
Begitu mas Reza masuk kamar mandi, segera aku tidur dan menutup tubuhku dengan selimut agar tak bertatapan dengannya lagi.
Hampiiiiir saja malam pertamaku terjadi .....
...----------------
...
Keesokan harinya, Minggu pagi kulihat mas Reza masih terlelap dalam mimpinya setelah subuh tadi kami berjamaah, mungkin dia masih lelah karena perjalanan semalam.
Sementara itu, setelah aku mandi karena merasa gerah, ku langkahkan kaki menuju dapur mulai dari menanak nasi.
Bu Rijah masih sibuk dengan membersihkan halaman belakang yang cukup luas setelah kegiatan mencuci baju selesai. Ku akui tenaga bu Rijah begitu fit dan gesit di umurnya yang sudah setengah abad itu.
"Pagi bu Rijah..."sapa ku pada wanita paruh baya itu di halaman belakang.
"Eh mbak Amel sudah bangun ya..."wanita itu pun tersenyum padaku.
"Iya nih, masih bingung mau bikin sarapan apa? Kokinya belum bangun, mungkin masih lelah karena tengah malem baru sampai rumah..."
"Kalau begitu bikin sarapan sehat aja mbak, biar saya bantu ya..."sahutnya penuh semangat.
Aku mengangguk dan kembali masuk ke dalam rumah langsung menuju dapur bersama Bu Rijah.
"Malah ngerepotin bu Rijah nih, soalnya aku nggak bisa masak..he..he.."ucapku nyengir.
"Harusnya ini juga kerjaan saya mbak, tapi mas Reza suka masak sendiri jadi saya yang sering makan masakannya, terbalik kan..ha..ha.." Bu Rijah tertawa lepas.
"Aku juga sering nggak enak hati, karena dia terus yang masakin, jadi istri nggak berguna nih..."aku mulai menertawakan diri sendiri, mungkin inilah yang dikhawatirkan oleh ibu.
"Nggak berguna gimana? Mbak Amel udah bisa bikin aura rumah ini kembali berwarna kok.." ucap bu ijah sambil mengeluarkan sayuran dari kulkas.
”Setelah kepergian mbak Vina, mas Reza seperti mayat hidup, saya kadang ngeri melihatnya sering bengong, takutnya kerasukan setan..."ucapnya lagi dengan ekspresi yang lucu dan membuatku tertawa lepas.
"Kalau mbak Vina sih sempurna ya udah cantik, baik dan pinter masak. Aku pernah ikut makan bersama Tasya dirumah besar.."
__ADS_1
"Oh ..benarkah? Memang tak ada yang tau takdir ya mbak, pastinya nggak menyangka sekarang Mbak Amel malah jadi nyonya rumah di rumah ini, mbak Amel hebat lo bisa mengambil hati mas Reza, kalau saya perhatikan setelah kepergian mbak Vina, mas Reza nggak pernah terlalu dekat dengan cewek, eh tau-tau udah bawa istri cantik ke rumah ini..."ucap bu Rijah menyanjungku.
Memang dari luar kami adalah pasangan yang normal dan menikah atas dasar saling mencintai. Dalam hatiku, mas Reza adalah sosok pendamping dalam hidupku, meski masih ada seseorang yang selalu membayangi hatinya.
Saat ini aku masih merasa jadi wanita yang ada dibelakangnya, sementara dia masih menatap wanita yang selalu dicintainya.
Bagaimana pun, aku masih berharap suatu hari nanti, hanya ada aku yang mengisi hatinya.
" Mbak Amel yang potong sayuran ya, biar saya saja yang menggoreng ikannya..." Bu Rijah membuyarkan lamunanku.
" Eh...siyap Ndan..." sahutku dengan sikap hormat yang membuat Bu Rijah tertawa.
Pagi itu bu Rijah membuat menu Tim ayam, ca Brokoli ,gurami asam manis, mendoan dan sambal tomat.
Mataku berbinar melihat menu sarapan pagi ini. Aku sih makan sama telor ceplok doang bisa dua piring apalagi menu komplit + sambal kayak gini, bisa-bisa itu magic jar ku gendong kemana-mana.
