
Meja sudah dipenuhi oleh beberapa hidangan yang mengugah selera. Siapa yang memandang pasti akan merasakan lapar. Begitu juga dengan Faisal Rahmat yang hanya bisa menatap makanan itu dengan perut mulai melilit terasa sakit. Berkali-kali hanya bisa melirik sambil meneguk air liur, ketika sang istri, mertua, kakak ipar dan suaminya sedang menikmati hidangan itu. Mereka berlima memang duduk dalam satu meja, namun Faisal tidak boleh menyentuh makanan sama sekali sebelum mereka merasa kenyang.
Keluarga masih jadi satu tempat tinggal, karena hanya rumah itu yang tersisa peninggalan sang kakek, setelah beberapa bulan yang lalu telah meninggal.
Kekayaan sebagai tolak ukur sesorang agar bisa dihormati, namun jika tidak punya apa-apa justru dianggap sebagai sampah dan pembawa sial, begitu juga dengan Faisal yang hanya anak panti asuhan, hingga dia tersisihkan dikeluarga istri bernama Anissa Fitria. Berbagai hinaan, direndahkan derajat, bahkan diperlakukan sebagai babu adalah makanan sehari-hari. Mau membantah? Tentu saja tidak. Dia tidak bisa berbuat apa-apa saat amanah kakek dari pihak Anissa harus tetap dijalankan.
Kenapa pernikahan yang tidak ada cinta itu bisa terjadi? Karena Anissa dulu adalah wanita nakal yang suka sekali gonta ganti pasangan, hingga akhirnya perutnya membuncit dan tidak ada pria yang mau bertanggung jawab. Kelakuan Anissa yang kelewatan batas itu tidak ada yang tahu, dikarekan dia begitu rapi menyembuyikan semua hal itu. Kebetulan Faisal sedang bekerja sebagai buruh tani dan tukang cangkul disawah kakek Anissa. Tidak ingin nama keluarga besar tercemar, maka jalan satu-satunya adalah menikahkan mereka.
"Tuh, cucuku nangis dikamar. Sekarang ambil dan tenangkan dia. Telingaku bisa tuli mendengarkan suaranya," Sang mertua berbicara kasar.
"Baik, Bu."
Tangan mengelus perut yang semakin keroncongan. Dari sejak tadi malam belum makan sama sekali, efek kelelahan mengurus anak dan pekerjaan rumah. Mata tidak bisa berkedip, yang terus saja menatap kearah nasi dan tinggal ada sebiji tahu dipiring. Dalam hati ingin sekali berontak meluapkan uneg-uneg meminta jatah makanannya, namun pasti akan kena marah habis-habiskan bahkan bisa seharian tidak dikasih jatah makanan sama sekali. Sebenarnya perlakuan itu sudah sering terjadi, sehingga mau tak mau Faisal terpaksa puasa.
"Hoi, apa kamu budeg, ya. Arvin nangis kejer itu. Kok malah melamun aja sih?" bentak Anissa mengagetkan.
"Eeh, maaf, Nis. Aku akan segera kesana melihatnya."
Faisal segera bangkit dari tempat duduk.
Cegegesan akibat tidak enak hati, saat para keluarganya telah menyorotkan tatapan tajam seperti emosi ketika tidak bergerak cepat.
Berlari tergopoh-gopoh ketika anak yang bukan darah dagingnya semakin mengeraskan suara.
__ADS_1
"Lihat, Nis. Kamu punya suami tidak becus sama sekali. Apa-apa, kerjaannya lelet dan selalu salah. Lebih baik kamu buang saja tuh suami," usul Ibu yang kejam.
"Tidak segampang membalikkan tangan begitu saja, Bu. Apa Ibu lupa kalau masih ada nenek. Jika aku menceraikan Faisal sekarang, berarti kita tidak akan dapat apa-apa dari harta warisan beliau. Apa itu yang Ibu mau? Sementara semua harta akan diwariskan sama adek kamu."
Rumah Kakek ada dua, yang satu ditempati keluarga Anissa, dan yang satu lagi sang nenek bersama adek Ibu. Mereka tidak terlalu kaya, namun bisa dibilang kekayaan termasuk kalangan menengah.
