Meski Tak Sempurna

Meski Tak Sempurna
Semakin dekat


__ADS_3

"Mana ada? Buat apa aku cemburu?" aku berkilah.


Sambil memegang tanganku lalu dia duduk di kursi dan menarik ku ke pangkuannya.


...----------------...


"Eh Ngapain sih ? nanti ada yang liat mas..."aku pun berontak sambil mengedarkan pandangan, mungkin ada cctv yang melihat kami.


"Kamu udah sebulan disini, tapi kenapa baru kali ini menemuiku..hmmm?"


"Aku kan nggak mau mengganggu, bukankah kamu selalu sibuk... Menurut info yang beredar kamu tuh selain sibuk kerja juga sibuk meladeni cewek cantik kayak tadi..."sahutku sambil menipiskan bibir.


Dia terperanjat mendengarnya, lalu terkekeh.


"Kamu mau tau tujuan Vani datang kemari?"


"Mungkin dia hamil dan mau minta pertanggungjawaban, sampe nangis-nangis gitu ..." jawabku santai


"Mmm...istriku sendiri belum sempat ku buat hamil, kurang kerjaan banget menghamili cewek lain ..."ucapnya sambil menggelitik pinggangku.


Dan itu membuatku geli setengah mati.


"Aaww...tanganmu ih , minggir..aku mau pergi, geli tau...!!"


Tiba-tiba seseorang muncul dari ruang kaca, yang dari tadi pasti melihat dan mendengar yang kami lakukan.


"Maaf presdir, nyonya...saya permisi.."dialah Yogi, si asisten pribadi mengangguk dan undur diri dari hadapan kami.


Aku terbelalak menyadari ada orang lain di ruangan ini selain kami berdua, sedangkan mas Reza malah tergelak melihat kepergiannya.


"Kukira dia akan tahan melihat kita.. “ucapnya tertawa lepas.


Aku yang masih berada di pangkuannya langsung melarikan diri menjauh darinya.


"Kau ini kenapa si, nggak malu dilihat orang.."


"Emang kenapa, Cuma si Yogi aja kan.."


"Jangan-jangan dulu kamu juga suka berbuat mesum sama Mbak Vina, disini?" aku masih saja mengomel sambil merapikan bajuku yang kusut.


"Dulu tempatku bukan disini, aku Cuma pengusaha café ,Mel! kamu lupa ceritaku ya.."


Aku hanya ber ooh ria dalam hati.


"Sekarang cepat tanda tangani ini, supaya aku bisa kembali, nanti Alya curiga kalo aku kelamaan perginya..."


"Hhh...biasanya yang minta tanda tanganku datang dengan menunduk dan sangat sopan, yang ini kok galak banget ya..." ucapnya mengambil berkas ku dan menandatanganinya.


Setelah berkas itu ditandatangani aku mengambilnya dan beranjak pergi dari hadapannya.


"Hei terima kasihnya mana nih... temenin aku sebentar lagi deh, ntar ada cewek lain yang nemenin aku lo..."


"Bodo!!!"

__ADS_1


"Nggak cemburu hmm..."diraihnya pergelangan tanganku dan menatapku lembut.


"Nanti pulang kerja, aku mau ke rumah ibu, kamu pasti lembur kan..?"ucapku sambil menjulurkan lidah dan melepaskan pegangannya.


"Hei jangan menyindirku, nanti aku ikut ke rumah ibu ya.."


"Jangan, kamu kan lembur...assalamualaikum" sahutku tanpa mendengarkan protesnya kemudian melangkah keluar langsung menutup pintu.


Ku sapa kembali mbak Riani di meja kerjanya, dan dia pun membalasnya dengan ramah.


Kalau aku nggak istri bosnya, apa akan dapat perlakuan seperti itu?


Setelah minta stempel akupun melangkah pergi dari sana.


Sampai di ruangan, Alya sudah lama kembali dari keuangan.


"Amel...lama amat sih, udah hampir satu jam aku nungguin kamu, ngapain aja sih.."


"Ngapain aja?" Rasanya mukaku jadi merah padam mengingatnya.


"E... kamu tau sendiri kan, Presdir sangat sibuk, jadi aku disuruh nunggu gitu deh..." sahutku kemudian


"Oooh...kirain kamu merayu si duren itu. Ya udah nih bagianmu.."ucapnya seraya menyerahkan amplop coklat kepadaku.


Kalau mas Reza tu Duren, berarti kamu nyumpahin aku mati dong, Al!!! batinku dalam hati.


"Eh mel , biasanya uang saku mahasiswa magang nggak sebanyak ini loh, kenapa ya?"