Ketika aku menata meja makan, kudengar suara mobil masuk ke halaman rumah.
"Assalamualaikum Amel...."tak lama kemudian suara wanita yang kukenal terdengar dari pintu depan.
"Ibuku sayang...waalaikumsalam..."aku langsung berhambur ke pelukan ibu, ketika melihatnya masuk.
"Lho sama mama juga ya?"sahutku sambil melihat ke halaman, ada mama yang baru saja keluar dari mobil.
"Lhah.. emang ibu bisa kesini bawa mobil sendiri? Mobil dari hongkong..."sahut ibu terkekeh.
"Ntar deh , kalo Amel udah kelar kuliah trus kerja, kita akan beli mobil yach..."bisikku pada ibuku.
"Nggak nggak bisa!"sahut mama Nina tiba-tiba nyelonong masuk rumah.
Padahal suaraku sudah pelan, kenapa mama masih dengar aja sih..
"Kamu nggak boleh kerja dulu, sebelum ngasih kami cucu!!" titah mama kemudian.
Hadeeeh...cucu lagi kan! Bikin tepok jidat aja..
"Iya betul , Mel...ibu nggak butuh mobil. Ibu juga pengen cucu darimu, ibu khawatir kalo kamu sulit punya anak, soalnya kamu tuh kasar banget, sering jatuh lagi...."
__ADS_1
"Atau sebaiknya kita antar Amel ke dokter obgyn ya jeng, biar diperiksa rahimnya sehat pa nggak?"ucap mama Nina dengan antusias.
"Aduuh...jangan dulu deh, ibu dan mama jangan khawatir ya, kan baru dua bulan kami nikahnya, kami akan terus berusaha kok, ibu dan mama bantu doa aja ya..."sahutku sambil menggiring emak-emak itu ke meja makan.
Lalu muncullah Tasya yang baru terbangun dari bobok cantiknya. Sambil berjalan ke arah kami, cewek centil itu membawa berita yang membuat pipiku jadi panas.
Beruntung aku berhasil membuatnya berhenti bicara tentang adegan khusus dewasa yang dilihatnya semalam.
"Iya ma, mereka berusaha terus, semalem aja Tasya liat dengan mata kepala sendiri kok, mereka sedang mmmmm...."ku bekap mulut Tasya dengan tanganku seraya tersenyum penuh arti.
"Lho Reza udah pulang toh...katanya lusa baru pulang? makanya kami kesini mau nemenin Amel..."ucap mama Nina.
Ibu pun mengangguk membenarkan ucapan besannya itu.
"Rencananya kami mau masak bareng, biar Amel belajar masak juga..."ujar ibu.
Beberapa saat kemudian mas Reza turun dari lantai atas, sudah mandi dan cakep kayak anak mami gitu deh. Apalagi penampilannya pake kaos oblong dan celana pendek, mirip ABG mo pergi maen bola ma temennya.
Repot punya suami wajahnya imut banget, jangan-jangan malah akunya yang kelihatan tua..hhh..ku tepuk-tepuk telapak tangan ke kedua pipiku, sekedar cek apa ada keriput di wajahku...
"Ibu datang ya..."sapanya tersenyum.
"Iya, rencana mau masak-masak tapi sudah ada menu komplit dimeja makan, kamu yang masak, Za?" tanya ibu.
"Bukan bu, saya malah baru bangun..he..he..."jawabnya sambil tersenyum dan mengusap kepalanya sendiri.
“Kamu beli online ya Mel..."tanya ibu padaku.
"Ibu jahat banget sih...meski banyak dibantuin bu Rijah, tapi Amel juga udah berusaha kok.."gerutuku kesal pada ibu.
"Penampilannya sih oke, tapi kalo kamu yang masak aku jadi keder lo Mel..."sahut Tasya yang juga berhasil membuatku keki.
Mereka semua tergelak.
"Ya udah, kalian nggak usah makan. Aku sanggup kok habisin semua ini sendiri aja.."
"Beneran bisa habis Mel? Jangan-jangan kamu udah isi, kita periksa ke dokter yuk.."kata mama Nina.
__ADS_1
Aku dan mas Reza saling tatap. Astaga .. anak lagi..anak lagi!!