Meski Tak Sempurna

Meski Tak Sempurna
Kesempatan kedua


__ADS_3

Ya Allah, aku pasrah akan takdir yang telah Kau tetapkan, namun ku mohon berilah ketenangan hati pada pria itu. Bukankah semua yang dia lakukan telah sesuai dengan ajaran Mu ya Allah...


Berikan mas Reza kebahagiaan dengan ataupun tanpa diriku....


...----------------...



Mas Reza kembali mengulurkan tangannya lalu mengelus perutku dengan lembut.


"Sayang tolong bujuk lah bunda agar bangun dan sehat kembali agar ayah bisa menjaga kalian. Maaf bila selama ini ayah tak percaya dengan kehadiran kalian, ayah akan memperbaikinya, tolong beri ayah kesempatan lagi ya ... kalian anak-anak ayah yang kuat, tetaplah tumbuh sehat agar kita bisa bertemu beberapa bulan lagi..." senyumnya melengkung meski dengan raut wajah sayu.


Hhh...belum pernah aku mendengar mas Reza mengungkapkan banyak sekali permohonan seperti ini. Segala hal yang terjadi pasti ada hikmahnya. Aku lega mendengarnya, setidaknya kini aku bisa lebih memahaminya...


Setiap hari mas Reza menemaniku bergantian dengan ibu dan mama Nina. Selain mengajakku ngobrol panjang lebar, dia juga menyempatkan diri membaca ayat suci Al-Quran yang sungguh membuat hatiku terasa nyaman...


Kadang Tasya juga ikut menjagaku dan bercerita tentang apapun seperti ketika kami bertemu dan mengobrol bersama. Sahabat sekaligus adik ipar ku yang cantik itu bahkan berjanji akan membelikan suatu masakan yang membuat ku sangat penasaran...


" Hei kakak ipar ku yang suka rebahan...kamu pasti suka, ada masakan baru yang akan membuat mu lebih penasaran... cepatlah bangun, nanti kita terbang ke India dan mencicipi langsung semua street food yang dulu selalu kau bicarakan saat melihat Yo*Tube..."ucap Tasya mengajak ku melihat ponselnya.


Memang dulu aku sering mengomentari makanan street food di India yang sepertinya enak meski dimasak dengan asal-asalan...


"Hmm.... seandainya aku bisa mencicipinya..." itu yang selalu kukatakan saat melihat tayangan masak-memasak ala street food di India itu.


"Ihh... makanan jorok yang asal taruh itu pasti membuat perutmu mules Mel...nanti kalau aku sudah bisa cari uang sendiri aku nggak akan mengajakmu ke India, mending ke Italia banyak makanan enak disana..." sahut Tasya saat ikut melihat tayangan yang ku tunjukkan padanya saat itu.


" Dasar penggemar pizza...!!" aku menipiskan bibir pada cewek centil yang doyan banget sama pizza, pasta , keju dan teman-temannya itu ..


Pagi siang malam aku tak dapat menghitung waktu yang telah berjalan, karena yang kulihat hanya ruang putih dengan lampu yang terang benderang. Namun setiap hari ada sapaan mas Reza yang membuatku mengerti hari apa ini...


"Selamat hari Kamis Amel...masih ngambek nih, sampai kapan kamu diamkan aku seperti ini, hhmm? Padahal aku udah kangen pengen masak buat kamu..." sapanya sambil mengecup keningku.

__ADS_1


Dihari lain


"Selamat hari Senin istriku...bangun dong, kamu udah lama nggak ke café, ntar dipecat chef Richard lo..." senyum bercampur sedih masih membayangi wajahnya.


Dihari lain


“Selamat hari Sabtu Bundanya anak-anak..., week end ini ada film bagus, yakin nggak mau nonton atau kamu ingin kemanapun, pasti akan ku temani..." sesekali pria itu juga mencium perutku.


Meski tak setiap saat mas Reza bersamaku, namun setiap hari dia berkunjung sekedar menyapaku. Aku tau ada tanggung jawab lain yang diembannya, ratusan karyawan mengandalkannya.


Pada awalnya tiap malam dia menemaniku, namun suatu hari fisiknya yang terlalu lelah menyebabkan dia harus berhadapan dengan selang infus. Setelah itu mama Nina memaksanya untuk tidak tiap hari bermalam di rumah sakit.


