
Setiap kita tidur, pasti mengalami hal aneh yang berbeda dengan berbagai peristiwa, yang bahkan tak akan pernah terpikirkan. Namun, apakah pernah menyangka bakalan melakukan hubungan terlarang dengan orang yang masih saudara? Pasti jika terjadi, itu adalah awal petaka bagi kehancuran keluarga yang damai.
Tidak pernah terbayangkan jika aku mengalami pengalaman pahit. Mungkinkah dosa yang kulakukan dimasa lalu, kini mulai terbalaskan dengan kekejian? Mungkin saja bagi orang lain biarkan saja ketika sudah kepalang terjadi, tapi beda denganku yang masih sangat menyayangi keluarga. Dulu jadi wanita nakal demi memenuhi semua kebutuhan mereka, namun apa harus terbalas dengan keburukan juga, ketika dilakukan orang yang paling dekat sekalipun.
Jika sedang berada di dalam sebuah hubungan terlarang, maka hanya terpikir akan mulai mendapat sebuah jalinan kedekatan keluarga mulai diambang kehancuran. Tidak jarang, jika orang lain akan melihatku lebih menarik, tapi apakah harus menjerat keluarga sendiri? Ini sungguh-sungguh diluar dugaan, bahkan berharap hanya mimpi belaka.
"Kenapa ini semua terjadi padaku? Apakah kesalahanku sudah terlalu menumpuk, sehingga dibalas dengan hal menjijikkan begini?" Hanya bisa merenungi nasib.
Setelah puas melampiaskan h*sr*tnya, dia yang kubenci sekarang tengah tertidur pulas disampingku, dengan suara dengkuran yang membuat panas telinga saja. Ikatan tangan masih bertengger. Tubuh diselimutinya disebatas dada. Tidak ada sehelai benangpun menempel ditubuh. Dia tadi terus membabi buta secara kasar dan memaksa menenggelamkan diri ini dalam kepuasannya.
"Ah, andaikan nasib tidak tertekan mencari uang, mungkin tubuhku tidak akan tercicipi oleh para pria dan mendapat kehinaan begini? Walau ribuan jarum tertusuk, maka aku akan siap jika bisa menebus kesalahan pada semua keluargaku," Didalam hati terus menyesal.
"Ibu, apa yang harus kulakukan dan katakan padamu mengenai masalah ini?" Menjambak rambut kuat ketika sudah pusing akut.
Berkali-kaki berontak dan menolak ajakan kak Ijal, tetapi yang kudapat justru tamparan, makian, bahkan gigitan ganas dia tanamkan. Tubuh mulai lelah dan ngilu. Dia begitu agresif sampai aku tak sadarkan diri. Entah, berapa lama dia terus menyentuh tiap inci tubuh, yang jelas ketika membuka mata rasanya pegal-pegal hingga membuat tergolek tak berdaya. Kini hanya isak tangisan mengiringi malam yang tak diinginkan.
Berusaha melepaskan diri dengan cara mengigit ikatan. Setelah sekian menit bersusah payah melepaskan tali kain, akhirnya berhasil juga. Kaki berusaha berpijak dikeramik, tapi ketakperdayaan ini terasa meringankan tubuh.
Segera kupungut baju yang terbuang disembarang arah. Memakainya dengan tangan gemetaran. Terlalu lemah seperti kurang nutrisi serta energi. Langkah gontai sambil terhuyung-huyung ingin ambruk saja.
Berlari ke kamar mandi. Air kran terputar, yang siap membasi tubuh yang kotor. Tetesan embun telah bercampur dengan air. Gemericiknya begitu mengalun keras, seolah-olah sedang bahagia melihat penderitaan yang menimpa sekarang. Rambut terurai menutupi wajah. Titikan air jatuh begitu tenang, berbeda sekali dengan genangan airmata yang tak terbendung lagi alirannya.
Terduduk yang tak kuat menopang tubuh sendiri. Membekap wajah dengan tangan. Isakkan semakin memilukan. Tidak ada yang bisa menolong sekarang, sebab banyak yang tidak akan percaya atas apa yang barusan kualami dalam rumah sendiri.
__ADS_1
********
Senja terus menguning. Awan yang akan berubah gelap mulai menyonsong. Banyak rumah yang mulai ditutup, bahkan anak-anak tak lagi terdengar suara mereka, ketika diatas langit mulai kemerah-merahan.
Tidak ada makanan yang termakan sejak kejadian tadi malam. Terus saja merenung dan meratapi nasib. Selalu berpikir mau ditaruh mana muka ini, dan bagaimana menghadapi para keluarga suatu saat nanti. Walau ini bukan pengalaman pertama dijamah oleh pria, namun bagiku ini adalah masalah yang dahsyat dan akan sangat menampar kehormatan keluarga.
Tatapan terus kosong. Bayangan akan malam menjijikan, terus saja terlintas dipikiran. Tangan itu terasa masih menyentuh secara kurang ajar. Senyuman kemenangannya membuat ingin muntah saja, sampai aku ingin menelan air putih saja tak mampu.
Tok ... tok, pintu diketuk. Masih saja fokus menatap awan. Tak ingin melihat siapa yang datang. Pasti si b*jingan itu yang ingin menghampiri. Tidak ingin menyapa, sebab takut diolok-olok dan dia puas mentertawakan.
"Hei, Nak. Kenapa kamu malah bengong begini? Apa kamu tidak mau menyambut Ibumu datang?"
Rasanya malas saja ingin sekedar menyapa beliau.
"Woi, apa kamu budeg, ya. Ibumu ini lagi ngajak bicara. Kenapa malah diam kayak patung saja sih!" Beliau mulai kesal.
"Lagi malas saja, Bu."
"Tumben malas. Biasanya cerewet dan selalu paling kayak gledek suara kamu."
"Hmm, lagi hemat energi."
"Duh, kamu kenapa? Kok lemas begitu? Apa kau sedang sakit?"
__ADS_1
Telapak tangan keriput itu ditempelkan dikening, pasti mau memastikan saja.
"Tidak ada. Aku baik-baik saja."
"Tapi kenapa sikap kamu aneh begini? Tidak seperti biasanya. Lalu kalau tidak sakit kenapa mulut kayak dikunci begitu?" Kecurigaan beliau.
"Maaf, Bu. Moodku lagi tidak baik dan saat ini sedang malas bicara saja."
"Oh, gitu. Atau kamu sekarang sedang ada masalah sama kerjaan?"
"Tidak juga, Bu."
"Terus kenapa? Aneh bangetlah sama sikapmu yang tiba-tiba jadi diam begini."
"Aku baik-baik saja, dan Ibu tidak usah khawatir berlebihan begitu. Aku hanya butuh istirahat saja sebab capek dan terlalu kelelahan."
Jangan sampai beliau tahu, kalau hati, pikiran, perasaan, tubuh sekarang semua terasa lelah.
"Ya sudah kalau begitu. Kamu istirahat saja. Tapi sebelum itu makan dan ambil kue yang diberikan dari keluarga kita yang jadi nikah kemarin. Enak loh! Itu kesukaanmu."
"Iya, Bu! Nanti akan kumakan," jawab tak melihat wajah beliau, sebab pikiran melayang kemana-mana.
Suara cerewetnya sudah tak terdengar lagi, yang bisa dipastikan beliau sudah undur diri. Embun ingin membobol pertahan. Peristiwa malam laknat itu kembali menghantui. Rasanya selalu dikejar oleh rasa bersalah, namun untuk mengungkapkan hanya bisa memendamnya dalam hati.
__ADS_1