
Mengeryitkan kening terus. Dari gelagat Mas Ijal seperti kebingungan mau menjawab. Tahu sekali, kalau dia sekarang memberikan senyuman palsu.
"Mas? Jawab pertanyaanku!" Mencoba membuyarkan lamunannya.
"Eeh, masalah yang kamu tanyakan tadi sebenarnya cuma salah sangka saja. Aku pucat sebab kecapekan banget nih habis kerja, dan masalah mengendap-endap takut membangunkan tidur nyenyak kamu saja, sih. Ini 'kan sudah malam," Dia nyengir.
"Ya elah, kayak tidak tahu saja. Au mana bisa tidur sementara kamu belum pulang."
"Uluh ... uluh, manisnya istriku ini, sebab setia nunggu suaminya pulang," Menoel hidung dengan penuh mesra.
Dari dulu suka sama sikapnya, yang tahu aku hanya ingin dimanja olehnya. Pertemuan kami ketika tak sengaja belanja di mall. Awalnya kami hanya tabrakan, dan pada pandangan pertama sudah ada sinyal baik. Jatuh hati, tentu saja iya. Siapa sih yang tidak menyukai pria seperti Mas Faisal, sudah berwajah tembem dan berperawakan tinggi. Walau agak hitam, tapi cukup lumayan sebagai pria termanis. Dari situ kami kenalan dan dalam jangka sebulan dia langsung melamarku.
"Ya, iyalah. Berasa tidak tenang saja. Tapi, baju Mas kok berantakan begini? Memang habis ngapain?" Membelai pelan baju yang tidak rapi.
Dia meraihnya, kemudian diturunkanlah tangan ini.
"Ah, sudahlah. Jangan berpikiran yang aneh-aneh lagi. Lebih baik kita tidur saja sekarang. Mas lelah sekali hari ini. Masalah baju tadi, hanya sedang kegerahan dan kubuka kancingnya."
Suami mendorongku agar mau diajak masuk kamar.
"Apa tidak mau makan dulu."
"Tidak usah. Tadi sudah makan dijalan. Mata sudah ngatuk banget nih."
"Iya ... iya, ayo."
Tengah merasakan sesuatu yang tak enak dan tidak tenang. Mau bertanya lebih tentang ini itu, tapi takutnya malah membuat murka sebab sudah seharian kerja.
Selesai menyiapkan baju ganti, lalu kami berdua mulai bersiap menjelajahi alam mimpi. Tidak punya momongan membuat kami bagaikan pasangan pengantin baru, yang tidur selalu berpelukan. Bahkan mengumbar kemesraan diluar rumahpun sering terjadi.
__ADS_1
Malam semakin larut, namun mata enggan juga terkatup. Hanya berguling kanan kiri. Dia tidur membelakangi. Dibalik pungungnya menatap sayu. Dalam hati berkali-kali bertanya, akibat merasakan suatu keganjilan.
"Kenapa aku merasa tak tenang begini? Apakah ada sesuatu yang sedang disembunyikan, Mas Ijal? Firasat apa ini, kok semakin melupakan semakin mencurigai dia?" guman hati gelisah.
Demi bisa tidur, mencoba menjelajahi gawai. Telinga tersempal oleh suara beberapa lagu. Membuka applikasi yang bisa melupakan sejenak rasa gundah gulana ini.
********
Akhir-akhir ini Mas Ijal selalu lembur. Akupun yang belum terbiasa merasa kesepian saja. Biasanya sebelum tidur, kami saling bertukar cerita, namun sekarang hanya ada keheningan malam yang ditemani suara binatang jakrik. Dinginnya angin malam membuatku harus tergulung selimut.
"Hhh, lembur lagi. Kenapa jadi merasa tidak rela saja, ya? Apa mungkin karena kami sering bersama, jadi berasa sendiri begini tidak enak."
"Hhh, sabar, Dita. Suami kamu lagi mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk masa depan yang cerah. Kamu sebagai istri seharusnya jangan terus mengeluh begini, tapi harus memberikan semangat pada suami," Berkeluh kesah pada diri sendiri.