Hari lain chef Richard juga menjengukku.


"Hai Amel...lama sekali tidurmu. Bangunlah masih banyak resep yang harus kamu pelajari, aku rindu keributan yang kamu lakukan di dapurku..." sapa chef Richard idolaku itu.


Senang mendengarnya, setidaknya aku murid yang bisa membuatnya berkesan, mungkin karena resep yang dia ajarkan sering ku buat improvisasi dan itu selalu membuatnya kesal he..he..


Chef Richard dan keluarganya yang ramah dan perhatian, aku seperti punya keluarga baru yang berasal dari negeri seberang. Seandainya aku masih punya kesempatan untuk melanjutkan hidup, aku pasti akan berkunjung ke negeri kanguru itu...


Entah berapa lama aku hanya bisa terdiam disisi tubuhku yang terpejam. Hingga suatu saat...mataku yang biasanya selalu terbuka, melihat semua yang ada di sekitarku, tapi kenapa kali ini aku mulai merasa mengantuk, mataku mulai berat dan akhirnya aku mulai tertidur.


Saat mulai kubuka mataku perlahan, kulihat langit-langit dengan cahaya menyilaukan membuatku harus mengerjap berulang kali untuk menyesuaikan diri.


Bisa kurasakan bibir dan kerongkonganku terasa sangat kering. Aku juga merasa sangat lemah, bahkan mengangkat sebelah tanganku pun tidak mempunyai tenaga.


Saat menggerakkan kepala ku ke samping kiri, kulihat mas Reza tertidur di sofa ruangan itu, ingin sekali memanggilnya namun aku tak mampu mengeluarkan suara sedikitpun.


Nafasku juga masih berat dan rasa nyeri di dadaku begitu menyiksa. Aku sudah merasakan tubuhku kembali, Alhamdulillah aku masih memberikan kesempatan kedua untuk menebus kesalahan pada hidupku sebelumnya. Aku harus bisa memperbaiki diri menjadi lebih baik dari sebelumnya, tak terasa air mataku meleleh....


Seakan merasakan diriku yang telah membuka mata, kulihat mas Reza perlahan mulai terbangun lalu terhenyak dari tidurnya dan segera mendekatiku dengan tatapan tak percaya...

__ADS_1


"A..Amel...."mata kami bertemu.


Hanya sedikit senyuman yang bisa kuberikan kepadanya, karena aku sungguh merasa lemah dan tak bertenaga.


"Ka..kamu bangun... Alhamdulillah.."dia meraih tanganku menggenggamnya, dan sebelah tangannya mengusap air mataku sempat mengalir.


"Sakit ya...tunggu, aku panggilkan dokter dulu..." ucapnya dengan wajah panik karena melihat ku menangis, lalu dengan langkah cepat dia mencari dokter jaga.


Mas Reza bergegas keluar ruangan dan tak berapa lama dokter dan seorang perawat pun datang lalu memeriksa keadaanku.


Dokter itu pun tersenyum lega seakan memberitahu bahwa aku sudah stabil dan besok pagi bisa dipindahkan ke ruang rawat inap.


Keesokan harinya, aku sudah berada diruang rawat dan hari itu jelas mas Reza tak mau jauh dariku, senangnya....


"Sayangku Amel ...Ya Allah, Alhamdulillah...." pagi itu Mama Nina tiba-tiba masuk dan segera menghampiriku yang masih terbaring lemah ditempat tidur.


"Ma..." hanya itu yang mampu ku ucapkan pada Mama Nina.


"Mama senang sekali kamu sudah sadar nak..." senyuman mama Nina yang hangat juga selalu kurindukan...


"Ibu..." aku mengedarkan pandangan bila mungkin ibu datang bersama Mama.


"Kamu mencari ibumu? Nanti pasti kemari, katanya tadi dia akan kemari bersama kakakmu...." sahut Mama Nina.


Aku pun tersenyum mengangguk.


"Reza... biar mama yang jaga Amel, kalo kamu mau ke kantor..."Mama menoleh ke arah mas Reza.


"Tidak..., Ma!! Aku akan melimpahkan pada Yogi..aku masih ingin disini” sahut mas Reza.


Mama mengerti keinginan mas Reza, apalagi Mama melihat kekhawatiran mas Reza yang melihatku masih lemah.

__ADS_1


__ADS_2