Milyader Tersisih

Milyader Tersisih
Masih Belum Ada Kejelasan Cucu


__ADS_3

Belum ada kejelasan berita. Masih simpang siur segalanya. Semakin hari, Faisal membuat tekanan bathin ini. Tiap kali melihat wajah, senyum, bahkan gaya bicara mirip sekali dengan anak kandung.


Halaman rumah sangat luas. Ditumbuhi beberapa bunga, rerumputan hijau, pohon buah, dan tanaman hias yang merambat. Memandangnya bikin adem ayem hati saja. Tiap hari terus disirami dan sangat terjaga. Bau kesegaran terpancar dan itu bisa mendamaikan jiwa.


Rumah besar dan mewah, namun terasa sepi ketika hanya kakek yang sudah berumur udzur sepertiku, hanya bisa sendirian menghuninya. Kalau dipikir buat apa kekayaan jika tidak ada penerusnya, maka dari itu mati-matian ingin mencari cucu. Walau banyak yang mengatakan sudah meninggal, tapi hati terus mengatakan bahwa dia masih hidup, tapi entah dimana dia sekarang.


Tok ... tok, pintu diketuk.


"Masuk saja!" suruhku ketika sedang santai menikmati pemandangan halaman rumah sambil meminum secangkir kopi.


"Maaf menganggu, Tuan." Faisal membungkukkan badan.


Sifatnya lemah lembut. Selalu sopan. Banyak yang memuji dia adalah pria baik. Wajar saja kalau para pekerja lain menyukainya dan bisa akrab cepat.


"Eeh, kamu, Faisal. Tidak menganggu, kok. Aku sedang bersantai. Ada apa? Apa ada perlu penting yang ingin dibicarakan?"


"Eeh, iya, Tuan. Maaf kelancangan saya jika menemui anda dan menyita waktunya."


"Tidak masalah. Katakalah. Ada perlu penting apa, hingga kau kelihatan tak enak begitu?" Mencoba menebak.


Ketara dari raut wajah bocah itu. Ada sejuta perasaan malu-malu juga. Seperti sedang memendam keinginan.


"Itu-ttuh, Tuan. Saya hanya ingin minta cuti beberapa hari kedepan untuk pulang kampung. Sudah beberapa bulan anak saya tidak ketemu sama ibunya. Apa itu boleh, sedangkan belum waktunya untuk saya cuti?"

__ADS_1


"Bisa. Kamu tidak usah tak enak begitu. Aku ini orangnya tidak akan mengekang para pekerja. Asal mereka selalu sportif bekerja. Mengerjakan semua dengan beres dan tidak macam-macam. Jangankan cuti beberapa hari, satu bulanpun diperbolehkan asal kalian tidak berulah dan membuat kecewa saja. Kamu orang yang rajin bekerja, jadi apa salahnya jika bisa menikmati cuti bersama keluarga. Kamu punya hak. Lagian anak kamu pasti rindu juga sama ibunya. Aku cukup memahami itu," Ramah berbicara.


"Iya, Tuan. Maaf kakau ada yang salah. Terima kasih atas kebaikan Tuan, sebab memberikan saya izin."


"Hmm, tidak masalah. Lalu kapan itu?"


"Kalau bisa secepatnya. Lusa, juga boleh atau minggu depan. Mungkin cuma dua atau tiga hari aja pulang."


"Kalau begitu hati-hati dijalan. Jaga anak kamu dengan baijlk. Jangan sampai diperjalanan tidak kamu awasi. Takutnya dia masuk angin nantinya. Kalau pak Tejo ada waktu senggang suruh dia mengantar kamu."


"Eeh, tidak usah, Tuan. Nanti malah merepotkan dia. Saya bisa naik bis atau taxi saja nanti."


"Tidak ada yang direpotkan disini, Faisal. Bilang saja itu perintah dari saya. Lebih baik kamu naik mobil saya, daripada diperjalan nanti terjadi sesuatu sama kamu dan Arvin. Ya, kalau ada yang menolong, tapi kalau tidak ada pasti kamu sendiri bakalan kerepotan."


"Duh, gimana yah, Tuan. Saya jadinya tidak enak."


"Hhh, ya sudah kalau begitu, Tuan. Terima kasih sekali lagi atas kebaikkan anda."


"Iya, sama-sama."


