Meski Tak Sempurna

Meski Tak Sempurna
Pembela kebenaran


__ADS_3

Dikira masih zaman keraton, musti sendiko dawuh sama suami. Ini kan udah modern, emansipasi wanita, bagiku semua serba kompromi.


Kalau saja ibu tahu apa yang terjadi antara kami, dijamin bakal kena tausiah semalam suntuk...


...---



...


Karena hari itu mas Reza chat akan pulang terlambat, aku sengaja pulang sehabis magrib agar tidak terlalu lama sendirian dirumah.


Ketika hampir sampai pintu masuk gapura perumahan, aku berhenti ke sebuah kios kecil membeli plester. Jari-jariku teraniaya oleh pisau dapur gara-gara ibu mengajariku masak swike ayam yang kata Mama Nina, kesukaan mas Reza.


"Cepat berikan!!!" teriak seorang pria paruh baya disamping kios itu.


Kulihat pria berambut gondrong itu sedang memukul dan menendang wanita dalam kios kecil itu.


Sedangkan wanita yang kira-kira 30 tahunan itu hanya bisa meringkuk dan tersedu-sedu.


"Hei..pak tua hentikan!!" ucapku ikut teriak sambil menarik kaos pria itu dari belakang.


Diapun menoleh dan menatapku dengan garang.


"Sialan!!jangan ikut campur brengsek..!!" sahutnya sambil mendorongku.


Untung aku sempat menghindar, dan orang itu malah sempoyongan hampir jatuh.


Sepertinya dia juga sedang mabuk minuman keras. Saat dia sempoyongan , ku dorong dia sampai tersungkur jatuh ke tanah. Lalu aku menghampiri wanita dalam kios yang masih terisak.


"Mbak..mbak e gak papa?aku panggil polisi ya..." ucapku ada wanita itu.


Dengan mata masih berurai air mata, wanita itu hanya menatapku dengan wajah takut. Namun beberapa saat kemudian matanya terbelalak.


"Awaaasss!!!" teriaknya.


Seseorang menarik ku dari belakang, lalu tangan kirinya mencekik leherku dan tangan kanannya menamparku dua kali hingga kurasa sudut bibirku perih.


"Dasar wanita sialan...!!"geramnya padaku.

__ADS_1


Dengan nafas yang tersengal-sengal karena leherku yang tercekik, ku ayunkan kakiku sekuat tenaga kearah ***********.


Dan reflex karena terkejut dia melemparkan tubuhku begitu saja, sialnya tak mendarat dengan mulus, kurasakan punggungku perih mengenai sesuatu. Tentu saja dia mengerang dan terduduk merasakan sakit yang luar biasa akibat ulahku.


Aku segera berdiri dan mengambil foto wajah pria itu melalui ponselku.


"Hei pak tua, fotomu sudah ku kirimkan ke ayahku yang seorang Kapolres wilayah sini, tunggu lah... kurang dari sepuluh menit anak buahnya akan datang dan menjebloskan mu ke penjara, he.herasain !!" ucapku percaya diri.


Mendengar ucapanku pria itupun bangkit dan lari terbirit-birit sambil mengumpat.


Dengan menahan ngilu diwajah dan perih di punggungku, aku mendekati wanita itu lagi.


"Maaf ya neng, kamu jadi terluka gara-gara suamiku.."kata wanita yang menangis tadi.


"Ha!! Jadi dia suami mbak?Kenapa jahat banget gitu..." ucapku terheran-heran.


"Dulu sih nggak seperti itu, sejak kena PHK jadi bingung cari kerja, malah sering mabuk uang hasil jualan yang tak seberapa selalu diambilnya...hiks..hiks.."


“Tenang aja mbak, untuk sementara dia tidak akan berani kesini..."sahutku pada wanita itu.


Lalu aku beli plester seperti tujuanku tadi. Selembar uang seratus ribuan kuserahkan dan kutinggalkan kembaliannya agar dapat menutupi kebutuhannya.


Setelah kejadian tadi, aku kembali melaju pulang kerumah. Segera kuambil kunci dan masuk kedalam rumah. Kulihat jam tujuh malam, sebentar lagi mas Reza pasti sampai, buru-buru kusiapkan makan malam dengan lauk swikee ayam yang tadi aku masak bersama ibu.


