Milyader Tersisih

Milyader Tersisih
Layani Aku Dengan Puas


__ADS_3

Part Ini Harus Ada Karena Berhubungan Dengan Episode-episode Terakhir.


Banyak kata-kata dewasa, mohon bijak dalam membaca.


Tidak ada kekuatan lagi untuk sekedar berontak. Tanganku dikunci kuat, sampai tidak ada celah lagi untuk bergerak. Hembusan nafasnya terus saja memburu. Bulu kuduk terus meremang, ketika pelaku terus saja mencumbui bagian leher.


"Aku mohon, lepaskan aku!" pinta dengan memelas.


Sepertinya dia tetap kekuh ingin mencicipi tubuhku. Tangan kini bukannya dilepaskan, tapi malah diikat kuat dengan sesuatu. Entah ini kejadian yang tiba-tiba, atau pelaku sangat kenal dan memang sengaja melakukan ini.


"Br*ngsek, lepaskan aku. Apa yang kau inginkan? Jangan lakukan ini. Apapun yang kau minta akan kuturuti, asalkan lepaskan ikatan ini dulu," Memohon lagi.


Bikin kesal saja, ketika tidak ada jawaban sama sekali darinya. Yang ada tangan kasarnya, malah semakin berani mengelus pipi mulus ini. Terasa jijik saja jika diperlakukan paksa begini. Walau sudah sering melayani kenikmatan bersama para pria, namun kami melakukan itu atas dasar suka sama suka.


"Sebenarnya kamu siapa? Kok sampai bisa masuk ke kamarku?" tanya ketakutan.


Lagi-lagi bibir jadi bulan-bulanan kenikmatan untuk dia. Sepertinya dia suka pada bibirku, yang kebanyakan kata orang memang sexy. Dia terus saja menyerang, dan aku hanya dalam kepasrahan. Lama sekali dia mempermainkan, sampai ingin menghirup udara saja kesusahan. Posisi dia yang duduk diatasku bikin tambah sesak dada.


"Hhhh, jangan lakukan ini. Aku mohon. Kalau kau datang kesini dengan niat hati ingin uang, maka akan kuberikan segera!" Tetap berusaha mengajak negosiasi.


Tebakkan sementara, dia adalah maling yang sedang nyasar masuk ke kamarku. Siapa tahu dia suka uang dan bisa diajak negosiasi, maka akan terselamatkanlah tubuh ini.


"Hey, apa kau bisu, sehingga ucapanku tidak kau jawab?"


"Atau kau takut jika aku melapor?"

__ADS_1


"Kalau iya. Kamu tidak usah khawatir. Aku jamin kau aman jika mau melepaskan. Masalah uang akan tetap kuberikan, jadi kau bisa kabur dengan bebas, tenang, dan senang hati, gimana?" Tak menyerah membujuk pelaku.


Sepertinya memang sengaja dia tidak bersuara. Apa sedang takut kalau ketahuan, atau memang sengaja memancing agar aku membalas aksinya.


Deru hembusan nafas semakin membara. Mungkin kini aku harus menyerah saja daripada malah nanti dilukai.


"Ayolah. Tolong lepaskan aku!" pinta sekali lagi.


"Hahaha. Jangan harap."


"Suara ini? Bukankah aku mengenalnya? Ah, tidak ... tidak mungkin. Semoga tebakkan salah," Sedang berpikir untuk menebak siapa dia.


"Katakan, siapa kamu?" tegasku.


"Duh, kenapa kamu jadi tidak mengenalku. Apa karena kau terlalu gugup kita bisa bersentuhan kulit begini, hahaha!" gelak tawa yang memuakkan.


Dari parfum dan gaya bicara memang orang tak asing lagi, bahkan kami sepertinya sangat dekat sekali dalam satu rumah.


"Kak Ijal. Benarkah ini kau?" Kaget bukan kepalang saat berhasil menebak.


"Wuiih, kamu makin pintar saja, sayang."


Cuiih, tidak segan-segan aku ludahi saja wajahnya, yang masih dekat sekali dengan mukaku. Marah saja, jika dia berani menyentuh secara tak hormat.


"Dasar wanita sialan. Mau diajak enak-enak tapi kurang ajar banget kelakuan kamu," Dia terdengar mulai emosi.

__ADS_1


Plak, satu tamparan terdarat dipipi. Ngilu juga rasanya, ketika tadi kuatnya melayangkan tangan.


"Jangan banyak berontak dan belagak sok suci kau ini. Bukankah bekas merah dileher kamu cukup membuktikan, kalau kamu masih jadi wanita murahan?"


"Bukan gitu, Kak. Kamu hanya salah paham saja."


"Hah, salah paham gimana? Semua ada buktinya, jadi kamu tak payah mengelak lagi. Tubuhmu memang bagus dan sintal, dan apa salahnya jika aku ingin mencicipinya juga," Kata-katanya semakin kurang ajar saja.


"Jangan ... jangan lakukan itu, Kak. Kita masih saudara. Apa kata Kak Dita jika dia mengetahui ini," Mulai khwatir dan pelupuk mata ingin menyeruakkan lelehan embun.


"Ah, masa bodoh dengan dia. Yang penting kau bisa memuaskanku, jadi buat apa pusing-pusing mikirin dia. Lagian dia sudah alot, serta mulai bikin gedeg saja karena tidak bisa memberikan keturunan."


"Aku tahu kamu kecewa, tapi jangan lampiaskan itu semua kepadaku. Aku tidak ingin menghianati kepercayaan Kak Dita sebagai adeknya. Sebelum terlalu jauh, jadi lepaskan."


"Ah, aku tidak peduli. Sudah lama aku naksir sama kamu, dan hari ini semua jadi nyata bisa menyentuh tubuhmu, hahaha!" tawanya puas.


"Jangan ... jangan, kumohon. Ingatlah kedekatan kita sebagai keluarga."


"B*lsit, sama itu semua. Yang terpenting layani aku sekarang, atau akan kubocorkan semua perselingkuhanmu sama pria lain. Itukah yang kau mau, hah?"


"Ingatlah kita ini siapa."


"Diam kamu. Cukup tenang dan nikmati saja servis*nku, yang siapa tahu kau tidak akan berulah lagi diluaran sana sama pria lain setelah aku memuaskanmu. Mumpung keadaan sepi, aku bisa menyalurkan h*sr*t yang terpendam selama ini, hahaha."


Permintaan hanya diacuhkan saja. Kali ini aku bakalan hancur. Tidak menyangka jika orang yang kuhormati selama ini bisa tega memperlakukan tak sonon*h begini. Kepasrahan mulai terjadi lagi, ketika daratan ciuman dan rabaan dia kembali terluncur secara brutal.

__ADS_1


Isak tangis mulai pecah, ketika mengingat keluarga yang pastinya akan kecewa sekali. Dalam hati terus bertanya, apakah ini karmaku pada mas Faisal yang berkali-kali menolaknya, tapi malah menjalin hubungan lagi sama mantan?.


__ADS_2