Sebenarnya ada ibu yang bisa diajak ngobrol, tapi tidak suka sama pembahasan beliau yang ujung-ujungnya selalu mengenai uang. Setiap gabut selalu saja harta yang jadi topik utama. Bosan dan kadang bikin dongkol, tapi enaknya pada diri beliau adalah mudah dipengaruhi oleh kata-kata semua anaknya.
Turun dari ranjang. Segera memakai slop. Berjalan menuju tempat air galon ditaruh. Menguncir rambut yang tergerai. Tidur tidak pernah diikat, karena katanya akan mempengaruhi pertumbuhannya.
"Heh, leganya!" Satu gelas besar berhasil membasahi tenggorokan.
Gelas segera kutaruh ditempatnya. Mata mulai ngantuk dan mulut terus menguap. Rasanya sudah tidak kuat lagi menunggu kepulangannya.
Belum sempat memutar knop pintu, telinga tak sengaja mendengar leguhan seorang perempuan.
"Suara siapa itu? Kenapa malam-malam begini ada suara orang bernafas kasar? Emm, iiihhh! Apa jangan-jangan itu suara hantu, ya?" Bulu kuduk mulai merinding.
Karena ketakutan buru-buru masuk kamar. Dibalik pintu masih tergiang suara itu.
"Tapi suara itu kayak nyata banget gitu, ya? Apa jangan-jangan suara orang sungguhan? Tapi siapa? Apa semua berasal dari kamar Anissa?"
__ADS_1
Hawa ketakutan ini terhempas oleh rasa penasaran, maka kaki mencoba melangkah ingin mencari sumber suara itu dari mana.
Tapak kaki mulai berjalan pelan-pelan. Netra dan telinga siap-siap terpasang penuh keseriusan. Dengan hati-hati terus mencari. Kewaspadaan ini membuat penuh keberanian.
"Wah, suaranya beneran dari kamar Anissa?" Mulai mendekati peristirahatan bercatkan putih.
Telinga kupasang dibalik pintu. Mencoba menguping. Betapa terkejutnya diri ini, ketika suara tadi semakin mengema keras didalam. Suara memburu dan des*h*n semakin kuat mengalun. Menutup mulut saat tak percaya, tapi didalam hati cukup menolak apa yang terdengarkan.
"Aah, apakah Anissa sedang enak-enak sama orang lain? Tapi, bukankah tadi pulang sendirian? Terus, kenapa ada suara kenikmatan didalam?"
"Wah, apa yang sebenarnya terjadi? Ini nyata atau hanya pendengaranku saja yang lagi bermasalah?" rancau hati terus saja bertanya-tanya.
Suaranya memang tidak jelas. Kadang tidak ada, tapi dibalik itu juga tiba-tiba ada suara kenikmatan sebuah pertempuran. Akupun dibuat terheran-heran dan tidak percaya. Selama ini, walau Anissa dikenal gonta ganti pasangan, namun tak seorangpun pria dibawanya pulang, jadi aneh saja jika dikamarnya sekarang ada pergumulan dengan pria selain Faisal.
"Ahhhgghhhhh!" Suara leguhan panjang terdengar lemah.
Menutup mulut masih tidak percaya, serta biar tidak ketahuan sedang menyelidiki.
"Astaga, apakah yang kudengar barusan adalah benar?" Masih ragu menebak.
"Aku harus memastikan, kalau barusan nyata. Telinga tidak sakit. Pasti tidak salah lagi kejadian didalam," Keyakinan hati penuh kemantapan.
Tok ... tok ... tok, tanpa basa-basi lagi mengetuknya.
"Anissa, buka! Ini aku" paksaku.
"Nis, buka pintunya."
Tok ... tok, Lama sekali jari ini terbenturkan dipintu, namun sang pemilik kamar lama juga untuk membukanya. Kecurigaan semakin kuat, sebab tidak ada jawaban. Tidak menyerah begitu saja agar bisa masuk, sebab tak ingin rumah dijadikan sarang kebejat*n adik sendiri.
__ADS_1