Milyader Tersisih

Milyader Tersisih
Jadi Budaknya Terus


__ADS_3

Cerita ini hanya karangan belaka. Tidak ingin menyudutkan atau meracuni pikiran seseorang. Dibalik sikap atau perbuatan mereka, suatu saat nanti akan ada balasan dan hikmahnya. Semoga bijak dalam membaca karya ini.


Ah, lama kelamaan aku telah diperbudak. Pelampiasam n*fsunya sangat melukai hati ini. Siapa yang tidak kecewa, setelah sekian tahun kuhormati sebagai keluarga, tapi dia tega melempar kotoran begitu saja ditubuh ini. Bahkan rasanya semakin jijik pada tubuh sendiri. Kulit sampai lecet-lecet dan terluka, ketika mandi terlalu kuat mengosok-gosoknya, agar bau yang sangat memuakkan itu hilang cepat ketika telah menempel di kulitku.


"Kenapa terus begini? Sampai kapan akan berakhir semua ini?" Kesedihan dalam hati.


Tiap malam malayani bagaikan pelacur. Sudah seperti orang hilang akal, ketika terus tunduk sama perintahnya. Entah jimat apa yang dia pakai, sehingga aku tak bisa berkutik bahkan melawannya sekalipun.


Mungkinkah rasa haus kesendirian dalam dinginnya malam, menikmati irama dia dalam menyentuhkan, atau terlalu tersanjung ketika ucapan manisnya terbisik ditelinga?.


Ah, tak tahu apa yang telah kuperbuat. Semakin dalam, semakin terbuai akan belaiannya. Setan memang telah merasuki, sampai kami lupa akan status.


"Malam ini aku sangat puas, ketika kamu sekarang jadi wanita penurut," pujinya.


"Teruslah begini, maka kau akan senang!" Suara seraknya yang bikin eneg.


Memalingkan wajah karena malu. Tidak ingin melihat tatapan buasnya yang selalu menang. Kami sering melakukan tanpa sepengetahuan siapapun. Dosa sudah terpikir belakangan. Urat malu sudah putus. Yang ada hanya kesenangan sesaat. Dia pasti sudah menganggap sebagai istri simpanan. Tubuh kami tak bisa dikendalikan lagi jika kerasukan.


Sebelum berangkat kerja selalu minta jatah dulu. Ibu dan kakak kandung sering bangun terlambat, jadi kami bisa bebas melakukannya. Lagian kami harus pergi kerja jadi wajar jika bangun pagi-pagi. Disembarang tempat kami lampiaskan, bahkan jika sepi dan kak Ijal tidak tahan lagi, bisa didapur atau kamar tamu. Pernah juga menyusul dikamar mandi.


"Ayo, hentikan ini. Aku takut katahuan, jika kita terus melakukan dalam kubangan dosa ini," pinta dengan memelas.

__ADS_1


Kami berbaring santai, setelah dia puas memberikan jatah. Berbicara membelakangi tubuhnya. Tanpa ragu lagi tangan jahil itu memeluk tubuh, yang tanpa sehelai benang lagi.


"Jangan takut begitu. Ibu dan kakak kamu itu terlalu bodoh. Tidak usah khawatir. Selama kita sama-sama menyimpan rahasia dengan baik, semua tidak akan bocor dan kita akan tetap menjalani hubungan ini sampai sama-sama puas," Memang gila ajakkannya.


Selimut kutarik paksa keatas, sampai benar-benar menutupi bahu yang masih kelihatan. Sikap manja itu ingin cepat-cepat tertepis.


"Tapi, apapun kebusukan yang disembunyikan, pasti akan terkuak juga. Apa kamu tidak takut?" Bergetarlah bibir ini ketika mengungkapkan uneg-uneg dihati.


"Ah, aku tidak peduli itu. Yang terpenting sekarang aku bisa happy dan puas atas pelayananmu. Masalah mereka, aku sudah mempersiapkan jurus jitu. Kau tidak usah pedulikan mereka. Jika kakak kamu minta ceraipun akupun siap, demi dirimu. Lagian siapa yang mau sama wanita mandul kayak gitu. Lebih baik sama kamu yang cantik dan bisa mengimbangi keg*ir*h*nku dalam ranjang. Benar ngak?" Dia terus mengoda dengan menuip-niup bagian leher.


"Hhh, kayaknya dia susah untuk mengerti. Jangan sampai kami terus terpasung dalam hubungan tak wajar ini," Kegelisahan hati.


