Milyader Tersisih

Milyader Tersisih
Tingkah Suami Semakin Mencurigakan, Ketika Keluar Malam


__ADS_3

Gelagat aneh semakin ditunjukkan Mas Ijal. Kalau diperhatikan dia selalu nampak ceria, bahkan tersenyum-senyum sendirian ketika melihat layar gawai. Sempat ingin merebut tapi tidak diizinkan. Hanphone selalu didekat dia, sehingga tidak bisa bebas memeriksa apa didalamnya. Bahkan bekerja yang jarang ada lemburan, kini mulai aktif ikut tiap malam.


Kadang ingin duduk berdekatan dengannya tapi dia seperti jijik saja. Tidur bahkan membelakangi. Sudah beberapa bulan tidak mendapatkan jatah. Biasanya mengebu-gebu minta dilayani, ketika berkeinginan segera mendapatkan anak, tapi entah mengapa dia sangat acuh belakangan ini. Bahkan tak bern*fsu bila disentuh ataupun dipancing.


Sempat pernah curhat sama ibu kandung. Tanggapan beliau sangat mengecewakan. Bukan dapat dukungan maupun solusi, tapi malah dimaki serta kena mental omelan. Katanya itu hal biasa, ketika sedang dalam fase kebosanan. Tapi tak mudah percaya begitu saja, ketika semakin diteliti malah sangat mencurigakan.


"Apa aku harus menyelidiki, tapi bagaimana harus memulainya? Mas Ijal terlalu gesit dalam bertindak. Bahkan ingin mencari bukti, dia selalu saja lolos dari pengawasanku," Sedang berpikir penuh keseriusan.


"Duh, gimana yah? Kenapa aku merasa selalu was-was begini? Aah, semoga lambat laun semua akan terkuak, jika memang ada hal aneh yang dilakukan. Tapi jika tidak berbuat seperti yang kupikirkan, semoga tindakan itu akan mendatangkan kebaikan untuk hubungan kami," Penuh harapan walau didalam hati masih menaruh kecurigaan.


Suara gemericik air terdengar mengalun keras dari kamar mandi. Dia sedang membersihkan diri sehabis pulang kerja. Untuk hari ini tidak ada gelagat aneh, maka harus bersikap biasa-biasa saja, biar dia tidak menaruh curiga juga. Kepercayaan yang selama ini terjaga terasa terkikis. Walau belum yakin, namun firasat ini begitu kuat.


"Apa yang sedang kau lamunkan, sayang!" Mas Ijal mendekatiku yang tengah duduk santai dipucuk pembaringan.


Sikap manisnya sering kurindukan. Pujian dia selalu kuelu-elukan. Kata romantis, tak pernah terlewatkan. Bahkan kecupan selalu kudapatkan.


Ketika keluar, dia hanya menggunakan handuk berlilitkan sebatas pinggang. Handuk kecil untuk mengeringkan rambut bertengger dileher. Body bagus sih, tapi dibagian tertentu ada sedikit lemak. Gedut tapi berbentuk gagah tubuhnya. Walau begitu, tetap menyayangi sebab selama ini tidak berulah, dan tetap setia hanya pada satu wanita yaitu aku sendiri.


"Eeh, tidak ada, Mas! Kamu mungkin salah lihat," jawab ramah.


Dia ikutan duduk. Sambil mengerakkan tangan untuk segera menghilangkan air dirambut.


"Masak sih. Aku dari tadi sudah lama memperhatikan, loh. Kamu tidak bohong 'kan? Apa kamu lagi ada masalah, kok sampai lama begong begitu?" Kecurigaan yang nyata.


"Beneran ngak ada, Mas!" Berbohong sambil bermanja ria dengan bergelayut di tangan kekarnya.


"Ya sudah. Kamu tidur saja, aku mau keluar sebentar."


Langsung melepaskan kemanjaan. Kaget jika sikap yang tidak biasa telah berubah.


"Mau kemana, Mas? Ini sudah malam."

__ADS_1


"Ingin keluar sama teman-teman. Ya, boleh dibilang mau ngopi sebentar sambil ngumpul."


"Bukannya kamu tidak pernah begituan?" Masih menaruh curiga.


"Siapa bilang tidak pernah. Dulu masih bujang selalu melakukan rutinitas begituan. Hanya setelah menikah dengan kamu jadi terkukung."


