
Aliya menyenggol lenganku seakan menyadarkan lamunanku.
"Zayn Malik..."guman ku sekenanya.
"Haiss...nggak nyambung banget deh..."Aliya langsung tepok jidat.
...-------------
...
Tak tau kenapa , hati ini terasa sangat sakit melihat pria itu berdiri dengan gagah dan menghipnotis semua orang di hadapannya.
Semua kata-kata yang keluar darinya sangat rapi, memang pantas untuk menjadi seorang Presiden Direktur.
Namun semua itu semakin membuatku seakan tak mengenalnya, dia begitu asing dan jauh berbeda dengan orang yang telah menemani hari-hariku selama ini.
Ku pijat kepalaku yang mulai pening.
"Kamu kenapa Mel?" tanya bu Rini.
"Nggak apa-apa Bu, hanya sedikit pusing saja, mungkin karena saya mulai lapar, tadi sarapan sedikit..." sahutku dengan senyum simpul.
"Sabar ya, direktur kita ini cukup pengertian, biasanya mengakhiri sebelum jam dua belas kok.." Bu Rini mulai memberiku semangat.
Benar saja jam setengah dua belas, pertemuan ditutup oleh asisten Dirut selaku pembawa acara.
Kamipun berhamburan keluar.
Sambil berjalan keluar ruangan itu aku pun sedikit melirik ke tempat Presdir berada. Dia masih berdiri dan berbincang dengan dewan direksi yang lain.
Seperti tau keberadaan ku, diapun menoleh dan menatapku lalu tersenyum. Segera ku alihkan pandanganku dan mempercepat langkahku.
Hampir jam empat sore, kamipun mulai beberes. Ponselku berbunyi lalu aku mengangkatnya..
"Assalamualaikum..." salamku untuk pria yang ada diseberang.
" Waalaikum salam, Mel...Pulang bareng yuk.."
"Nggak ah, aku bawa motor..."sahutku datar.
"Ditinggal saja, besok aku ikut berangkat pagi deh ... " suara mas Reza terdengar membujuk ku.
"Pokoknya, Nggak mau...!!"aku mulai keras kepala.
"Kayaknya mendung mau hujan .."
"Nggak pa-pa, udah ya , bye ... " segera ku matikan ponselku.
Aku mendengus kesal, ingin rasanya menggigit apa yang ada di hadapanku.
"Mel..kamu kenapa, ayo pulang hampir hujan lo... Rumahmu kan jauh.."ajak Aliya.
"Ayo.."aku segera beranjak dari dudukku.
"Kamu kesal sama siapa sih?" ucap Aliya sambil menggandengku keluar ruangan.
__ADS_1
"Pacar aku..." sahutku cemberut.
"Ugh ... manisnya..."Aliya mencolek pipiku.
Kami beriringan keluar, lalu Aliya bergegas menghampiri pacarnya yang sudah menjemput dipinggir jalan.
Aku melihatnya jadi iri, mereka terlihat mesra.
Setelah melihat kepergian mereka, kupakai jaket dan perlengkapan tempurku diperjalanan.
"Hai Mel..."tiba-tiba mas Reno yang sudah mengendarai motor sportnya berhenti di sampingku.
"Hai..."
"Mau bareng? Bahaya lo, mau hujan bawa motor sendiri..."
Aku hanya tersenyum mendengarnya.
"Emang bahaya mas...tapi itu kalo aku masih SD.." sahutku nyengir.
Dia pun terkekeh.
"Oke, hati-hati ya..."
"Terima kasih..." sahutku saat mas Reno mulai menghidupkan motornya.
Mas Reno berlalu dan aku pun beranjak pergi dari tempat parkir dan segera mengejar waktu agar tidak terkejar hujan.
Beberapa menit kemudian akhirnya aku sampai rumah dan beruntung hanya gerimis yang menemaniku.
Sepertinya dia mengikuti ku mulai dari kantor.
Aahh... aku lagi malas berdebat dengannya.
Segera ku berjalan kearah kamar tidur agar tak bertemu dengannya dulu, dan langsung ke kamar mandi berendam dalam bath up yang ku isi dengan air hangat dan aromaterapi.
Nyamannya...eh kurang ding.
Ku putar lagu lewat ponsel, Memories by Maroon 5, nikmat mana yang kau dustakan.
Entah berapa lama aku berendam, lagu-lagu yang ku putar sampai berhenti karena lowbat.
Lumayan segar, lumayan rilex, lumayan lega... serba lumayan karena memang hati ini masih merasakan dongkol pada mas Reza.
