Meski Tak Sempurna

Meski Tak Sempurna
Istri tercinta


__ADS_3

"Dia tuh udah punya anak dua lo, di negaranya sana..." ucap mas Reza kemudian.


"Nggak masalah...aku tetap ngefans" sahutku nyengir.


...---------------



...


"Aku yang masalah, Mel..! kami nih umur sama, kerjaan barengan, meski jauh dari istrinya dia udah punya anak dua, sedangkan aku yang dekat dengan istri, satu anak aja belum..."


" Mas Reza nih kayaknya udah ketularan mama, pengen anak mulu!! Eh tunggu kalian seumuran?"


"Iya lah, dulu kami sekampus di Australia. Sama-sama suka masak, dia belajar lagi jadi chef, sedangkan aku yang manajemen, gara-gara harus melanjutkan usaha papa, tempat ini cikal bakal usaha kami, sebelum berkembang dibeberapa tempat, inilah pekerjaanku yang sebenarnya, aku sangat menikmatinya..."ungkapnya.


Nah kan... mereka seumuran, tapi wajahnya begitu dewasa dan suamiku ini masih seperti seumuran denganku.


" Dan aku benar-benar bersyukur Lo mas, dulu aku selalu berdoa agar suamiku bisa masak, tau sendiri kan ..." ucapku tak tau malu.


"Mie instan dan telor ceplok" sahutnya lagi sambil terkekeh.


Melihatnya sering tersenyum seperti itu, rasanya hati ini ikut senang.


"Oh iya kok tadi kamu tadi jemput aku? Emang tau kalo banku bocor?"


"Tentu aja, soalnya aku yang nyuruh orang kempesin kok.." sekali lagi pria itu menahan tawa melihatku sewot.


"Eh..sialan!!"aku mencubit lengannya.


"Aku sudah rencanain rapi, eh hampir aja direbut si Reno" dia melirikku dengan ekor matanya.


"Lho kenal mas Reno juga ya?"tanyaku.


"Kamu ini..kantormu itu kekuasaan ku Nyonya Reza Abimana, gampang sekali cari info tentang anak magang yang ngakunya masih single..biar bisa dideketin cowok sekantor...”ternyata bisa juga dia menyindirku.


"Emang dulu kan pas perkenalan aku masih single, nggak bohong kan.."aku juga tak mau mengalah.


"Ohh...baiklah kalau begitu, jadi besok aku kenalin kamu ke kantor, biar jelas sekalian jadi nggak ada yang punya modus deketin kamu..."


"Awas aja kalo berani!!!"ku potong ucapannya untuk mengancamnya, untung nggak ada ibu, kalau ada pasti dijewer kupingku.


"Kalian berdua sungguh romantis ya..." chef Richard datang bersama pramusaji, menyajikan menu spesial untuk kami berdua.

__ADS_1


" Kami sedang berdebat chef, bukan saling merayu..." sahutku yang membuat suami dan pria idolaku itu tertawa.


"Aku juga sering berdebat dengan istriku and always end up in bed ... so please enjoy" chef Richard tertawa lalu meninggalkan kami.


" Sepertinya ide Richard bagus juga..." sahut mas Reza saat melontarkan senyumnya padaku yang salah tingkah gara-gara ucapan chef Richard.


Aku hanya bisa menipiskan bibir menanggapinya. Dasar pria, yang lokal maupun impor sama mesumnya...


Setelah menikmati avocado squas dan klapetart yang yummi, kamipun pamit.


Kami pulang pake mobil mas Reza yang tadi dititipkan di cafe dan dia pinjam motor sportnya chef Richard.


Sampai dirumah, aku langsung masuk kamar mandi karena gerah. Sedangkan mas Reza setelah ganti baju masih berkutat pada laptopnya, sepertinya banyak email yang masuk.


Usai mandi dan ganti baju aku menyusulnya di sofa tempatnya memangku laptop.


Aku masih saja terngiang-ngiang ucapan Aliya di kantor. Benarkah seorang pria normal memang membutuhkan pelampiasan?


Arghhh...aku benar-benar penasaran tapi malu menanyakannya.


"Mas..."


"Hmmm..."sahutnya masih fokus dengan pekerjaannya.


"Apa kamu... pernah jajan itu diluar?"tanyaku ragu-ragu. Aku langsung berkhayal, bukannya dulu mbak Vina juga sakit-sakitan, trus apa mungkin benar dari dulu juga cari pelampiasan dengan cewek lain.