Ah, apakah aku terlalu membelenggu suami? Tapi kenapa baru sekarang sikapnya berubah drastis? Sudah sekian tahun bersama, tapi selama ini baik-baik saja. Apa benar yang dikatakan Ibu, kalau ada rasa bosan terhadap hubungan kami? Kalaupun iyapun, maka ini semua berawal dari kesalahanku yang tak membiarkan dia untuk bebas terbang. Sebagai istri takut jika kebebasan diberikan, maka lirikkan jahil pada wanita lain pasti terjadi.


Kaos sudah dilapisi jaket. Tak lupa menyemprot minyak wangi. Dari gelagat beda, seperti akan kencan saja, tapi sebisa mungkin hati ini menahan agar tak manaruh curiga berlebihan.


"Kenapa harus berdandan juga, Mas?" Masih saja kepo.


"Lah, memang kamu tidak mau jika dikatain suamimu ini ganteng. Kalau dapat pujian banyak dari orang, yang untung kamu juga 'kan, sebab bisa merawat suami dengan baik."


"Iya, juga sih."


"Ya, sudah. Jangan berpikir banyak-banyak. Aku hanya mau kumpul sama warga disini. Kalau ada perlu, kamu bisa mencari diwarung pojokkan gang disana tuh." Sepertinya perkataan dia sangat meyakinkan.


"Hmm, kamu cepat istirahat. Jangan terlalu kecapek'an."


"Iya. Sudah, pergi sana. Jangan sampai kemalaman pulang nanti."


"Oke."


Setelah pintu ditutup, mata masih saja terjaga. Pikiran terus melayang dan ingin membuang prasangka. Ingin menguatkan kepercayaan kami. Pasti suami tidak akan berbuat diluar batas.


Detingan jam terus berputar. Dikedinginan malam, hanya bisa meringkuk sendirian sambil memeluk erat bantal guling. Kebiasaan tidur awal, sampai tak terasa netra terpejam sendiri.


Semilir angin dari celah jendela, membuatku harus terbangun ketika selimut tak menutupi tubuh.


"Ah, sudah jam berapa ini? Kenapa mas Ijal belum pulang juga?" Ingin meraih gawai yang terletak diatas nakas.

__ADS_1


"Astaga, sudah jam dua lebih. Duh, kenapa belum ada tanda mas Ijal akan kembali?" Kekhawatiran yang membelenggu jiwa.


Kaki terjuntai ingin turun ranjang. Memakai sandal ingin mencoba memeriksa. Siapa tahu dia tak sengaja tidur diruang tamu, karena sudah tidak tahan sama ngantuk.


Tap ... tap, berjalan tergesa-gesa.


"Aah, ternyata tidak ada. Astaga, kemana kamu, Mas? Kenapa belum pulang juga,"


Cukup membuat tak tenang. Berjalan mondar-mandir sambil meremas tangan.


Lelah berdiri lalu duduk. Ketika tak sabar menunggu, jadilah berdiri lagi. Berkali-kali mengigit bibir karena tidak tahan. Mulai cukup lelah menunggu.


Klek, bunyi knop pintu dibuka.


"Alhamdulillah. Semoga saja itu, mas Ijal!" cakap dalam hati sedikit lega.


Berlari menghampiri. Benar saja, dia suami yang kutunggu.


"Mas, apa-apaan ini? Kenapa kau pulang selarut ini? Apa sebenarnya yang kau lakukan disana? Mungkinkah kau-?" cecar tidak terima.


"Halah, jangan banyak bawel kamu. Suami pulang bukannya disambut baik-baik, malah cerocos saja tuh mulut kamu. Aku capek, ingin cepat tidur," Dia berlalu pergi begitu saja, tanpa melihat kearahku.


"Astaga, Mas. Aku serius bertanya. Kenapa kau tak menganggapku," Ingin rasanya meluapkan emosi yang tertahan efek lelah menunggu.


"Haist, bisa diam ngak tuh b*cotan kamu. Lama-lama eneg tahu, sama suara kamu yang cepreng kayak kaleng diseret begitu. Anak dan ibu sama aja, bawelnya!" Hina yang tak berperasaan.


Tanpa bisa mencegah, dia yang kusayangi berlalu pergi begitu saja. Meninggalkan diriku yang masih tak percaya atas ucapan dia barusan.


"Astaga, Mas. Kenapa kau jadi berubah begini?"


Hanya bisa mengelus dada. Baru pertama kali ini suami berkata kasar. Ingin rasanya mengeluarkan bulir-bulir airmata.

__ADS_1


Tidak ada lagi keharmonisan seperti dulu. Semua berubah ketika dia terus menuntut anak. Apa yang bisa kulakukan, setelah usaha sudah dikerahkan semua. Hanya takdir bisa merubah segalanya, namun harus banyak kesabaran dalam penantian tangisan bayi itu.


__ADS_2