
Saat kamu membaca surat ini, pasti aku sudah tak ada di sampingmu lagi, meski demikian aku mohon dengan sangat kamu masih bersedia memenuhi permintaan ini seperti saat kita masih bersama, bukankah kamu selalu memberikan semua yang kuinginkan....
...----------------...
Menikahlah dengan adikku Vani, mas....aku baru tau ternyata dia begitu berharap padamu jauh sebelum aku mengenalmu dan dengan bodohnya aku juga jatuh hati padamu. Aku tak bisa menghapus rasa bersalah ini, hanya dengan memohon padamu untuk menyembuhkan hatinya yang telah terluka, aku akan merasa tenang...
Maaf bila hal ini membebani mu Mas Reza... Namun aku yakin, Vani adalah wanita yang pantas dan akan mengabdikan seluruh hidupnya padamu...
Terimakasih telah hadir dalam hidupku dan memberikan cinta yang begitu besar padaku, semoga mas Reza selalu bahagia...
Devani...#
Setelah membaca surat itu, aku menghela nafas panjang, berusaha memahami posisinya.
Aku menatapnya yang terdiam dengan rahang yang mengeras seakan menahan sesuatu yang sulit diungkapkan.
Lalu dia genggam tangan kiri yang ada di pangkuanku, seketika aku berusaha melepasnya namun dia tak membiarkannya dan mengeratkan genggamannya.
"Kenapa kamu nggak bilang mau belanja ke sini?" tanyanya kemudian.
"Kenapa harus bilang? Apa mas Reza takut aku menguras kartu debit mu hmm…?"aku mencoba untuk mengurangi ketegangan yang ada dalam dirinya.
Dia hanya tersenyum simpul dan menyandarkan punggungnya di kursi.
"Aku hanya cemburu, karena kamu pamit pada Richard tapi padaku tidak..." sahutnya sambil memainkan jemarinya di punggung tanganku.
Haaa!!
Benar-benar heran tingkat dewa, apa dia sadar dengan ucapannya? Cemburu? Hhh.. sepertinya dia mabuk disiang bolong...
Aku alihkan pandanganku pada jendela kaca, mencari orang suruhan chef Richard yang mungkin sudah sampai di tempat parkir.
" Amel...maafkan aku... mengenai surat itu, aku sudah beberapa kali berusaha meyakinkan Vani agar dia juga memahami posisi ku yang telah menikah denganmu ..." ucapnya dengan nada getir.
" Apa itu artinya kita harus segera berpisah karena kamu harus segera memenuhi keinginan mendiang mbak Vina?" sahutku datar.
Dia hanya mesem menanggapi ku.
__ADS_1
"Masalahnya aku tak yakin bisa berpisah denganmu...." senyumnya terukir membuat dahiku berkerut...
Sebentar, jangan-jangan dia sengaja melakukannya. Kenapa seperti itu? Mungkinkah....
Ku Geser tubuhku mundur dan menghadap kearahnya. Lalu ku tatap matanya mencari kebenaran, dan berharap keyakinanku menjadi kenyataan.
"Kenapa dengan wajahku, hmm..?"dia melirikku masih dengan senyumannya.
Ya Allah... Senyum itu telah kembali.
" Apakah aku boleh berharap lebih dari sikapmu ini mas?" tanyaku dengan hati berdebar.
Dia menghela nafas, sejenak terlihat berfikir lalu kembali menatapku.
"Ketika semalam melihatmu tertidur di mobil, aku merasa mengalami dé jà vu. Ku hentikan laju mobil kita lalu mencoba memejamkan mata untuk berfikir apa yang telah terjadi. Entah berapa lama kita berada ditempat itu, kepala ku mulai berdenyut hebat dan meski hanya bayangan semu, namun perasaanku berkata bahwa kita memang pernah sedekat ini... apalagi saat aku menggendong mu ke kamar, rasanya aku memang pernah melakukannya, hingga tidurku begitu nyaman saat berada di sampingmu..."ucap mas Reza diselingi dengan helaan nafasnya.
Dia masih saja menatapku membuatku salah tingkah.
“ Hmm... senang bertemu denganmu yang dulu mas Reza... kuharap kamu segera sembuh total, tau nggak akhir-akhir ini dirimu selalu membuatku jengkel...!?!"ucapku menunduk sambil cemberut namun tak berani membalas tatapannya.