Ishh kok sering sih, semoga saja jawabannya itu gara-gara dia nggak paham dengan pertanyaanku…,ya sudahlah yang penting dia nggak suntik impoten, sepertinya imajinasi Aliya mulai menular ke otakku.


Mending nanti aja kalo mas Reza nggak sibuk akan kutanya lagi, biar hatiku tenang ..


Aku pun beranjak dari sampingnya, tapi tangannya mencegahku pergi dan membuatku menoleh padanya.


Tubuhku kembali duduk ke sampingnya saat dia menarik tanganku.


"Apa yang kau tanyakan tadi? kamu pengen jajan diluar?"tanyanya sambil menutup laptopnya.


"Eh...nggak..."aku hanya bisa nyengir menanggapinya.


"Ayo ku antar...mau makan apa?" wajahnya yang terlihat polos membuatku geli karena obrolan kami benar-benar nggak nyambung.


”Nggak kok mas..kamu lanjutin aja kerjaan mu ya..he..he..”


"Kerjaan ada yang bisa handle, tapi kalo kamu yang ngambek, kayaknya nggak ada yang bisa handle deh, cewek suka debat..."sahutnya sambil mencubit pipiku dengan gemas.

__ADS_1


Waduuuh dia salah paham . Justru aku yang takut kalo dia dekat-dekat gini. Tanganku erat digenggamnya, tatapannya yang teduh membuatku menyerah, tak sanggup berontak lagi.


"Kenapa kamu jadi salah tingkah gitu sih, sebenarnya mau apa, hmmm?"


"Sebenarnya aku ingin mas Reza mengajakku ke makam mbak Vina..." ucapku asal saja, dia mau nggak ya..?


Dia terhenyak mendengar keinginanku.


"Kenapa?"tanyanya kemudian.


"Sepertinya aku harus minta ijin pada mbak Vina, bagaimanapun aku telah menguasai suami dan rumahnya ini kan..." aku menunduk, tak berani menatapnya. Apa dia akan marah?


Beberapa saat pria itu hanya diam dan menatapku.


"Tapi kalau mas Reza nggak mau nggak papa kok..."aku merapatkan bibirku.


Kemudian dia menghela nafas.


"Besok pulang kantor ya, kita kesana..."akhirnya dia menjawab dan berhasil membuatku lega.


Keesokan harinya, meski mendung menggantung, mas Reza menepati janjinya.


Setelah menjemput ku ditempat yang aman, kami menuju tempat pemakaman mbak Vina. Seikat bunga mawar putih, yang menurut mas Reza adalah kesukaan mbak Vina, ku letakkan diatas pusara bertuliskan Davina Candradewi.


Kami bersimpuh mempersembahkan doa untuknya, semoga dia mendapat tempat terindah disisiNya.


Aku yang berhadapan dengan mas Reza, melihat kesedihan yang begitu dalam ketika dia menyentuh pusara itu. Meski hanya diam, matanya menatap sendu dan akhirnya menghela nafas dengan berat lalu menatapku.


"Ayo kita pulang sudah mulai gerimis" ajaknya.


Aku pun mengangguk patuh.


"Mbak Vina, terima kasih telah mengijinkan mas Reza menjadi suamiku. Meski tak sebaik dirimu, aku akan berusaha menghadapinya. Seandainya bisa, ingin sekali aku bertanya padamu, bagaimana menghadapi sikapnya yang kadang sedingin kutub utara itu..." aku meliriknya yang tiba-tiba tersenyum saat mendengar ocehanku.


Aku berdiri, dan sebelum melangkah pergi aku mengucapkan kata-kata perpisahan.


"Maaf ya mbak Vina, aku sering cemburu padamu karena cintanya mas Reza begitu besar padamu ... "ucapku sambil menatap pria yang berdiri di hadapanku itu.


Kemudian aku pun berbalik dan melangkah pergi dari makam mbak Vina. Akhirnya lega bisa mengungkapkan perasaanku.


Mas Reza menyusul langkahku, meraih tanganku dan menggenggamnya erat , seraya mempercepat langkahnya karena gerimis telah menjadi rintik hujan.


Setelah sampai dirumah dengan pakaian yang cukup basah, kami membersihkan diri. Aku membuat teh hangat untuk kami berdua, sementara mas Reza menyiapkan mie rebus dengan toping komplit untuk makan malam.

__ADS_1


Tidak seperti biasanya, kali ini aku mengajaknya makan didepan televisi sambil menonton berita. Malam itu hujan turun dengan lebatnya, semangkuk mie buatannya berhasil menghangatkan tubuhku.



__ADS_2