...


"Bagaimana sikapku padamu setelah kita menikah? Apakah aku sering membuat mu jengkel seperti saat ini?" tanya mas Reza seperti menyindirku yang sering uring-uringan menghadapinya.


Aku meliriknya sambil terus mengunyah makananku, namun lama kelamaan aku merasa geli melihat wajah serius tanpa senyum itu...


" Kenapa tertawa?" ucapnya ketika melihatku menahan tawa.


" Iya ya... baru sadar ternyata aku memang sering merasa jengkel pada mas Reza...habisnya yang dilupakan cuma pernikahan kita, sedangkan yang lain masih ingat semua, nggak adil kan?" sahutku seraya tersenyum padanya.


" Kamu pikir aku sengaja? Sebenarnya aku sering merasa sakit kepala karena ada potongan memori yang nggak nyambung..."


Senyumku memudar. Jangan-jangan....


"Bagaimana dengan mbk Vani? apakah dia masih menyatakan rasa cintanya meski telah tahu bahwa kamu telah menikah?"tanyaku kemudian.


"Dulu sebelum aku menikah dengan Vina, sebenarnya aku lebih dulu mengenal Vani sebagai adik kelasku di Australia. Setelah aku lulus, kami masih sering bertemu dan dia mengenalkan aku dengan kakaknya. Kondisi kakaknya yang lemah membuatku ingin selalu melindunginya dan seiring waktu membuatku jatuh hati padanya. Kami menjalin hubungan ketika Vani menyelesaikan studinya, dan ketika dia kembali, dia menyatakan cintanya padaku, padahal aku hanya menganggapnya sebagai adik..."


Aku menghela nafas mendengar ceritanya, dan lanjutan dari cerita itu sudah diceritakan oleh Tasya bahwa Vani selalu menjadi benalu di kehidupan kakaknya.


“Apa kamu akan selalu menemuinya? Seandainya kamu ingat, sebelum kecelakaan terjadi, kamu begitu menghindarinya..."


"Benarkah?"dahinya berkerut.


"Bahkan jauh sebelum kita punya rencana menikah, kau pernah membuatku menyamar menjadi kekasihmu agar dia pergi menjauh darinya..." sedikit demi sedikit aku berusaha menceritakan masa lalu


Kulihat dia berpikir keras sambil memijat pelipisnya dan hal itu mulai membuatku kasihan padanya.


"Mas...aku sudah selesai, pulang sekarang ya...."ajak ku sambil menguap. Rasa kantukku kembali menyerang, mungkin efek dari rasa kenyang.


Ku usap perutku, bagaimana nak sudah puas mengerjai ayah bundamu, tapi terima kasih telah merencanakan kencan ini, gumanku dalam hati.


Dalam perjalanan pulang aku tak kuat menahan rasa kantukku. Setelah berulang kali menguap, akhirnya aku tertidur dengan pulas.


Pagi itu aku mengerjapkan mataku, dan mengernyit seakan tak percaya dengan mataku sendiri. Ketika kubuka mata, yang kulihat adalah wajah mas Reza yang tidur menyamping berhadapan denganku.

__ADS_1


Aku alihkan pandangan di seluruh ruangan. Kamar kami. Seingat ku semalam aku tertidur di mobil, sudut bibirku tertarik ketika aku menyadari semalam pasti mas Reza yang membawaku ke kamar ini.


Ku perhatikan wajah di hadapanku dengan seksama. Rambutnya masih basah, mungkin dia sudah sholat subuh lalu ketiduran lagi karena semalam terbangun dan begadang dianiaya oleh wanita nyidam ini....


__ADS_2