"Lha mereka kan tau kita nih satu kampus dengan Tasya. Secara Tasya tuh anak pemilik perusahaan ini juga kan.."


"Hmm...begitu ya ,lumayan bisa buat shoping nih..."sahut Alya mengibaskan amplopnya.


Sore itu setelah aku dan Alya pamit pada semua yang kami kenal, aku langsung berhambur keluar menuju parkiran. Dengan langkah ringan, ku ayunkan kaki masuk ke area parkir.


Kulihat awan mendung sudah menggantung, semoga aku keburu pulang ke rumah ibu. Aku berencana memberikan uang hasil kerja magangku kepada ibu.


Bagaimanapun aku belum sempat berbakti padanya, malah disuruh nikah, mana sempat sekedar memberinya uang dari jerih payahku sendiri.


Tapi....sontak darahku naik ke ubun-ubun ketika melihat ban motorku kembali kempes.


Dasar suami rese!!!jeritku dalam hati.


Aku mengaduk-aduk tas untuk mencari ponsel. Belum juga aku pencet nomornya, nama mas Reza sudah muncul dalam panggilan masuk...


"Hallo...assalamualaikum Amel.."ucap dari seberang.


"Kamu apa-apaan sih mas!!!"jeritku sambil menghentak-hentakkan kakiku karena kesal.


"Ishh..suaramu Mel,cempreng banget...cepetan keluar trus belok kanan, bawa helm kamu ya.."serunya langsung menutup telfonnya.


Hhh ni orang bikin naik darah aja, aku masih juga ngedumel ketika keluar dan menengok kanan kiri mencari sosoknya dengan motor sport hitam pinjaman dari Richard lama aku mencarinya namun tak ketemu juga.


Lalu telfon kembali berdering.

__ADS_1


"Ngapain kamu celinguk'an begitu , cepat sini dibawah pohon..."seru mas Reza langsung menutup telfonnya.


"Dibawah pohon?"ku ikuti instruksinya, tapi apa yang kutemukan seorang pria dengan jaket dan celana jeans mengendarai motor butut warna merah tahun 80an.


Dia pasti becanda...


Melihatku mendekat dia membuka kaca helm nya , dan terlihat senyum lucu dari wajahnya yang cukup tampan itu.


"Hhhmmmm.."aku bersedekap dan terkekeh melihat penampilannya itu.


"Ayo neng, kita berangkat keburu hujan..." sahutnya sambil tersenyum lalu menghidupkan mesin motornya.


Dan akupun menurut, duduk di boncengan motor tua namun sangat terawat dengan baik itu.


"Punya siapa lagi nih?"tanyaku ketika motor mulai melaju.


"Pinjem OB, pegangan agak erat Mel..."


"Heleh.. kan nggak bisa ngebut om ojek,... kaos dan celana ini juga bukan punyamu kan?"


"Punya Yogi...udah cepetan peluk pinggangku, biar lebih hangat"


"Sejak kapan kamu pinter romantis, hmm?"


"Entahlah, sejak menikah denganmu ada saja ide-ide konyol yang muncul di kepalaku.."


Akupun tertawa lepas mendengan jawabannya itu.


Beberapa saat kemudian gerimis mulai menemani perjalanan kami.


"Bisa cepet dikit nggak? Kayaknya mau deras nih mas...atau kita berteduh dulu deh"


"Ini motor tua, Mel, mana bisa ngebut... lagian aku emang sengaja pengen hujan-hujanan kok..!"


“Eh Nggak bisa!! Dulu kena gerimis aja kamu demam, apalagi hujan-hujanan..!"


"Aku sama sekali nggak khawatir lagi Mel, kalau sakit ada istri yang merawat, bukan?!?"


Aku langsung mencubit pinggangnya, namun dia malah tergelak.


Dan benar saja, hampir sampai ke perumahan ibu, hujan mulai deras mengguyur bumi.


"Kita mampir ke rumah mama aja gimana?" usul mas Reza sambil berteriak karena suara hujan yang begitu deras.


"Nggak mau!!" aku masih saja keras kepala. Lagian Cuma selisih lima menit aja kok dari rumah ibuku.


Dan motor butut itu berhasil membawa kami yang basah kuyup sampai ke halaman rumah ibu. Aku memintanya agar masuk langsung ke teras, karena memang tidak ada garasi.


Ku Ketuk pintu rumah beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Aku mulai frustasi, apalagi hari sudah mulai malam.


Akhirnya aku pakai jurus pamungkas, masuk lewat jendela kamarku yang memang sudah lama tidak bisa terkunci dan itu hanya aku yang tau…


__ADS_1


__ADS_2