Milyader Tersisih

Milyader Tersisih
Kemarahan Yang Dinyalakan


__ADS_3

Perselingkuhan, dimana terjadinya sebuah hubungan yang terjalin secara gelap atau sembunyi-sembunyi, dengan berusaha menutupi nya didepan hadapan banyak orang terlebih kepada pasangan.


Perselingkuhan dalam suatu hubungan menjadi salah satu hal yang begitu menyakitkan bagi pasangan. Karena perselingkuhan, hubungan yang telah terjalin lama, bahagia dan penuh cinta di dalamnya bisa saja hancur dan berantakan dalam sekejab. Kasus perselingkuhan bahkan bisa menyebabkan trauma mendalam dan sulitnya korban untuk menaruh rasa percaya ke orang lain, bahkan ke orang-orang yang benar-benar tulus padanya.


Setelah diketahui bahwa perselingkuhan tersebut telah terjadi, maka mereka akan merasakan suatu perasaan malu atas diri sendiri ketika berhadapan dengan orang yang selama ini dia duakan, teman dan keluarga, terlebih jika teman-teman dan keluarga mengetahui atas apa yang terjadi.


Orang-orang yang sulit mempertahankan kesetiaan, dalam sebuah hubungan kerap menunjukkan sifat yang bertolak belakang. Mereka menunjukkan gejala narsis, namun di sisi lain justru rendah diri.


Pada dasarnya, setiap orang menyadari kesalahan yang mereka perbuat. Begitu juga dengan orang-orang yang sering berselingkuh. Namun orang-orang ini punya cara tersendiri untuk membentengi diri dari rasa bersalah. Seorang penghiatan pernikahan dan keluarga, umumnya mereka akan menciptakan sebuah kebohongan untuk dijadikan pembenaran.


"Kenapa kamu kelihatan lesu begitu? Dan dari tadi Ibu lihat lauk tidak makan, hanya diaduk-aduk begitu. Ada apa? Apa ada masalah dikantor?" tanya beliau.


Kami berempat sedang sarapan. Pembantu sementara yang menyiapkan ketika Mas Faisal tidak ada. Ala kadar yang tersedia. Dia pintar memasak dengan bumbu terbatas. Ibu kandung pelit. Belanja dibatasi, dan hanya kepeluan yang penting boleh dibeli. Katanya jangan buang duit ketika membeli sesuatu berlebihan yang tak penting, contohnya minyak goreng lebih dari satu kilo.


"Eeh, tidak ada, Bu. Hanya lagi malas saja," jawab berbohong.


Suami kakak ipar menatap intens ke arahku. Bibir menyunging dia, berhasil membuat jatuh perasaan ini. Semua rasa tercampur aduk. Banyak rasa bersalah, bingung dan tak enak hati. Aku hanya tertunduk, tak berani menatapnya balik. Jika ada sinyal membalas, takutnya dia menganggap wanita gampangan yang berhasil dia lumpuhkan.


"Kalau malas ya jangan ambil makanan. Jadinya mubazir dan nanti dibuang begitu saja," simbat Kak Dita.


"Tak apalah, Kak. Sekali-kali. Lagian aku yang sering kasih jatah Ibu paling banyak. Jadi bolehlah makan atau tidak, sesuka hatiku," sewotku.


Kursi sampai berdecit ketika berdiri mendadak. Ucapan Kakak kandung sangat menohok hati. Jadi sebel sih dia sok ngatur. Tahu dia saudara tetua, tapi tidak perlu kasih nasehat kalau tidak melakukan kesalahan fatal. Bikin mood ambyar, gara-gara sepiring saja dia sampai hati mau menang sendiri.


"Dih, gitu saja kok marah! Memang apa salahnya perkataanku tadi?" singung secara terbuka, ketika kaki melangkah meninggalkan mereka.


"Lihat, Bu! Anakmu itu. Dinasehati kok malah tidak suka begitu."


"Sudah, biarkan saja. Mungkin Anissa lagi ada masalah."

__ADS_1


"Tapi tidak perlu emosi jiwa begitu juga, kali!" Kak Dita masih saja membicarakanku.


"Aneh sekali moodnya hari ini. Apa ada yang salah dengannya hari ini?"


"Entah, Ibu juga tidak tahu."


Walau tidak ada dihadapan mereka, namun suara-suara mereka masih terdengar jelas ketika aku didapur sedang minum. Rasa panas dihati ingin secepatnya kusiram sama yang dingin seperti es. Entah mengapa, yang salah suaminya tapi amarah ini ingin tercurahkan pada saudara kandung. Mungkin saja kemarahan ini terjadi, sebab dia sebagai istri tidak bisa menjaga suaminya dengan baik?.