Kupakai baju kebesaranku, kaos oblong dan celana komprang. Sebenarnya ibu tak mau aku memakainya, jadi kaos-kaos oblongku ditinggal di rumah dan diganti dengan baju-baju terusan ala cewek, tapi pas aku pulang ke rumah ibu, diam-diam aku membawanya lagi ke rumah ini.
Ku edarkan pandangan ke seluruh kamar, aku tak menemukan satu-satunya pria penghuni rumah ini.
Lamat-lamat kucium harum bau masakan, aku segera mencarinya. Dasar aku emang lagi laper banget, tadi siang nggak selera makan gara-gara illfeel.
Kuturuni tangga dengan cepat menuju dapur, kulihat punggung tegap itu membelakangi ku dengan apron yang dipakainya.
Ketika tersadar aku ada dibelakangnya diapun menoleh dan tersenyum padaku.
"Duduklah, lima menit lagi selesai..." ucapnya setelah tau kedatanganku.
Kulihat dimeja sudah ada, nasi, tongseng ayam, kerupuk dan irisan pepaya kupas setengah matang.
__ADS_1
Ku tata piring dan gelas dimeja makan.
Seperti katanya tadi , dia telah membawa porsi tumis sayur buncis kesukaanku ketengah meja makan.
"Ayo kita makan..." pria itu meletakkan menu terakhir yang telah siap itu.
Aku ambilkan nasi untuknya dan untukku sendiri, lalu lauk dan sayur pun kutuang dalam piring.
Semuanya menggoda seleraku, aku jadi tak enak hati karena tadi tak membantunya malah enak-enakan berendam lama.
"Makanlah yang banyak, biar tidak mubadzir masakanku.."ucapnya, sementara aku masih membisu.
Aku masih terdiam dan menikmati makan malamku. Entah karena lapar atau memang enak rasanya, semua masakan ini mengingatkanku pada ibu.
Setelah makananku habis aku minum air putih lalu beranjak dari dudukku. Namun mas Reza menghentikan ku dengan menahan tanganku.
"Duduklah sebentar... apa aku sudah bisa dimaafkan?" dia menatap mataku.
"Emang mas Reza salah apa, hmm?" jawabku padanya.
"Amel...maafkan aku ya, aku tak bermaksud membohongimu. Sebenarnya aku hanya ingin mematahkan ucapanmu bahwa aku pria hipertensi yang botak dan arogan, kamu ingat nggak?"
Pikiranku melayang waktu percakapan kami di mobil, memang aku mengatakan bahwa Tasya memberitahuku bahwa bos ABJR Grup orangnya galak, main pecat orang lalu ditambahi dengan pasti dia pria tua botak dan arogan.
Aku jadi geli mengingat ucapanku sendiri. Lalu aku pun tetap beranjak mengambil piringku dan piringnya menuju dapur dan mencucinya. Dia mengikuti dengan membawa gelas.
"Kamu nggak salah kok mas...akulah yang salah, seharusnya posisiku tidak disini... Ternyata aku sama sekali tak mengenalmu, kurasa jarak kita memang terlalu jauh.." ucapku sambil mencuci alat makan dan mengembalikannya ke rak piring.
Dia hanya diam, entah apa yang dipikirkannya.
"Jadi apa alasanmu menikahi denganku?"tanyaku kemudian.
Dan diapun mendengus kesal.
"Jangan mulai lagi deh..."
"Maafkan aku mas, aku merasa sangat jauh darimu, aku tak yakin sanggup menggapai mu, aku merasa jadi seorang istri yang tak mengenal suaminya sendiri..."
Posisinya yang terlalu jauh diatas ku, membuatku tak yakin akan bisa beradaptasi dengannya.
Dia menyatukan alisnya mendengar ucapanku. Lalu dia meraih kedua tanganku dan menggenggamnya dengan erat.
"Tetaplah berada di tempatmu, karena akulah yang akan menggapai mu... Maaf ya telah membuatmu tak nyaman dengan hidupku..."
Huffff...jadi baper, namun tetap saja aku belum bisa menerima kenyataan.
Selama ini aku memang tau suamiku nih kaya dari keluarga berada pula, itulah yang membuatku minder. Namun hari ini baru ku tahu bahwa dia seorang Presiden Direktur yang membawahi hampir ribuan staf.
Sanggupkah aku berdiri disampingnya?
"Kenapa sih kamu bukan staf biasa aja, mas?" gerutuku kemudian.
Dia menahan tawanya saat mendengar pertanyaan ku itu, kemudian menggandengku ke ruang tengah. Kami berdua duduk di sofa depan TV.
"Dengarkan dulu ceritaku, Mel..."
Aku pun menatapnya dengan patuh, siap mendengar penjelasannya.
__ADS_1