"Jangan mau enaknya saja. Kau yang untung, tapi ini semua sangat merugikanku. Apa kamu tidak berpikir kalau mereka keluarga asliku. Mau ditaruh dimana muka ini, hah! Jangan ngadi-ngadi kalau bicara," Menepis kasar pelukannya.


"Hei ... hei, jangan emosi dulu. Kamu tidak usah galau begitu. Kalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan, maka aku siap jadi pengantin pria kamu, gimana?" Mulut manisnya mulai lagi memberikan seutas janji.


"Jangan berbual, kamu. Gila apa, status kita nanti akan jadi turun ranjang, dengan menikahi adik ipar sendiri. Baru kali ini bertemu manusia yang tak ada otak. Mau menang sendiri dan suka bermain trik menjijikkan," ketus berbicara.


"Hahaha, kata-katamu sungguh lucu. Bukankah kau menikmati juga permainan kita? Iiich, kamu makin manis dan bikin tambah sayang saja."


Cet, dia beraninya mengigit bagian leher. Tangan kasar itu memberikan remasan disekitaran dada, sehingga aku secara reflek tersentak kaget dengan cara langsung berdiri tegap. Selimut tebal berisikan busa tipis, terusahakan agar membalut semua sekujur tubuh. Setengah tel*nj*ng, membuat dia semakin intens untuk tatapan menerawang bagian kulit mulus ini.

__ADS_1


"Issh, kau benar-benar manusia br*ngsek yang tak punya otak. Sudah, sekarang keluarlah dari kamar ini. Tadi sudah kuberi jatah, sekarang waktunya kamu pergi," usir kasar menunjuk arah jendela.


Kelakuannya semakin lama begitu mengusik, ketika tak henti-hentinya mengetuk jendela sebelum dia tadi meminta layanan. Awalnya tidak mau, namun ketika dia memberikan ancaman dengan menunjukkan foto tel*nj*ng sangat bikin geram. Tanpa diduga dia tega menyeret keluarga sendiri. Tanpa sedikit memikirkan tentang rasa belas kasihan.


"Uluh ... uluh, jangan bersikap kasar padaku, atau akan kusebar bagian lekuk tubuhmu itu pada pria hidung belang diluaran sana. Selalulah bersikap manis, maka kenikmatan akan selalu kuberikan," bisik yang mengelikan dengan sikap b*jing*nnya.


Mengepal kuat tangan. Berkali-kali hanya bisa menahan kemarahan. Gigi gemerutukan ingin mengampar mulut tak sopan itu. Jari-jemarinya berjalan perlahan menyusuri tiap inci tubuh. Hendusan bikin risih. Bibir menyentuh bagian leher. Seketika meremang kembali, hingga bulu kuduk berdiri semua.


"Baiklah. Akan kuturuti kemauan kamu sekarang, tapi jangan harap bisa lolos dari jeratan kepuasan yang kuberikan hari berikutnya."


"Terserah kamu. B*jingan seperti kau ini tidak akan pernah puas."


"Hahahha, tahu aja kau ini!" gelak tawa nakal.


"Baiklah, aku pergi dulu ya, sayang. Takut kalau kakak kamu akan curiga. Baik-baik disini, dan jaga kesehatan agar bisa terus melayaniku," bisiknya lagi.


Membenahi selimut yang turun setelah dia buas memberi gigitan merah. Memungut baju yang terbuang sembarangan dan memakai langsung. Sebelum undur diri, mengecup keningku. Sikapnya selalu manis, tapi kalau sudah keluar sikap asli, sampai membuat takut hanya melihat wajahnya saja.


Lemah terkulai sehabis melayani. Sebelum pergi, dia kembali lagi mengecup leher. Manusia bej*t ini tidak ada kapok dan puas. Aku terus dijadikan boneka pelayanan. Jika berontak, berbagai tuduhan serta ancaman terlontar. Bahkan ingin menyakiti keluargakupun sempat dia bisikkan. Apa salah jika ingin melindungi diri sendiri dan keluarga, tapi harus rela dipenjara dalam belenggu n*fsunya?.


Aku hanya wanita munafik. Setelah mendapatkan gejolak itu, tak tahan lagi untuk tidak mengeluarkan airmata. Memukul dada diri sendiri, setelah bersalah melayani.

__ADS_1


Berpikir lebih baik mati saja. Pernah hampir kehilangan nyawa akibat terlau lama berendam dibak mandi. Untung saja kesadaran cepat terjadi, sehingga tak ada yang tahu ketika hampir sekarat akibat kedinginan.


__ADS_2