"Benar tuh, Bu. Aku tidak mau jadi orang miskin dan makan dijalanan. Lebih baik biarkan Faisal masih jadi suami Anissa. Memang ngeselin sih kelakuan dia itu, tapi ada manfaatnya juga bisa memakai tenaga dia untuk jadi babu kita," simbat sang Kakak bermana Dita.
Mengunyah makanan terus yang mereka lakukan, sambil ngedumel membicarakan Faisal yang dianggap tidak berguna.
"Benar juga sih! Bisa menghemat pengeluaran juga, dari pada nyewa pembantu yang pastinya harganya sangat mahal. Hmm, ngak pa-pa 'lah lelet gitu, yang penting suatu saat nanti harta bisa kita dapatkan."
"Benar tuh, Bu. Jangan sampai kita tidak punya apa-apa hanya gara-gara si miskin Faisal itu."
Faisal berjalan lebar-lebar menghampiri keluarga yang masih sibuk menikmati sarapan. Mengendong adalah hal yang biasa dilakukan pria jangkung itu, sebab dipanti asuhan dulu sering mengasuh para adik-adik.
Sebenarnya tidak jelek juga wajah Faisal, bahkan wajahnya putih, bermata sipit, dan tubuh semampai serta banyak otot-otot kekar yang sedikit menonjol. Mungkin efek bekerja keras memakai tenaga, maka tubuh berototnya terbentuk sendiri.
"Nis, tolong susuin Arvin sebentar saja sebelum kamu berangkat kerja. Kasihan dia dari tadi nangis terus."
"Duh, Mas. Becus ngak sih ngurusnya? Kayak gitu saja kok repot, sih. Bukannya sudah aku simpan susu cadangan dari mompa asiku semalam," Kekesalan mulai datang lagi.
"Kamu tadi malam mungkin memompa terlalu sedikit, jadi pagi tadi sudah diminum dan sekarang dia mau minta lagi. Dikulkas aku cari sudah tidak ada lagi."
__ADS_1
Anissa hanya bisa memalingkan muka seperti tidak mau ngaku, yang padahal kenyataannya semalam dia sedang malas menyedot asi.
"Isssh, jadi suami bodoh banget sih. Susu formula 'kan ada, ngapain sih susah-susah mau bikin Anissa repot," simbat mertua tidak senang.
"Tapi, Arvin begitu tidak suka sama sufor."
"Aduh ... duh, Mas. Jadi pria itu jangan dudul amat. Paksa terus. Suruh dia minum, pasti lama-kelamaan akan mau. Namanya juga baru belajar mau disapih, pasti awal-awal dia tidak mau. Aku sudah dadan rapi dan cantik begini, masak mau menyus*i dia juga. Bikin repot banget, sih!" keluh kesah yang tidak enak didengar.
"Tapi, Nis-? Arvin masih berumur empat bulan, masak kamu tega amat mau nyapih dia. Dia butuh asi kamu untuk makanan dia."
"Halah, bawel amat. Ngak usah tapi-tapian. Apa ngak lihat Anissa mau kerja sekarang, setelah berbulan-bulan tidak kerja. Apa kamu mau makan batu jika istrimu itu tidak kerja? Enggak 'kan? Sekarang sana pergi, urus Arvin. Pekak telinga dengar dia tidak diam-diam dari tadi," usir beliau.
"Baiklah, Bu." Menundukkan kepala dengan membawa rasa kecewa.
Berlalu pergi dengan sedih, ketika melihat sang anak berasa disia-siakan sama ibu kandung sendiri. Berkali-kali menengok ke arah istri, berharap dia akan berubah pikiran demi anak.
Berjalan sambil terus menimang-nimang agar Arvin bisa tenang. Lelah rasanya membujuk agar bisa diam.
Dot berisi susu formula terus dijejalkan, namun malah sang buah hati menolaknya dengan menangis histeris. Keringat terus membanjiri kening. Badan melemah. Lelah rasanya habis menenangkan.
Selain itu perut yang meronta-ronta minta diisi, semakin menjadi-jadi perihnya.
Arvin akhirnya bisa diam setelah beberapa jam kelelahan menangis.
__ADS_1
Dari tadi berubah posisi mengendong, agar Arvin bisa merasakan nyaman dan tenang.