
Mama mengerti keinginan mas Reza, apalagi Mama melihat kekhawatiran mas Reza yang melihatku masih lemah.
...----------------...
Siang harinya ibu dan mbak Anna menjengukku..
Seketika senyumku terukir melihat kedatangan mereka, namun berbeda dengan raut wajah ibu dan kakakku itu.
Meski tersenyum namun air mata mengalir di kedua sudut matanya, seakan meluapkan rasa rindu karena ternyata hampir satu bulan aku terlelap berjuang mempertahankan hidupku.
"Amel...kamu sudah bangun nak..." ucap ibu seraya mengusap rambutku.
" Iya Bu..." sahut ku masih lemah.
" Maaf ya Mel...aku jarang bezuk kamu, namun hari ini saat aku mendengar bahwa kamu telah siuman, aku jadi tak sabar ingin segera bertemu denganmu..." ujar mbak Anna sambil menghapus air matanya.
" Gembul mana mbak...?" tanyaku dengan suara pelan.
" Aku meninggalkannya dirumah bersama ibu mertuaku, soalnya aku terburu-buru kesini, kalau gembul ikut pasti lama menyiapkan ini itu..." mbak Anna begitu antusias bertemu denganku lagi.
Cukup lama mereka menemaniku, hingga menjelang sore mereka pamit pulang karena meninggalkan Viona ponakan gembul ku dirumah bersama ayahnya yang sudah pulang kerja.
Saat malam mulai menjelang, mas Reza masih setia mendampingiku. Ada hal yang ingin sekali kutanyakan, namun dari tadi masih ku tahan karena takut menambah bebannya.
Aku mengelus perutku yang sepertinya semakin buncit.
"Kenapa? Apa mereka lapar?pengen makan sesuatu?"tanya mas Reza yang ternyata melihat gerakan jemariku.
Aku tersenyum dan menggeleng pelan.
"Apa menurut dokter, mereka baik saja?" tanyaku kemudian.
Tentu saja dengan kondisi ku yang seperti ini, aku yang asing dengan bidang kesehatan selalu ada perasaan khawatir, bagaimana keadaan janin dalam rahimku ini.
"Tentu saja, mereka sangat kuat sepertimu, sekarang umurnya sudah 15 minggu..." senyum mas Reza membuat ku lega karena sepertinya dia tak berbohong.
"Benarkah? Tak kusangka aku mengajaknya tidur terlalu lama, jadi aku sangat mengkhawatirkannya..." sahutku.
"Terima kasih telah bertahan dan bersedia terbangun dari tidur panjangmu, artinya kamu masih mau bersamaku untuk membesarkan anak-anak kita...maaf karena semua ini terjadi karena masa lalu ku, aku tak menyangka akan membuatmu terluka begitu parah seperti ini..."mas Reza menundukkan kepala terlihat begitu menyesal semua kejadian ini berkaitan dengan kisah masa lalunya.
"Aku juga minta maaf mas, aku selalu membuatmu repot karena ulahku..." sahutku menyesal telah ikut campur pada hati seorang wanita yang telah terluka.
“Semua atas kehendakNya Mel.. tapi aku nggak suka kamu membahayakan dirimu, itu membuatku frustasi, aku merasa gagal menjagamu. Aku mohon jangan lakukan itu lagi hmm..."dia mengusap luka di keningku.
Hatiku terasa hangat mendengar perhatiannya itu. Namun aku masih saja penasaran tentang...
" Ada apa?"sepertinya mas Reza memperhatikan raut wajahku.
"Eee...Bagaimana dengan keadaan mbak Vani?"tanyaku akhirnya memberanikan diri.
__ADS_1
Sejenak mas Reza menghela nafasnya.
"Tamanku bilang dia juga sudah baikan, meski dia mencoba bunuh diri, namun lukanya tidak mengenai organ vital, Minggu lalu keluarganya sudah membawanya ke London..."
"Syukurlah..aku merasa bersalah telah merebut mu darinya.." sahutku.
"Setelah berbagai hal yang terjadi diantara kita, aku hanya mohon satu hal, jangan sampai kamu meninggalkanku. Maukah kamu terus bersamaku sampai maut memisahkan kita?"
Aku tersanjung mendengarnya.
" Yaa...Tergantung..."sahutku sambil meliriknya.
"Eh..."
“Apa kamu sanggup menghadapi sifatku yang seperti ini? meski aku merasa biasa saja, namun orang-orang di sekitarku selalu menganggap ku ceroboh. Buktinya aku selalu berakhir dengan luka di tubuhku.."
Senyum mas Reza terukir mendengar kalimatku itu.
"Tentu saja aku sanggup...aku sudah cukup terlatih untuk itu..." sahutnya kemudian.
"Dan sepertinya mas Reza juga harus bersiap kalo ulah si kembar akan sepertiku, sebaiknya kamu belajar ilmu sabar tingkat dewa..." ucapku lagi.
Pria itu tergelak mendengarnya.