Dibalik pungung itu ingin kuraih. Masa akrab sama anak tak bisa terlupakan. Dulu tiap hari dipenuhi tawa canda kami. Tak terduga akan terpisahkan oleh takdir maut. Harapan cuma satu yaitu cucu yang hilang belasan tahun bisa kembali.


Tes, airmata tak terelakkan. Kerinduan akan kehadiran mereka selalu terimpikan. Banyak kenangan terekam dalam ingatan. Hanya rasa sakit tidak bersama lagi, membuat semakin memburuk kesedihan ini.

__ADS_1


Aroma kopi yang harum terus terendus oleh hidung. Memejamkan netra sambil membayangkan kedamaian semasa dulu. Sekelebat anak dan menantu hadir. Bibir memperlihatkan seutas senyuman yang sempat tenggelam. Merangkul, mengenggam, serta berjalan beriringan sering kami lakukan, sampai video pikiran kembali memutar memory yang mulai memudar.


"Kenapa aku tak bisa melupakan kalian? Ayah, begitu rindu dan sangat tersiksa atas keinginan kehadiran kalian. Dimana anak kalian? Apa masih hidup atau sudah ikut kalian? Apa yang harus Ayah lakukan, demi bisa bertemu dengannya andai masih bernyawa? Hhh, semoga keinginan ini akan segera terkabul. Maafkan Ayah yang tak memberi ketenangan pada kalian, ketika sudah damai disyurga. Semoga kalian tetap ditempatkan disisiNya yang terbaik." bathin hati berdoa pada diri sendiri.


Pintu terdengar didorong seseorang. Asisten yang selama ini membantu kesulitanku, kini berjalan menuju posisi yang tengah mengoyangkan kursi kebesaran.


"Apakah Tuan memanggil saya?" tanyanya.


"Iya, aku hanya ingin tahu perkembanganmu dalam mencari cucuku," Berharap banyak bisa mendengar kabar baik.


"Maafkan saya, Tuan. Untuk saat ini kami masih belum banyak perkembangan. Tapi sedikit informasi mengenai warga sekitar tempat kejadian kemarin, ada yang melihat seorang pria yang tengah mengendong anak dengan gelagat sangat mencurigakan. Dari cerita dia kemungkinan besar itu bukan anaknya, sebab wajah serta kulit anak itu tidak sama." Berkata dengan beribawa.


"Apa itu kemungkinan besar cucuku hidup?"


"Kurang tahu juga, Tuan. Kami hanya bisa menerka saat ini. Semua belum akurat. Sementara keterangan dari beberapa orang yang kami temui masih simpang siur dan berbeda cerita. Kejadian malang itu sangat mendadak dan lokasi jauh dari pemukiman penduduk. Hanya saja ada beberapa toko yang melihat kejadian itu. Untung saja pemiliknya tidak berubah, sehingga kami bisa mengali lagi kejadian lampau itu." Kedua tangan bertumpu didepan sebagai tanda sopan.


"Bagus. Lajutkan introgasinya. Kalau kalian semua berhasil, bonus besar akan menanti. Tapi harus akurat dan benar-benar dipercaya informasi tersebut. Jangan ada tipu menipu disini. Kalau butuh bantuan segera hubungi aku, maka akan kukerahkan semua bala bantuan, asalkan cucuku bisa kembali, walau dalam keadaan sudah jadi kerangka sekalipun."


"Baik, Tuan. Siap laksanakan. Kami akan terus berusaha mengali keterangan mereka. Semoga kami bisa menemukan titik terang dan segera menemukan tuan muda."


"Hmm, tetap berhati-hatilah. Jangan sampai informasi ini bocor kepada orang lain, atau kita akan mendapatkan masalah besar, serta banyak yang mengaku sebagai cucuku."


"Kalau itu beres semua, Tuan. Kalau begitu saya mau pamit undur diri."

__ADS_1


"Hmm, kamu boleh pergi."


Mengangguk sebentar, lalu dia melangkah pergi. Masalah dana tidak jadi masalah. Kekayaan tidak akan habis tujuh turunan. Bahkan sampai meninggalkan dunia inipun, harta tetap masih banyak. Seandainya cucu ditemukan sudah tidak bernyawa, maka jalan satu-satunya didonasikan kepada panti asuhan, anak yatim, dan memberikan sedikit harta pada orang-orang yang tidak mampu. Sudah bagaikan mencari jarum dalam jerami dan itu sangat sulit.


__ADS_2