"Kalau lagi marah, jangan orang lain kena juga," Sapa Kak Ijal.


Uhuk ... uhuk, sedang menikmati minuman, tapi tak sengaja tersedak ketika dia muncul tiba-tiba.


Tidak ingin mencari masalah lagi, maka aku hanya menanggapinya dengan melirik ke arahnya sebentar.


"Kenapa sih dia menyusul ke sini juga? Dasar pria si*lan. Muak banget lihat mukanya yang pandai menyembunyikan masalah tadi malam," guman hati gondok.


"Wah, berani sekali kau mengabaikanku. Apa kau masih sombong, setelah tubuh sintalmu telah kucicipi, hahahah!" ucapan pedasnya.


Cuiih, meludah kelantai. Ingin kutunjukkan kalau aku benar-benar jijik saja sama bualan bodoh itu.


Walau banyak yang mencicipi tubuh, tapi rasanya tidak sudi dan rela saja dia ikutan menikmatinya. Orang lain mungkin hanya untuk menyenangkan diri, tapi ulahnya tadi malam bikin malu tujuh turunan, dan tak akan bisa terhapus ataupun melupakan begitu saja.


"Ckck, jangan sok jual mahal begitu. Bukankah kau juga menikmatinya sampai desahanmu membuatku ingin melakukan lagi," bisiknya yang memuakkan.


Tangan terangkat ingin menampar mulutnya yang kurang ajar, namun belum sampai terayun dia berhasil menahannya.


"Jangan mimpi. Selamanya perbuatanmu yang kotor itu tidak akan pernah terjadi lagi. Jika kau macam-macam lagi, semuanya akan kubongkar pada istrimu itu. Ingat itu!" Mencoba mengacam.


"Silahkan. Aku tidak takut! Justru akan kubuat kau sampai tak kuat lagi melayaniku," Senyuman kecut itu nampak sadis ingin segera memangsaku saja.

__ADS_1


Tangan kutarik. Tak sudi rasanya jika bersentuhan lagi. Pria bejat seperti dia ternyata tidak bisa diremehkan begitu saja. Harus mencari cara agar dia tak tertarik lagi, ataupun mengulagi perbuatan itu.


"Mas ... Mas, kenapa kau lama sekali ambil air minum saja!" teriak istrinya.


Seketika mengubah posisi, ketika sang istri mendekati posisi kami. Jangan sampai gerak-gerik terbaca dia.


"Ehh, maaf sayang. Tadi tenggorokanku sangat kehausan, jadi tadi minum beberapa gelas agar cepat reda!" sambut si suami yang pandai berdrama.


"Kamu juga ada didapur?" Kak Dita menatap heran kearahku.


"Kebetulan aku lagi ambil air minum juga!" jawab sambil kaki berjalan maju ingin meninggalkan mereka.


"Ooh."


"Ehh, tunggu!" cegah suara saudara.


"Ada apa? Kalau tidak penting, aku ingin cepat-cepat undur diri! Cepat katakan," Langkah terhenti.


"Cuma mau bilang, kok leher kamu banyak cup*ngan gitu. Wah, hebat ya! Tidak ada Faisal kamu bisa bebas kencan dan tidur sama pria-pria," sindir Kak Dita.


"Diam kamu. Tidak usah ikut campur. Urus saja suami kamu, agar tidak kecolongan sama wanita juga. Dasar manusia sok tahu," balas marah dengan berbalik badan melihat kearah mereka. Jari sampai menunjuk penuh berani.


Wajah kedua suami istri itu terkesima. Mungkin kaget aku bisa membalas dengan kata-kata kasar. Gejolak kemarahan sedang mengrogoti, jadi siapapun itu yang sok tahu pasti akan kena semburan.


"Dih, dari tadi sewot amat. Emang kenyataan juga apa yang kubilang," balasnya marah balik.


"Sudah, sayang. Jangan ikut campur urusan adik ipar. Dari pada kamu emosi juga, lebih baik urus keharmonisan kita saja, gimana! Yuk kita ke kamar saja," Mulut buaya memang pandai bersilat lidah.


Mereka melewatiku. Tangan mengepal kuat. Kalau bukan saudara saja, pasti akan kupatahkan semua perkataan atau kelakuan suami istri yang sedang berdrama penuh kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2