Ku tata hidangan dimeja makan, setelah itu aku bergegas mandi.


Dalam kamar mandi kurasakan perih di punggungku, pantas saja ketika kulihat dikaca kamar mandi ada luka gores cukup panjang.


Ah..biarlah, aku pernah merasakan yang lebih parah saat belajar naik motor dan nabrak gerobak bakso, akhirnya kakiku melepuh karena terkena kuah bakso. Untung sekarang bekasnya nggak terlalu kelihatan.


Seakan dikejar waktu, tak ku hiraukan lukaku tadi. Segera aku ganti baju, namun ketika kusisir rambutku kulihat wajahku dicermin...


Waduuuh...wajah chubby ku kenapa jadi aneh sih, bawah mata kiriku jadi biru dan sudut bibirku juga bengkak.


Gimana aku harus menutupinya ? Kuambil concelar dari tempat kosmetik yang dihadiahkan kakakku waktu hari pernikahanku.


'Harusnya dipakai untuk mempercantik diri bukan menutup hasil tawuran kayak gini, Mel!!' kubayangkan mbak Anna yang ngomel-ngomel jika melihatku sekarang.


Dasar aku yang nggak bisa pake kosmetik, tentu saja hasilnya mengerikan. Mending ku hapus saja deh.

__ADS_1


Suara deru mobil masuk dihalaman, pasti itu mas Reza. Ku aduk-aduk isi laci mencari masker, haiisss nggak ada pula langkah terakhir aku berlari ke arah meja makan, ku hidupkan dua lilin dan ku letakkan dimeja makan lalu ku matikan lampu.


Fiuhhhh...Amel kamu jenius juga rupanya..ho..ho..


"Assalamualaikum, Ameel..."kenapa kok gelap-gelapan gini..."ucap mas Reza.


Lalu ku hampiri dia, dan mengajaknya langsung ke meja makan.


“Waalaikumsalam mas, ayo kita candle light diner, kamu harus mencicipi masakanku..." sahutku sambil ikut duduk didepannya.


"Beneran kamu yang masak?"sahutnya meledekku sambil duduk dan melipat lengan bajunya.


"Jangan khawatir diare deh, tadi ada ibu yang mendampingiku masak..." kurasa suamiku itu mulai hobi membuatku sewot binti sebal deh.


Dia hanya tersenyum menerima piring yang sudah berisi nasi dan lauk dariku.


Aku masih deg-degan ketika dia menatapku, semoga dia tidak curiga.


"Komen dong om..." celotehku


"Enak, apalagi full service kayak gini...apa ada kamu inginkan? Honeymoon mungkin..." sahutnya kemudian.


"Ha..ha..usaha yang bagus bung Week end besok, ajak nonton deh..." aku pun terkekeh berusaha menutupi bibirku perih ketika makan.


Dengan cahaya lilin, samar-samar kulihat dia dengan lahap menikmati masakan kesukaannya. Sedangkan aku hanya mengaduk-aduk tak menikmati makananku.


"Kok tumben nggak semangat makan?" tanyanya kemudian


"BBku naik lagi nih..."ucapku asal. Padahal pengen naik dikit si, biar agak seksi nggak kerempeng kayak gini.


"Ohh..."


Beberapa saat kemudian kami menyelesaikan makan malam, sisa masakan kumasukkan lemari es. Dan seperti biasa ketika aku membersihkan meja, mas Reza mencuci piring dan gelas yang kami gunakan tadi.


Sepertinya kebiasaan ini lebih asyik dibanding harus makan diluar.


Untuk menghindarinya aku langsung naik dan masuk ke kamar tidur lalu mematikan lampu utama hanya menyisakan lampu tidur saja. Meski kami sepakat untuk saling pendekatan dulu, namun mas Reza tetap menginginkan kami tidur dalam satu ranjang agar bisa sering ngobrol mengingat dia sering luar kota dan pulang terlambat.


Kusiapkan air hangat dikamar mandi untuknya, lalu segera aku keluar agar dapat menghindarinya dan langsung tidur.

__ADS_1


Namun belum sempat aku melangkahkan kaki ke tempat tidur, ternyata dia sudah masuk kamar dan mulai mencium sesuatu yang tidak beres....


__ADS_2