" Maafkan aku ya Mel...yang jelas apapun yang terjadi nanti aku tak akan melepas mu, aku hanya yakin bahwa pernikahan kita adalah takdir Allah, jadi tolong bertahanlah di sisiku...."
Pertanyaan itu sudah lama ingin ku sampaikan, namun harus ku pendam karena takut jawabannya membuatku kecewa.
"Apa kamu tak merasakannya Mel...?"sahut mas Reza dengan nada kecewa.
Sikapnya yang manis dan baik padaku hanyalah kewajiban seorang suami pada istrinya. Sudahlah.. yang penting dia tak mencintai wanita lain lagi, selain mendiang istrinya itu.
"Mengenai permohonan Vina, bila memang Allah menghendaki aku memenuhinya, pasti surat itu aku terima sebelum aku melamar mu... Aku yakin inilah keputusan Yang Maha Kuasa, Mel... Allah memutuskan aku menikah denganmu bukan dengan wanita lain..." kalimat itu sungguh melegakan hatiku.
Kurasa aku harus bersyukur, meski kisah cintaku tak sempurna seperti dalam kisah romantis lain, yang penuh dengan ungkapan cinta, cukuplah aku mendapatkan sikap manisnya yang kurasakan begitu tulus padaku...
Sesaat kemudian ponselku berdering, panggilan dari chef Richard.
" Halo chef..."
" Amel...orangku sudah mengantar sepeda motor milikmu ke rumah, jadi nanti pulanglah bersama Reza...dia sudah menemukan mu bukan?"
__ADS_1
" Oooh ...ternyata kamu yang merencanakannya ya chef..."pantas saja dari tadi aku memperhatikan tempat parkir, motor milikku tak kunjung datang.
" Ha..ha...aku hanya khawatir padamu Amel, sudah capek belanja harus pulang dengan motor pula .."sahut chef Richard tertawa.
" Well... baiklah chef, terimakasih..."
"You are welcome...Amel..." chef Richard pun mengakhiri sambungan teleponnya.
"Apa kamu mau belanja sekarang?" tanya mas Reza kemudian.
Aku jadi penasaran apa chef Richard mengadu bahwa aku sedang hamil dan membutuhkan baju-baju longgar?
" Apa mas Reza tidak sibuk? Tau sendiri kan, kalo cewek belanja tuh lama banget..." ucapku penuh selidik.
" Sebenarnya Vani memang meminta ku datang ke sini, tapi aku malas menemuinya, Namun setelah meeting tadi, aku ditelpon oleh Richard bahwa kamu juga berencana belanja di sini, jadi pekerjaan ku limpahkan semua pada Yogi...kata Richard kamu sedang kesal jadi akan belanja banyak hari ini, jadi aku harus membantu membawakan semua belanja mu...." sahut mas Reza dengan senyum simpulnya.
Ucapannya itu membuatku menahan tawa, dasar chef Richard...! Kurasa dia ingin aku sendiri yang memberi tahu bahwa aku sedang hamil, kembar pula...aku penasaran bagaimana reaksinya nanti...
" Baiklah...tapi sebelum belanja aku harus ke toilet dulu... tunggulah sebentar..." ucapku sambil beranjak dari tempat dudukku.
Mas Reza mengangguk dan kembali tersenyum padaku
Aku pun melangkah, berlalu dari hadapannya.
Sampai di toilet, suasana cukup sepi, hanya beberapa petugas kebersihan yang berlalu lalang disekitarnya.
Ketika aku masuk di tempat cuci tangan, ternyata Mbak Vani ada disana dengan head phone di telinganya.
" Mbak Vani..." aku menghampiri dan ikut cuci tangan disebelahnya.
" Jadi itu keputusan nya?" ucapnya tanpa menoleh kearahku.
" Apa ?!?" aku mendongak dan bertemu pandang pada cermin di depan kami.
" Mas Reza tak mau memenuhi keinginan mbak Vina kan..."suaranya tercekat.
Dahiku berkerut mendengarnya, bukankah tadi mbak Vani sudah pergi saat kami membicarakan hal itu. Jangan-jangan...
__ADS_1
" Apakah mbak Vani menyadap pembicaraan kami?" tanyaku dengan tajam. Bagaimanapun hal itu sudah diluar batas, lama-lama wanita ini seperti seorang stalker deh...