Seminggu kemudian akhirnya aku diperbolehkan pulang ke rumah dengan jadwal kontrol berkala.
Ketika usia kandunganku masuk bulan ke empat, mama mengadakan tasyakuran menyambut kedua buah hati kami ini.
Namun setelah acara selesai, ada kabar buruk terdengar dan seketika menghapus perasaan bahagia kami berdua.
Mas Reza menerima telepon dari seberang dengan wajah tegang.
" Ada apa mas?" aku menghampirinya saat sambungan teleponnya selesai.
Dengan tatapan sendu, mas Reza meraih tanganku dan memeluk ku.
" Vani....telah meninggal dunia..."sahutnya lirih.
Seketika jantungku terasa berdetak lebih kencang.
" Innalilahi wa innailaihi rojiun.... bagaimana bisa..." sahut ku lirih..
" Tadi temanku di London bilang meski kondisi fisiknya membaik namun mentalnya tak kunjung sembuh padahal dia selalu didampingi psikiater, setiap hari hanya termenung tak mau beraktivitas apapun bahkan sulit sekali makan hingga semakin lama fisiknya tak mampu lagi tertahan...."
" Dimana dia dimakamkan mas?"
" Rencananya akan dimakamkan disamping Vina , nanti sore jenazahnya baru berangkat dari London..."
" Kita harus ke sana mas..."
__ADS_1
" Aku harus Mel, tapi kamu sebaiknya tidak ikut, aku khawatir kamu mendengar ucapan tidak enak dari keluarga besarnya..."
" Tapi aku ingin sekali ikut denganmu..."
Sejenak mas Reza berpikir, lalu mengajukan syarat.
" Tapi berjanjilah, jangan hiraukan semua hal buruk baik ucapan maupun sikap mereka saat menyambut kita nanti...."
Aku tersenyum dan mengangguk pasti mencoba memberi ketenangan pada pria itu.
Keesokan harinya kami berdua datang ke rumah keluarga mendiang mbak Vina dan Vani.
Seperti dugaanku, kami menjadi pusat perhatian saat masuk ruang dimana mbak Vani disemayamkan. Disamping jenazah, kedua mantan mertua mas Reza menatap kami tanpa ekspresi dengan mata sembabnya.
Lantunan ayat suci Al-Quran masih terdengar, saat kami duduk ikut bergabung dengan pelayat yang lain.
Setelah semua prosesi penghormatan terakhir telah selesai, jenazah segera diberangkatkan.
Sampai di pemakaman, kulihat ibunya mbak Vani kembali tak kuat menahan kesedihannya.
Hingga semua pelayat telah pulang kedua orang tua mbak Vani masih belum beranjak dari samping makam kedua putrinya.
Dari karangan bunga yang berjajar, ternyata nama ayah mbak Vani bernama Hendra Gunawan, seorang pensiunan perwira polisi.
Aku menoleh melihat mas Reza dengan tatapan sendu sedang menatap makam mendiang istrinya.
Kemudian aku berdiri dan mendekati kedua orang tua mbak Vani. Meski dengan perasaan takut dan ragu-ragu aku mengulurkan tangan dan menundukkan kepala.
Dan ternyata tanganku yang terulur tadi disambut oleh ibunya mbak Vani. Serta Merta kucium punggung tangannya, sebagai tanda hormatku padanya.
" Saya turut berdukacita Bu..." ucapku pada wanita paruh baya itu.
Aku juga mengulurkan tanganku pada pak Hendra dan ternyata pria itupun menyambutnya meskipun dengan ekspresi datar.
" Kamu istrinya Reza...?"
" Benar Bu..."
" Dulu...saat kami masih mempunyai dua putri yang berharap begitu banyak pada mereka hingga membuat keduanya merasa terbebani... sekarang mereka telah pergi, ternyata keegoisan kami selalu menyebabkan luka di hati mereka berdua...." ucap pak Hendra kemudian.
Sementara itu, Bu Hendra berkali kali mengusap air mata yang tak berhenti mengalir di kedua sudut matanya.
Aku pun mendekat dan duduk di kursi sebelahnya. Tanganku terulur mengusap bahu wanita itu.
" Ibu juga selalu menentang keputusan Vina menikah dengan Reza, dan ternyata Vani pun menaruh hati pada suamimu itu... Ibu menyesal karena selalu marah dan berkata bahwa Vani tak akan bahagia bersama Reza, dan pada Vina ibu juga bersikeras bahwa dia tak akan mungkin bisa menikah dengan Reza....dan ternyata ucapan ibu adalah doa, hingga Allah mengabulkan semuanya..." semua cerita itu membuatku mengusap perut ku sendiri.
Semoga aku bisa menahan diri saat meluapkan rasa kecewa, karena ucapan seorang ibu sering kali di ijabah...
__ADS_1
Mas Reza mulai mendekat dan bersimpuh di hadapan mertuanya itu. Seperti seorang pidana, dia terlihat siap dengan segala hukuman yang akan diterimanya...
" Saya minta maaf...." ucap mas Reza untuk kedua orang didepannya.